MAKALAH IMAN KEPADA QADHA DAN QADHAR


BAB I
PENDAHULUAN
Menghadapi kenyatan hidup yang penuh dengan berbagai macam problem memang sungguh sulit untuk menyakini adanya takdir Allah. Hal ini terjadi mungkin karena iman seseorang terhadap Allah, masih ada keraguan atau mungkin belum ada iman sama sekali. Sebaliknya apabila iman seseorang sudah mengakar kuat dalam hati, maka apapun yang diinformasikan oleh Al-Qur’an dan AL-Hadits akan diyakininya dengan sepenuh hati tanpa adanya keraguan sama sekali. Iman seseorang tidak akan bias bertambah tanpa adanya usaha dari seseorang untuk menambahnya, sedangkan salah satu cara untuk menambah iman dalam hati adalah memikirkan semua tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ada di jagad raya ini.
Percaya terhadap takdir Allah merupakan salah satu daripada rukun iman. Sebagaimana sabda rasulullah :






Artinya : “ diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab r.a. beliau bersabda : pada suatu hari, ketika rasulullah SAW, bersama kaum muslimin datang seorang laki-laki kemudian bertanya kepada baginda : wahai Rasulullah! Beritahulah aku tentang iman. Lalu baginda bersabda : kamu hendaklah percaya kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, para Rasul, hari akhir dan percaya kepada Takdir, baik dan buruk semua dari Allah. (HR. Muslim).
Memang segala sesuatu yang ada di jagad raya ini sudah ada ketetapannya di sisi Allah, namun dalam perwujudan ketetapan tersebut, Allah juga menciptakan suatu sebab yang akan menimbulkan akibat (sunnatullah). Dengan demikian jika ada orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat yang mereka lakukan adalah atas kehendak Allah, ini sama bodohnya dengan orang mengatakan bahwa “ saya sedang kelaparan walaupun tanpa makan apabila dikehendaki oleh Allah untuk kenyang, maka saya akan kenyang “begitulah kurang lebihnya gambaran seseorang yang kurang begitu memahami terhadap adanya takdir Allah, manusia akan bertambah giat dan semangat untuk ikhtiar atau berusaha dalam mencapai kesuksesan serta lebih tekun dalam beribadah atau mengabdi kepada sang maha pencipta. Karena manusia tidak pernah mengetahui bagaimana takdir Allah terhadap dirinya, maka manusia harus berusaha dengan sekuat tenaga, bertawakkal dan berdo’a untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, baik tujuan keduniaan maupun keakhiratan.
Qadha dan Qadhar merupakan permasalahan yang sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu, dengan permasalahan itu pula terjadilah perpecahan di kalangan ummat islam hingga akhirnya lahirnya beberapa golongan dalam islam yakni golongan Qadariyah (mu’tazilah), Jabariah dan Asyariyah. 
Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, pada mulanya masalah Qadha dan Qadhar bukanlah permasalahan yang dipisahkan, akan tetpi setelah lahir aliran Qadariyah yang mengingkari adanya Qadhar allah maka jadilah keduanya ( Qadha dan Qadhar) sebagai permasalahan yang disendirikan.

BAB II
IMAN KEPADA QADHA DAN QADHAR
A. Pengertian Qadha dan Qadhar
Pengertian Qadha dan Qadar Menurut bahasa  Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar arti qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Adapun menurut Islam qadar perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Firman Allah:





Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-Furqan ayat 2).

Untuk memperjelas pengertian qadha dan qadar, berikut ini dikemkakan contoh. Saat ini Abdurofi melanjutkan pelajarannya di SMK. Sebelum Abdurofi lahir, bahkan sejak zaman azali Allah telah menetapkan, bahwa seorang anak bernama Abdurofi akan melanjutkan pelajarannya di SMK. Ketetapan Allah di Zaman Azali disebut Qadha. Kenyataan bahwa saat terjadinya disebut qadar atau takdir. Dengan kata lain bahwa qadar adalah perwujudan dari qadha.
Hasbi Ash-shiddieqy setelah menguraikan pendapat pendapat para Ulamah Maturidiyah, Ulama Asyariyah, Ar Raghib dan ahli ilmu kalam yang lain akhirnya menyimpulkan bahwa Qadha itu merupakan ketetapan Allah sedangkan Qadhar adalah rancangan atau ide dasar dari Qadha itu sendiri. Ecara ringkas boleh dikatakan baha Qadhar itu merancangkan sesuatu sedangkan Qadha adalah menetapkan sesuatu.
Hasbi Ash-Shiddieqy juga menjelaskan bahwa qadhar adalah segala sesuatu yang maujud di Lauh Mahfudz, sedangkan Qadha merupakan segala sesuatu yang tercipta (ditetapkan) didalam Ilmu (pengetahuan) Allah yang Maha Tinggi. Selanjutnya Hasbi Ash-Shiddieqy mendefenisikan bahwa Qadha dan Qadhar merupakan hukum dan ketertiban yang telah ditetapkan oleh Allah terhadap sesuatu sifat dan batas yang dikehendaki. (Hasbi Ash-Shiddieqy = Al Islam = 2001 : 300-303)



Artinya : Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya 795; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.
Dengan demikian bias dikatakan Qadha dan Qadhar tersebut setelah terwujud dialam nyata (kehidupan manusia), maka dikatakanlah ini adalah takdir atau dengan kata lain bias dikatakan bahwa takdir adalah nama dari Qadha dan Qadhar.
Sedangkan menurut Sayid Sabiq takdir adalah nama bagi sesuatu yang timbul dan telah ditentukan oleh perbuatan Dzat yang Maha menentukan. 
Takdir adalah meliputi segala yang terjadi atau dialami oleh semua makhluk-Nya. (Qs. Al-Furqan : 2)

B. Hubungan antara Qadha dan Qadhar
Pada uraian tentang pengertian qadha dan qadar dijelaskan bahwa antara qadha dan qadar selalu berhubungan erat . Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah sejak zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah. Jadi hubungan antara qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.
Perbuatan Allah berupa qadar-Nya selalu sesuai dengan ketentuan-Nya. Di dalam surat Al-Hijr ayat 21 Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut: 
Artinya ” Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”
Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu istilah, yaitu
Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebut mengatakan, ”sudah takdir”, maksudnya qadha dan qadar.
Takdir diambil dari kata Qaddara berasal dari akar kata Qadara yang bias dimaknai sebagai mengukur, memberi kadar, atau ukuran. Misalkan apabila dikatakan bahwa Allah telah menakdirkan demikian, maka ini bias diartikan bahwa allah telah menakdirkan demikian, maka ini bias diartikan bahwa Allah telah memberikan kadar atau ukuran / batasan tertentu dalam diri (zat), karakteristik, sifat atau kemampuan maksimal makhluk-Nya. Kadar atau ukuran tersebut sebagaimana telah dikehendaki-Nya yang sesuai dengan perbuatan dari-Nya, segala sesuatu (makhluk)Nya sudah atau pasti mempunyai Takdir. Firman Allah :


Artinya: Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.( Qs. Al-Qamar : 49 ).

C. Kewajiban Beriman Kepada Qadha dan Qadhar
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab yang artinya: Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaekat-malaekat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata” Tuan benar”. (H.R. Muslim)
Lelaki itu adalah Malaekat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh Malaekat Jibril itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu merupakan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak Allah.
Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah atas diri kita. Di dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: ” Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani)
Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang diperbuatnya.
Salah satu sarana untuk meyakini bahwa takdir Allah itu meliputi segala sesuatu adalah dengan cara memperhatikan, memikirkan kemudian merenungkan pada semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita sendiri, lingkungan sekitar maupun yang terjadi di alam semesta. Sedangkan kehendak dan ketetapan Allah yang telah terwujud dalam tata surya kita yang diantaranya mengenai bulan dan matahari yang beredar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam. 
Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Yasin : 38 yaitu :


Artinya: dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
D. Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar
Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut :
”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupny) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud). 
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, seorang pencuri tertangkap dan dibawa kehadapan Khalifah Umar. ” Mengapa engkau mencuri?” tanya Khalifah. Pencuri itu menjawab, ”Memang Allah sudah mentakdirkan saya menjadi pencuri.”
Mendengar jawaban demikian, Khalifah Umar marah, lalu berkata, ” Pukul saja orang ini dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!.” Orang-orang yang ada disitu bertanya, ” Mengapa hukumnya diberatkan seperti itu?”Khalifah Umar menjawab, ”Ya, itulah yang setimpal. Ia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta atas nama Allah”.
Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah”. 
Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.
Mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat, bahwa takdir itu ada dua macam :
1.Takdir mua’llaq: yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman: 
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S Ar-Ra’d ayat 11)
2.Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.
Pendapat Mu’tazilahmempunyai beberapa alasan antara lain:
Manusia mempunyai akal dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk membedakan antara gerak ikhtiariah dan idhtirariah suatu tindakan yang di luar jangkauan akal dan pengetahuan manusia, misalkan : gerak orang mengigau pada saat orang tidur, menggigil dikala kedinginan.
Manusia mempunyai kewajiban untuk menjalankan syariat agama, perbuatan manusia kadang selalu mengarah kepada kezaliman (dosa), itulah sebabnya Allah mengutus Rasul atau Nabi untuk memberi petunjuk agar manusia bias membedakan antara yang hak dan yang bathil. Apabila manusia mengerjakan Sesutu kesalahan akan mendapat siksa dan dan mendapat pahala bila mengerjakan kebaikan (takwa), sungguh naif bila perbuatan dosa yang dilakukan manusia merupakan kehendak Allah. Bila demikian maka tidak ada fungsinya Allah mengutus rasul untuk ummat manusia.
Ulama Mu’tazilah mengesampingkan adanya peran kehendak dan kesesuaian dan perbuatan manusia merupakan hasil perhitungan akal manusia sendiri sehingga semua perbuatan yang dilakukannya harus dipertanggung jawabkan sendiri oleh manusia. Apabila melakukan perbuatn dosa maka akan mendapatkan siksa dan apabila bertakwa maka akan mendapatkan pahala. Manusia bias memilih apabila ingin disiksa silahkan berbuat dosa dan apabila ingin mendapatkan pahala silahkan bertaqwa.
Ulama Jabaria
Para ulama pengikut aliran jabaria berpendapat bahwa semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan kehendak dan ketetapan Allah. Manusia tidak mempunyai peran atas segala perbuatannya. Perbuatan baik dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia merupakan Qudrat dan Iradat (kekuasaan atau kehendak) Allah.
Ulama Asy’ariyah
Ulama Asy’ariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kudrat dan iradat yang diciptakan oleh Allah untuk manusia. Bersamaan dengan kudrat dan iradat Allah itulah perbuatan dan kehendak manusia walaupun perbuatan dan kehendak manusia tidak berpengaruh pada Qadha dan Qadhar Allah, karena telah berlaku sunnatullah ( ketetapan sebab akibat) dalam menciptakan perbuatan manusia. Kebersamaan perbuatan dan kehendak manusia dengan kudrat dan iradat Allah itulah yang akan disiksa dan diberi pahala oleh Allah SWT.
Kebebasan manusia atas takdir Allah hanya meliputi perbuatan yang bersifat ikhtiariah, yaitu suatu perbuatan yang menjadi tujuan akal manusia atas dasar kehendak dan pengetahuan manusia, dalam hal ini manusia mempunyai kebebasan atas takdir Allah. Bebas atas takdir allah artinya : karena manusia tidak mengetahui bagaimana takdir allah terhadap dirinya, sebelum terwujud takdir-Nya, maka dengan akal dan pengetahuan yang dilikinya manusia bias memperhitungkan dan memprediksikan setiap kehendak dan perbuatannya. Istilah ini biasa disebut dengan bahasa “ikhtiar atau berusaha”. Artinya kebebasan yang dimiliki manusia semuanya tergantung dari pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya.
Firman Allah dalam Qs. Al-An’am : 125 yaitu:
  



 Artinya: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. 
Yusuf Al-Qadhawi menjelaskan bahwa orang yang dimaksudkan dalam Qs. Al-An’am : 125 adalah orang-orang yang fasiq yakni orang yang apabila telah mendapatkan petunjuk lalu ia mengingkari kebenaran (petunjuk) yang telah diperolehnya, walaupun orang fasiq hatinya telah terkunci mati, akan tetapi mereka mempunyai kebebasan karena sesungguhnya yang mengunci mati hatinya dan petunjuk Allah adalah kefasikannya sendiri bukan karena Allah telah mengunci mati hatinya. Dengan kata lain, Allah telah mengunci mati hatinya. Oarang fasiq karena disebabkan oleh kefasikannya sendiri. 
Hal ini sesuai dengan penjelasan allah dalam surat Ash-Shaff ayat 5 dan An-Nisa : 155, yang mengatakan bahwa allah tidak menciptakan sebuah hati yang terkunci mati sebagai kafir akan tetapi allah menghukum orang yang kafir yang sangat keras kepala dengan memberikan stempel pada hatinya sebagai kafir, yang disebabkan oleh kekafirannya sendiri.(Yusuf Al Qardhawi Takdir =  2000 = 157-166).

Sementara itu Sayid Sabiq juga berkomentar bahwa hidayah yang diperoleh manusia adalah hasil perbuatan baik dan buruk (durhaka) yang dilakukan oleh manusia. 
(Sayid Sabig : Aqidah Islam, 1995:168-171) 
E. Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar
Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah tersebut antara lain: 
1.Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian 
Artinya:”dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ”( QS. An-Nahl ayat 53).
2.Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS.Yusuf ayat 87)
Sabda Rasulullah: yang artinya” Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sebiji sawi dari sifat kesombongan.”( HR. Muslim)
3.Memupuk sifat optimis dan giat bekerja 
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu.
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)
4.Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi. 


Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.( QS. Al-Fajr ayat 27-30)
F. Pengaruh Iman Terhadap Qadha dan Qadhar
Sesungguhnya setiap mukmin,jika benar pemahamannya tentang hakikat Qadha dan Qadhar, akan yakin bahwa setiap kenikmatan yang diperolehnya dan setiap musibah yang menimpanya merupakan perkara yang direncanakan Allah SWT. Semua itu terlaksana dengan Qadhanya terbatasi oleh takdirnya, dan terlaksna dengan Qudrahnya. Semua itu selaras dengan sifat-Nya yang ada, dianta ilmu-Nya, Hikmah-Nya, Rahmat-Nya, dan Keadilan-Nya.
Firman Allah Qs. Al-Baqarah : 216 yaitu:


Artinya : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 
Jika seorang mukmin meyakini dan memahami masalah ini dengan benar, maka akan tenanglah hatinya dalam menghadapi segala sesuatu di jagad raya. Ia tidak memiliki daya, upaya, atupun wewenang mengurusnya. Ia merasa rela terhadap segala tujuan Allah baik yang menyenagkan ataupun yang tidak. Akan naiklah derajat kecintaan-Nya kepada Rabb-Nya dan ia berusaha dan semakin mendekat kepada-Nya.
Seorang mukmin yang benar imannya dalam   kecintaanya kepada Allah dengan derajat yang tinggi-akan berkata, “aku rela Allah sebagai tuhanku dan aku rela dengan Qadha-Nya sebagai vonis karena sesungguhnya dialah pelindungku, dn cukuplah bagiku dia sebagai penolongku karena dia adalah sebaik-baik penolong”. Maka pada saat itu juga Allah memenuhi hatiya dengan kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan didapatnya dari kesenangan duniawi.
Ketika kaum muslimin yang terdahulu memiliki akidah semacam itu, maka mereka menjadi tuan dan penguasa (pemimpin) dan merupakan sebaik-baik ummat yang dilahirkan Allah di muka bumi. Serta dapat mewujudkan hakikat kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.umar Bin Khattab, mislnya berkata, ”aku tidak peduli mengenai apa yang akan terjadi padaku, apakah yang ku sukai ataukah yang tidak kusukai, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui yang manakah yang terbaik bagiku.  


KESIMPULAN
Majunya ilmu pengetahuan seseorang dapat memprediksikan kebebasan manusia atas takdir Allah. Namun manusia juga tidak pernah lepas dari Qadha dan Qadhar (takdir) Allah. Dengan kemampuan akal dan takdir yang dimiliki. Artinya, walaupun manusia mempunyai kebebasan takdir Allah namun manusia juga tidak akan pernah dapat melampaui batas ketentuan dan ketetapan Allah. Karena ketentuan dan ketetapan Allah terhadap manusia sudah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah, sebelum manusia itu sendiri diciptakan sesuai dengan Qadha dan Qadharnya di dalam pengetahuan dan kekuasaan-Nya.


DAFTAR PUSTAKA
1. Bustaman Ismail, Iman Kepada Qadha Dan Qadhar, bekasi : 2007. http://hbis.wordpress.com/2007/12/10/iman-kepada-qadha-dan-qadhar/
2. Sutrisna sumadi, Rafiudin, kebebasan Manusia Atas Takdir Alla, Jakarta : Pustaka Kuantum Prima 2003.