MAKALAH PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN



PENDAHULUAN
Tidaklah tersembumyi bagi siapapun juga bahwa tiap-tiap sesuatu dan ada kadarnya. Demikianlah sunnatullah didalam alam ini. Sejarah adalah saksi yang benar menetapkan kebenaran ini. Seseorang ahli sejarah yang hendak menggali sesuatu dari perkembangan sejarah harus mengetahui sebab-sebab kejadian dan pendorong-pendorongnya, jika dia ingin mengetahui hakikat sejarah itu sebenaranya, bukan sejarah saja yang memerlukan hal demikian, ilmu-ilmu tabi’at, ilmu-ilmu kemasyarakatan dan kebudayaan serta kesusastraan juga memerlukan sebab dan musabab.
Turunnya AlQur’an merupakan suatu kejadian yang sangat mengagetkan sekaligus menggembirakan hati Rasulullah SAW. Sebagaimana turunnya Surat Al-‘alaq(ayat:1-5), Nabi Muhammad SAW  dalam menerimanya sangatlah berat karena karena diturunkan lewat perantara malaikat jibril sesosok yang membuat Nabi SAW ketakutan. Saat malaikat jibril menyampaikan wahyu tersebut, Rasullullah juga merasa keberatan karena tidak bisa melaksakan apa yang diperintah malaikat jibril. Tetapi setelah berkali-kali malaikat jibril mengulang akhirnya Rasullah SAW dapat menerimanya. Begitupun saat menerima ayat-ayat yang lain, Rasulullah selalu merasa ketakutan dengan segala sesuatu yang mengiringi ayat-ayat tersebut.
Begitu sulitnya Rasulullah dalam menerima wahyu membuktikan kalau peristiwa turunnya Al Qur’an merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa dan juga merupakan suatu . Dengan turunnya Al Qur’an berarti banyak hal yang perlu dikaji lebih mendalam lagi, baik dari segi sebab-sebab turunnya atau yang sering disebut Asbabun Nuzul maupun proses turunnya Al Qur’an itu sendiri.
Dalam Makalah ini pembahasannya hanya terkait tentang proses turunnya Al Qur’an saja atau yang sering disebut ilmu nuzulul Qur’an.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN TURUNNYA AL QUR’AN
Secara majazi turunnya Al-Qur’an diartikan sebagai pemberitahuan dengan cara dan sarana yang dikehendaki Allah SWT sehingga dapat diketahui oleh para malaikat bi lauhil mahfudz dan oleh nabi Muhammad SAW didalam hatinya yang suci.
Adapun tentang kayfiyat Al-Qur’an itu di turunkan telah terjadi penyelisihan antara para ulama. Dalam hal ini ada tiga pendapat :
1.    Al-Qur’an itu diturunkan ke langit dunia pada malam al-qadr sekaligus lengkap dari awal sampai akhir. Kemudian diturunkan berangsur-angsur sesudah itu dalam tempo 20 tahun atau 23 tahun atau 25 tahun berdasarkan pada perselisihan yang terjadi tentang berapa lama nabi bermukim di mekkah sesudah beliau di angkat menjadi rasul. Pendapat ini berpegang pada riwayat Ath Thabary dari Ibnu abbas beliau berkata “diturunkan Al-Qur’an dalam lailatul qadr dalam bulan ramadhan ke langit dunia sekaligus semuanya, kemudian dari sana (langit) diturunkan sedikit sedikit kedunia”. Dari segi isnad riwayat tersebut kurang kuat akan tetapi boleh di gunakan[1]
2.    Al-Qur’an itu di turunkan ke langit dunia dalam 20 kali lailatul qadr dalam 20 tahun atau 23 kali lailatul qadr dalam 23 tahun atau 25 kali lailatul qadr dalam 25 tahun. Pada tiap-tiap malam diturunkan ke langit dunia tersebut, sekedar yang hendak di turunkan dalam tahun itu kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara berangsur-angsur.
3.    Al-Qur’an itu permulaan turunnya ialah di malm al qadr, kemudian diturunkan setelah itu dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu.
Adapula pendapat bahwa Al-Qur”an di turunkan tiga kali dalam tiga tingkat:
1.    Di turunkan ke lauhil mahfudz.
2.    Di turunkan ke baitul izzah di langit dunia.
3.    Di turunkan berangsur-angsur kedunia.
Meski sanad nya shoheh, Dr. Subhi as Sholeh menolak pendapat di atas tersebut karena turunnya Al-Qur’an yang demikian itu termasuk bidang yang ghaib dan juga berlawanan dengan dzahir Al-Qur’an.[2]
Menurut pendapat ulama jumhur, bahwa ”lafadz Al-Qur’an tertulis di lauhil mahfudz lalu di pindah dan di turunkan ke bumi”, dengan demikian tidak ada lagi lafadz-lafadz Al-Qur’an. Di lauhil mahfudz. Menurut pendapat Hasby Ash-Shiddiqie yang di nukil bukan lafazd yang ter ma’tub, hanya di salin lalu di turunkan. Hal ini sama dengan orang yang nenghapal isi kitab Al-Qur’an, isi kitab tetap berada dalam kitab yang di salin dalam hapalan pun persis sebagai mana yang tertulis dalam kitab Al-Qur’an itu.
Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun  2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 dhulhijjah Haji wada’ tahun  63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.[3] Permulaan turunnya Al-Qur’an ketika Nabi SAW bertahannus (beribadah) di Gua Hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan perantara Jibril Al-Amin dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an Hakim. Surat yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Sebelum wahyu diturunkan telah turun sebagian irhas (tanda dan dalil) sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dengan sanad dari Aisyah yang menunjukkan akan datangnya wahyu dan bukti nubuwwah bagi rasul SAW yang mulia. Diantara tanda-tanda tersebut adalah mimpi yang benar di kala beliau tidur dan kecintaan beliau untuk menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya.
Al-Qur’an diturunkan  pada bulan ramadhan berdasarkan nash yang  jelas yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah  ayat 185 :
ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tAÌ“Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù y‰Íky­ ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£‰Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4†n?tã $tB öNä31y‰yd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  “

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap, yaitu : [4]
Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruuj : 21-22
”Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al- Qur’an  yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
dan Q.S Al-Waqi’ah :77-80 yang artinya : ”Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan,  Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia. Diisyaratkan dalam: Q.S Al-Qadar: 1, ”Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.
dan pada QS Ad-Dhuhan:3,  “Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.
Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati Nabi melalui malaikat Jibril dengan cara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan kadang-kadang satu surat. Diisyaratkan dalam Surat Ass-Syu’ara’ 193-195, “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas”

B.  AYAT YANG PERMULAAN DITURUNKAN
Tentang ayat-ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut pendapat yang terkuat ialah ayat permulaan surah Al-alaq
ù&tø%$# ÉOó™$$Î y7Înu‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7šu‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ 
Ayat-ayat tersebut diturunkan ketika Rasulullah SAW. Berada di gua Hira, yaitu disebuah gua di Jabal Nur, yang terletak kira-kira 3 mil dari kota Mekah. Terjadi pada malam hari senin, tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriah, bertepatan dengan bulan juli tahun 610 M. malm turunnya Al-Qur’an itu disebut”lailatul qadr”atau “lailatul mubarakah” yaitu suatu malm kemulian dan keberkahan hal ini termaktub didalam Al-qur’an sebagai berikut:
!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû Ï's#ø‹s9 Í‘ô‰s)ø9$# ÇÊÈ  
Bahwasanya kami telah menurunkannya(Al-qur’an pertama kali) pada malm lailatul qadr (QS. Al-Qadr ayat 1)
!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû 7's#ø‹s9 >px.t»t6•B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍ‘É‹ZãB ÇÌÈ  
Sesungguhnya kami telah menurunkannya ( AL-Qur’an pertama kali) pada lailatul mubarakah.(QS. Ad-Dukhan ayat 3)
Saat turunnya al-qur’an pertama kali itu disebut Yaumul Furqan ialah karna Al-qur’an itu membawa ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang jelas, yang memberikan batas yang terang antara yang haq dan yang bathil, antara yang salah dan benar, dan antara yang halal dan yang haram.
Di samping itu ada ulama berpendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat al-qur’an yang pertama kali diturunkan ialah surah al-fatihah. syekh Muhammad Abduh menguatkan pendapat ini dengan beberapa alasan, yaitu:
1.    Dengan memperhatikan surah al-fatihah itu yang seolah-olah yang mencakup segala pokok-poko isi al-qur’an itu secara garis besarnya, sehingga apa-apa yang tersebut dalam surah-surah berikutnya adalah merupakan keterangan perincian bagi pokok-pokok yang telah disebutkan dalam surst Al-Fatihah itu. Dengan demikian ia Preambule bagi Alqur’an seluruhnya.
2.    Boleh jadi karena fungsinya sebagai preambule tersebut itu maka nabi memerintahkan supaya surah al-fatihah itu dicantumkan pada permulaan Al-Qur’an.
3.    Memang ada hadist yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam kitab ”Dalailun nubuwwah” yang menerangkan hal itu.
Akan tetapi ada pendapat lain lagi yang menyatakan bahwa ayat yang mula-mula diturunkan surah Ad-Dhuha. Dan ada pula yang mengatakan ayat yang mula-mula yang diturunkan surah Al-Mudatstsir. Bahkan ada pula yang mengatakan ayat-ayat surah Al-muzammil.

C.  MASA TERPUTUSNYA WAHYU
Apabila kita perhatikan dari riwayat hidup Rasulullah berdasarkan riwayat-riwayat yang terkuat maka kita akan dapat kesimpulan bahwa ayat yang permulaan yang diturunkan memanglah lima ayat permulaan surah Al-alaq kemudian ketika surah Al-mudatstsir. Kemudian setelah itu wahyu mpun terputus, beliau tidak pernah lagi menerima wahyu dalam waktu yang agak lama. Nabi amat merasa sedih dan gelisah karna terputusnya wahyu tersebut, karna justru hal itu terjadi pada saat beliau mulai melaksanakan tugas yang amat berat, dimana beliau memerlukan tuntunan-tuntunan dari tuhan, apalagi untuk menghadapi rintangan-rintangan dari pihak lawan bahkan timbul keragu-raguan dalam hati Nabi, apakah Allah benar-benar mengangkat beliau sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Kalau benar, mengapa kini wahyu terputus, justru saat beliau sangat memerlukan dan merindukannya? Kesdihan, kegelisahan dan kekecewaan itu pada suatu ketika mencapai puncaknya,dimana beliau merasa ditinggalkan oleh Tuhanya sedemikian rupa.
Tetapi akhirnya, kesedihan,kekecewaan dan keraguan itu berakhir juga dengan kembalinya wahyu turun kepada beliau yaitu ayat-ayat surah Ad-duha, yang menggambarkan dengan jelas betapa hebatnya derita bathin yang beliau tanggung dalam masa terputusnya masa-masa itu, dan betapa pula Allah menghibur hati Nabi serta mengingatkan beliau pada masa lampaunya yang dahulunya adalah seseorang yang melarat lalu diberikan kekayaan. Allah juga mengajarkan kepada Nabi bagaimana harus bersikap pada anak yatim dan orang yang meminta-minta. Dan bagaimana mensyukuri nikmat tuhan.
Dengan memperhatikan suasana yang meliputi turunnya surah ad-duha ini dapatlah di simpulkan bahwa surah tersebut adalah surah yang ketiga diturunkan.
D.  HIKMAH TERPUTUSNYA WAHYU
Para ulama menyebutkan hikmah dan terputusnya wahyu itu antara lain ialah:
1.    Supaya lenyap sama sekali rasa takut yang dialami Nabi keika turunnya wahyu pertama kali di Gua Hira’.
2.    Supaya timbul rasa kerinduan dalam hati Nabi untuk kembalinya wahyu kepada beliau setelah terputusnya dalam beberapa waktu.
Hal ini memang terjadi. Di samping timbulnya rasa kecewa dan keragu-raguan beliau tentang kenabian dan kerasulannya, beliau juga mersa rindu untuk mendapat wahyu itu kembali. Pada saat kerinduan itu  begitu hebatnya maka Tuhan menurunkan wahyu surah Ad-Duha ini. Dengan demikian tentramlah hati beliau bahwa Allah benar-benar mengangkatnya menjadi Nabi dan Rasul-Nya.
E.  LAMANYA WAHYU TERPUTUS
Terdapat bermacam-macam pendapat tentang lamanya terputus wahyu: Ada yang mengatakan bahwa wahyu itu terputus selama tiga tahun. Ada pula yang mengatakan dua sengah tahun. Dan ada yang lain berkata empat puluh hari dan ada pula yang menyebutkan lima belas hari. Bahkan ada pula yang berkata, hanya tiga hari saja. Ustadz Al-Khuduri dalam bukunya “ Nurul Yakin” mengatakan bahwa yang terkuat di antara pendapat-pendapat tersebut ialah pendapat yang mengatakan empat puluh hari. Akan tetapi jika kita hubungkan analisa di atas tadi, bahwa surah Ad-Duha itu turun pada waktu bi’tsah Nabi, maka dapatlah dikatakan bahwa Fatratul Wahyi itu berlangsung selama lebih dari dua tahun. Dan timbulnya perbedaan-perbedaan pendapat yang begitu menyolok dalam menentukan masa fatratul Wahyi ini juga kita dapat kita pahami, terutama jika diingat bahwa peristiwa itu terjadi masih pada permulaan islam, disana jumlah kaum uslimin masih sedikit, dan mereka selalu dapat gangguan dari pihak-pihak lawan, sehingga tidak pernah timbul inisiatif pada mereka, atau tidak ada kesempatan secara kronologis dan teratur, tentang peristiwa-peristiwa penting yang mereka hadapi.
F.   CARA-CARA AL-QUR’AN DITURUNKAN
Al-Qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur bukan sekaligus semuanya. Memang sudah diperoleh kenyataan dari dari pemeriksaan yang lengkap, bahwa Al-Qur’an diturunkan menurut keperluan: lima ayat, sepuluh ayat, kadang-kadang lebih dan kadang-kadang hanya setengah ayat.
Ayat-ayat yang sepuluh ayat turunnya, ialah ayat-ayat yang mengkisahkan tentang tuduhan terhadap ’Aisyah dalam surat An-Nur dan ayat-ayat yang dipermulaan surah Al-mu’minun. diantara yang setengah saja diturunkan, ialah firman Allah SWT :
çŽöxî ’Í<'ré& Í‘uŽœØ9$#
“Yang selain dari orang yang mempunyai kemelaratan (halangan)”.(QS An-Nissa :95)
4 ÷bÎ)ur óOçFøÿz \'s#øŠtã t$öq|¡sù ãNä3‹ÏZøóムª!$# `ÏB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù bÎ) uä!$x© 4 žcÎ) ©!$# íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ6ym ÇËÑÈ  
 “Dan jika kamu takut kepapaan, maka kelak Allah akanmengayakan kamu dari keutamaanNya, jika iya kehendaki bahwasanya Allah sangat mengetahui dan sangat bijaksana”.(QS At-Taubah: 28)
Kata An Nakhrawy dalam kitab Al Waqaf adalah Al Qur’an diturunkan secara bercerai-cerai,satu ayat, dua ayat, tiga ayat, empat ayat dan lebih banyak dari itu. Diriwayatkan oleh Baihaqy dari Khalid Ibn Dinar, ujarnya ; “Abul aliyah berkata : pelajarilah Qur’an lima ayat- lima ayat, karena Nabi menerimanya  dari Jibril, lima ayat- lima ayat. Yakni Jibril  lebih menyampaikannya kepada Nabi sejumlah itu, sesudah Nabi menghafalnya, barulah di sampaikan yang lain.
Kata setengah ‘ulama diantara ayat-ayat Al Qur’an, ada yang diturunkan bercerai-bercerai, ada yang diturunkan secara berkumpul-kumpul. Bagian pertama surah itu lebih banyak. Contohnya dalam surah-surah pendek, Iqra’bismi rabbika. Pada permulaan diturunkan hanya sampai kepada Ma lam ya’lam. Wadldluha pada permulaan diturunkan hanya sampai kepada Fatardla. Di antara contoh yang diturunkanberkumpul, ya’ni sepenuh surat diturunkan sekaligus ialah surat Al-Fatihah, Al Ikhlas, Al Kautsar, Tabbat,Lam yakun, An Nasr dan Al Mu’auwidzatani. Di antara surat yang panjang yang diturunkan sekaligus ialah surah Al Mursalat.
G. HIKMAH AL-QUR’AN DITURUNKAN SECARA BERANGSUR-ANGSUR
“bila orang bertanya, apakah rahasia yang terkandung dalam menurunkan Al-Qur’an berangsur-angsur dan mengapakah tidak sekaligus semuanya seperti kitab-kitab Samawy yang lain ?”, maka kami menjawab : “pertanyaan yang demikian telah dijawab Allah sendiri dalam firmanNya :
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌh“çR Ïmø‹n=tã ãb#uäöà)ø9$# \'s#÷Häd Zoy‰Ïnºur 4
“Dan berkatalah segala orang yang kafir: apakah gerangan sebabnya tiada diturunkan Al-Quran sekaligus semuanya”. (Q.A. 32. S. 25 : al Furqan)
Mereka bermaksud, mengapa tidak diturunkan Al-Qur’an sebagai diturunkan kitab-kitab yang lain ?
Tuhan berfirman :
4... y7Ï9ºx‹Ÿ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ x8yŠ#xsèù (

“sedemikianlah (kami turunkan dia berangsur-angsur) untuk kami kuatkan dengan dia hati engkau”.(Q.A 32. S 25 : Al-Furqan)
Diantara hikmah diturunkannya al-qur’an secara bertahap:[5]
1.    Meneguhkan hati Rasulullah saw. Dalam melaksanakan tugasnya, kendati ia menghadapi hambatan dan tantangan (QS. Al-Furqon: 32-33). Disamping itu dapat juga menghibur hati beliau pada saat menghadapi kesulitan, kesedihan atau perlawanan dari orag-orang kafir (QS. Al-Ahqof:5), dan sebaginya.
2.    Untuk memudahkan nabi saw. Dalam menghafal lafad al-Qur’an, mengingat al-Qur’an bukan sya’ir atau prosa, tetapi kalam Allah yang sanagat berbobot isi maknanya, sehingga memerlukan hafalan dan kajian secara kusus.
3.     Agar mudah dimengerti dan dilaksanakan segala isinya oleh umat islam.
4.    Di antara ayat-ayat al-Qur’an, menurut ulama’ ada yang nasikh dan ada yang mansukh , sesuai dengan kemaslahatan. Hal ini tidak akan jelas jika al-Qur’an di Nuzulkan secara sekaligus.
5.    Untuk meneguhkan dan menghibur hati umat islam yang hidup semasa semasa dengan nabi.
6.    Untuk memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada umat Islam untuk meninggalkan sikap mental atau tradisi-tradisi jahiliyah yang negatif secara berangsur-angsur.
7.    Al-Qur’an yang di Nuzulkan berulangkali, sebenarnya mengandung kemukjizatan tersendiri. Bahkan hal itu dapat membangkitkan rasa optimisme pada diri Nabi, sebab setiap persoalan yang dihadapi dapat dicarika jalan keluarnya dari penjelasan al-Qur’an
8.    Untuk membuktikan bahwa al-Qur’an benar-benar kalam Allah, bukan kalam Muhammad. Jadi, al-Qur’an secara berangsur-angsur ini utuk menepis anggapan tersebut.
Perlu ditegaskan sedikit, bahwa setengah ulama tidak membenarkan bahwa kitab-kitab yang lain dari Al Qur’an, semuanya diturunkan sekaligus. Memang tak ada dalil yang menyatakan demikian. Maka pendapat yang benar soal ini, semua kitab itu diturunkan bercerai-cerai sebagai Al Qur’an juga.
H.   TEMPO LAMA TURUN AL-QUR’AN
Antara permulaan turun al Qur’an dengan penghabisannya, lamanya dua puluh tahun atau dua puluh tiga tahun. Ini berdasarkan kepada perselisihan tentang berapa lama Nabi bermukim di makkah sesudah beliau diutus.  Memang para ulama berselisihant paham tentang lamanya Nabi bermukim di makkah sesudah beliau diutus. Pad satitu mereka sepakat  menepatkan, bahwa lama Nabi bermukim di madinah sepuluh tahun.
Al Ustadz Al Khudlary dalam Tarikh Tasyri’ menetapkan bahwa lama tempo Nuzulul Qur’an dari permulaannya sehingga penghabisannya,  22 tahun 2 bulan 22 hari , ya’ni dari malam 17 ramadhan tahun  41 dari Millad Nabi, hingga 9 Dzulhijjah hari haji Akbar
I.     AYAT YANG TERAKHIR TURUN
Pertama, ada yang mangatakan bahwa ayat yang terakhir turunnya ialah ayat yang mengenai riba. Menurut hadis bukhari dan ibnu abbas katanya, ayat terakhir diturunkan tuhan kepada muhammad SAW ialah ayat riba. Yang dimksud dengannya itu ialah firman tuhan yang berbunyi;
$yg•ƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râ‘sŒur $tB u’Å+t z`ÏB (##qtÌh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇËÐÑÈ  
Hai orang orang beriman, bertakwalah kamu kepada allah dan tinggalkanlah riba, (QS albaqarah:278)
Kedua, ada pula yang mengatakan bahwa ayat terakhir turun Allah berfirman;
(#qà)¨?$#ur $YBöqtƒ šcqãèy_öè? ÏmŠÏù ’n<Î) «!$# ( §NèO 4†¯ûuqè? ‘@ä. <§øÿtR $¨B ôMt6|¡Ÿ2 öNèdur Ÿw tbqãKn=ôàムÇËÑÊÈ  
Dan periharalah dirimu (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. (QS Al-Baqarah: 281)
Ketiga, ada pula yang mengatakan ayat tentang utang-piutang, ayat itu berbunyi:
$yg•ƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#y‰s? Aûøïy‰Î #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B çnqç7çFò2$$sù 4
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah, tdak secara tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannya. (QS Al-Baqarah 282)
Keempat,ada pula yang mengatakan ayat terakhir turun, Allah berfirman:
y7tRqçFøÿtGó¡o„ È@è% ª!$# öNà6‹ÏFøÿム’Îû Ï's#»n=s3ø9$#
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (QS An-Nisa :176)
Kelima,ada pula yang mengatakan ayat terakhir turun, firman Allah;
ô‰s)s9 öNà2uä!%y` Ñ^qß™u‘ ô`ÏiB öNà6Å¡àÿRr& . . . . .
Sesungguhnya telah datang kepadamu  seorang rasul dari golongan kamu sendiri, (QS At-Taubah: 128-129)
Keenam, ada pula yang mengatakan surah al-maidah
Ketujuh, ada pula yang mengatakan, firman Allah:
z>$yftFó™$$sù öNßgs9 öNßgšu‘ ’ÎoTr& Iw ßì‹ÅÊé& Ÿ@uHxå 9@ÏJ»tã Nä3YÏiB `ÏiB @x.sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& ( Nä3àÒ÷èt .`ÏiB <Ù÷èt (
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. (QS Ali-imran: 195)
Kedelapan, ada pula yang mengatakan, firman Allah:
`tBur ö@çFø)tƒ $YYÏB÷sãB #Y‰ÏdJyètG•B ¼çnät!#t“yfsù ÞO¨Yygy_ #V$Î#»yz $pkŽÏù |=ÅÒxîur ª!$# Ïmø‹n=tã ¼çmuZyès9ur £‰tãr&ur ¼çms9 $¹#x‹tã $VJŠÏàtã ÇÒÌÈ  
dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS An-Nisa: 93)
Sembilan, hadits ibnu abbas RA mengatakan bahwa ayat yang  terakhir diturunkan:
#sŒÎ) uä!$y_ ãóÁtR «!$# ßx÷Gxÿø9$#ur ÇÊÈ  
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. (QS An-Nasr: 1)
Kesepuluh, ada pula yang mengatakan, firman Allah:
4 tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# ’Îû >p|ÁuKøƒxC uŽöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b}   ¨bÎ*sù ©!$# Ö‘qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÈ  
pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-Maidah: 3)
Menurut ijtihad para ulama ayat yang kesepuluh lah yang paling banyak kesepakatan karna ayat ini turun  diarafah pada tahun haji wada’. Pada akhirnnya menunjukan kesempatan segala yang fardu dan hukum-hukum, dan menunjukan kesempurnaan agama. Allah telah mencukupkan nikmatnya dari negri haram mkengalahkan orang musyrik.
Kata Qadhi Abu Bakar Al-barkani dam kitabnya Al-Intisar, mengatakan mengenai perbedaan riwayat ayat terakhir turun diatas tidak ada satu juapun yang bersumber dari Nabi SAW. Oleh karena itu orang boleh melakukan ijtihat dan membuang hal-hal yang masih diragukan. Barang kali tiap-tiap orang memberitakan tentang apa yang didengarnya dari nabi pda hari wafatnya,atau beberapa hari sebelum wafat.selain itu ada pula orang yang mengatakan katanya dia pernah mendengar dari Nabi, padahal ia tidak pernah mendengarkannya sama sekali. Dan barangkali ada pula yang mengatakan ayat inilah yang terakhir dibaca Nabi SAW. Disamping ayat-ayat yang lain turun. Nabi memerintahkan untuk menuliskan ayat-ayat yang terakhir dibacakannya itu

KESIMPULAN
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur berupa beberapa ayat dari sebuah surah atau surat yang pendek secara lengkap. Dan penyampaian Al-Qur’an secara keseluruhan memakan waktu kurang lebih 23 tahun yakni 13 tahun waktu nabi masih tinggal di mekkah, 10 tahun waktu nabi sesudah dimadinah. Alqur’an mulai diturunkan kepada nabi Muhammad pada malam Lailatul-Qadar tanggal 17 Ramadhan pada waktu Nabi telah berusia 41 tahun bertepatan pada tanggal 6 agustus 610 Masehi.
Wahyu yang pertama-tama kali diterima Nabi ialah ayat 1 smpai dengan 5 surat Al-Alaq, pada waktu Nabi sedang berada di gua Hira. Sedang, wahyu terakhir yansg diterima Nabi adalah surat Al-Maidah ayat 3 pada tanggal 9 Dzul hijjah tahun ke 10 Hijriah atau 7 Maret 632 Masehi. Antara wahyu pertama dan wahyu terakhir diterima Nabi berselang kurang lebih 23 tahun
DAFTAR PUSTAKA
Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka setia abadi, Bandung: 1997
Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980,
Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta, Jakarta: 1992

Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka cipta, Jakarta: 1993

M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta: 1992

Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti Primayasa, Yogyakarta: 1998

Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta: 1993