Makalah Sumber Materi Pembelajaran Pendidikan Ilmu Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Ilmu sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Yang berkembang sejak kira-kira satu satu setengan abad silam yang sampai saat kini telah menjalani proses pertumbuhan, diversifikasi sampai pada spesialisasinya. Perkembangan ilmu sosial itu sendiri telah menyediakan peluang terhadap aplikasi, perhatian tertentu, atau tematik yang telah membuat ilmu sosial dan sub-ilmunya memiliki ciri dan spesialisasi tertentu. ilmu-ilmu sosial menunjukan pada kumpulan dari berbagai disiplin ilmu yang masuk kedalam rumpun ilmu sosial tersebut. Berbagai disiplin ilmu sosial yang dimaksud adalah: sejarah, sosiologi, ilmu politik, psikologi sosial, filsafat, antropolgi, ekonomi, dan geografi sosial serta ilmu politik maupun kewarganegaraan. Masing-masing disiplin  ilmu sosial tersebut mempunyai struktur keilmuan yang didalamnya tertata konsep, fakta, generalisasi, dan teori. 
    
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud ilmu-ilmu sosial sebagai sumber dan materi IPS, sebutkan konstribusi nya?
2.      Dari manakah sumber pengajaran IPS, sebutkan lingkup nya ?
3.      Apa yang dimaksud pengorganisasian materi pengajaran IPS?
4.      Pendekatan yang bagaimanakah yang digunakan dalampengorganisasian materi IPS?

C.     Tujuan Penulisan
Ø  Agar para mahasiswa dapat lebih mengetahui tentang sumber materi pembelajaran pendidikan ilmu pengetahuan sosial dan pengorganisasiannya.
Ø  Agar mahasiswa khususnya penyusun makalah dapat lebih mendalami tentang apa itu sumber materi pembelajaran pendidikan ilmu pengetahuan sosial dan pengorganisasiannya.

  


BAB II
PEMBAHASAN

1. SUMBER DAN MATERI IPS
1.1. ILMU-ILMU SOSIAL SEBAGAI SUMBER DAN MATERI IPS
            Ilmu- ilmu sosial baru berkembang sejak kira-kira satu setengah abad silam yang sampai saat kini telah menjalani proses pertumbuhan, diversifikasi sampai pada spesialisasinya. Pada mulanya apa yang dipahami sebagai sejumlah gejala ekonomi-politik oleh Adam Smith dan David Ricardo kemudian berkembang menjadi berbagai disiplin ilmu. Pola-pola pikiran para pionir ilmu sosial dari Perancis, Monstesquieu dan de Tocqueville, kemudian pola pikiran itu menjadi perhatian tidak hanya bagi bagi satu disiplin ilmu saja tetapi menjadi salah satu focus perhatian beberapa ilmu.
            Perkembangan ilmu sosial itu sendiri telah menyediakan peluang terhadap aplikasi, perhatian tertentu, atau tematik yang telah membuat ilmu sosial dan sub-ilmunya memiliki ciri dan spesialisasi tertentu. Istilah ilmu sosial mengacu pada rumpun ilmu sosial secara umum, sedangkan ilmu-ilmu sosial menunjukan pada kumpulan dari berbagai disiplin ilmu yang masuk kedalam rumpun ilmu sosial tersebut. Berbagai disiplin ilmu sosial yang dimaksud adalah: sejarah, sosiologi, ilmu politik, psikologi sosial, filsafat, antropolgi, ekonomi, dan geografi sosial serta ilmu politik maupun kewarganegaraan. Masing-masing disiplin  ilmu sosial tersebut mempunyai struktur keilmuan yang didalamnya tertata konsep, fakta, generalisasi, dan teori. Sehingga Jarolimek(1971) menggambarkan hubungan ilmu-ilmu tersebut dengan IPS atau studi sosial sebagai pedukung. Gambar diagram hubungan dimaksud dapat diformulasikan sebagai dibawah ini :
2
  
           Dari formulasi hubungan ilmu-ilmu sosial dengan studi sosial atau IPS tersebut nampak bahwa ilmu sosial merupakan sumber dan materi IPS, karena ilmu sosial memberikan sumbangan berupa fakta, konsep, generalisasi dan teori terhadap IPS untuk dipilih, diramu dan dipadukan sebagai bahan pembelajaran IPS. Baik ilmu sosial maupun IPS sama-sama mengkaji dan menelaah manusia dengan dunia disekelilingnya, termasuk keadaan sosial yang terus dan selalu berubah atau peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi, sehingga keadaan dan peristiwa-peristiwa sosial tersebut peril digunakan sebagai salah satu sumber dan materi IPS.
            Istilah ilmu sosial mengacu pada rumpun ilmu sosial secara umum, sedangkan ilmu-ilmu sosial menunjuk pada kumpulan berbagai disiplin ilmu yang masuk kedalam rumpun ilmu sosial. Berbagai disiplin ilmu ilmu seperti geografi, sejarah, dan lain-lain memiliki struktur keilmuan yang didalamnya tertata fakta, konsep, generalisasi, dan teori.

1.2. MATERI YANG TERKANDUNG DALAM IPS ADA BEBERAPA ASPEK  :
1)      Konsep yaitu suatu idea tau pengertian yang umum. Misal: sumber kekayaan alam yang dapat diperbarui
2)      Prinsip yaitu suatu kebenaran dasar sebagai titik tolak untuk berfikir atau merupakan suatu petunjuk untuk berbuat atau melaksanakan suatu. Misal: hokum moral
3)      Fakta yaitu sesuatu yang telah terjadi atau telah terjadi atau telah di alami. Misal: proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945
4)      Proses yaitu serangkaian perubahan gerakan, perkembangan yang dapat terjadi secara sadar atau tidak disadari dan dapat pula merupakan cara melaksanakan kegiatan operasional. Misal: proses kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia jaman dahulu, proses mencari pekerjaan di kota.
5)      Nilai ( norma) yaitu suatu pola, ukuran, yang berhubungan dengan pengetahuan yang bersifat umum tantang baik dan buruk. Misal: gotong royong
6)      Ketrampilan yaitu kemampuan berbuat sesuatu yang baik
7)      Masalah yaitu sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Misal: masalah kependudukan, pengganguran, dan kenakalan remaja.
            Dari aspek-aspek materi inilah yang kelak akan menumbuhkan perubahan tingkah laku pada peserta didik.untuk itu perlu pengorganisasian pengajaran yang bersifat integrative.
            Dalam pelaksanaan belajar mengajar, pendidikan ilmu sosial manusia dengan lingkunganya dari sudut ilmu sosial ekonomi, politik, budaya pada masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang serta pada lingkungan yang dekat atau jauh dari obyeknya yakni berupa pusat-pusat kegiatan hidup manusia.

1.3. KONSTRIBUSI ILMU-ILMU SOSIAL TERHADAP IPS
            Setiap cabang ilmu-ilmu sosial memiliki sejumlah konsep utama atau konsep kunci. Konsep-konsep tersebut merupakan konstribusi yang berupa generalisasi dan dapat dipilih sebagai materi pokok pembelajaran IPS. Konsep-konsep utama yang dimaksud antara lain :
a) Geografi, yaitu ilmu tentang keadaan permukaan bumi dan penduduknya serta hubungan timbal balik antara manusia dan linkunganya.
Konsepnya : lokasi, kawasan, interaksi keruangan, struktur internal, kota, persepsi lingkungan, distribusi keruangan, dan keterjangkauan.
Konstribusinya : 
Ø  Tempat di permukaan bumi memilki kekhususan yang membedakan dari suatu tempat dari yang lain.
Ø  Pilih yang dibuat oleh manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkunganya tergantung pada nilai budaya, kebutuhan ekonomi. Tingkat penguasaan teknologi dan factor alami.
b) Sejarah, di bagi menjadi dua kategori, yaitu sejarah dalam luas dan dalam arti sempit.
      Sejarah dalam arti luas, yaitu sejarah mewujudkan catatan tentang hal-hal yang pernah dikatakan dan diperbuat manusia.
      Sejarah dalam arti sempit, yaitu yang membatasi diri pada sejarah manusia berdasarkan catatan yang tersedia sampai lima ribu tahun yang lampau.
Konsepnya : perubahan, konflik, revolusi, kebangsaan, peradaban, eksplorasi, dan kemencangan sejarah.
Konstribusinya : 
Ø  Perjuangan manusia memperoleh kemerdekaan dan hak asasi baru berlangsung dalam kurun waktu yang relative singkat dibandingkan dengan keberadaan manusia di dunia.
Ø  Sejarah pemulaan suatu Negara mempunyai pengaruh terhadap kebudayaan, tradisi, kepercayaan, sikap, dan cara hidup warga negaranya.
c) Antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari ragaman dan kesamaan kebudayaan bangsa-bangsa, kelompok masyarakat yang masing-masing memiliki ciri-ciri dan kepribadianya sendiri.
v  Ilmu-ilmu bagian dari antropologi, yaitu:
·         Paleo antropologi, yaitu ilmu bagian yang meneliti asal-usul atau terjadinya dan evolusi manusia dengan mempergunakan sisa-sisa tubuh yang telah membatu tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi yang harus didapat oleh si peneliti dengan berbagai metode penggalian.
·         Antropologi fisik, yaitu bagian dari ilmu antropologi yang mencoba suatu pengertian tentang sejarah terjadinya beragam manusia dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya.
·         Etnolinguistik, yaitu mempelajari kebudayaan manusia dilihat dari tata bahasanya
·         Prehistori, yaitu mempelajari kebudayaan manusia sejak manusia belum mengenal tulisan
·         Etnologi, yaitu ilmu yang mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini
Konsepnya : kebudayaan, unsure kebudayaan, wilayah budaya, enkulturasi, akulturasi, etnosentrisme, dan tradisi.
 Konstribusinya :
Ø  Setiap masyarakat telah membentuk sistem kepercayaan, pengetahuan, nilai, tradisi dan ketrampilan yang disebut kebudayaan masyarakat.
Ø  Seni musik, arsitektur, makanan, dan adat kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan membangun identitas nasionalnya.
d) Sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dalam hubungan dengan kelompok dalam wujud hubungan antar manusia dengan manusia, individu dengan kelompok, bentuk-bentuk lembaganya, susunan masyarakat.
Konsepnya : sosialisasi, masyarakat, interaksi sosial, peranan, norma, nilai, sanksi, status, pranata sosial, dan ketergantungan.
Konstribusinya :
Ø  Kelas sosial selalu terdapat dalam masyarakat, meskipun dasar dari perbedaan kelas dan tingkat keketatan struktur kelas tersebut bervariasi,
Ø  Linkungan sosial seseorang dibesarkan dan dididik serta hidup memberi pengaruh yang mendasar terhadap pertumbuhan atau perkembangan setiap individu.
e) Ekonomi, yaitu ilmu yang mempelajari cara manusia mencukupi kebutuhan hidupnya, meningkatkan kesejahteraan hidupnya secara individu atau kelompok.
Konsepnya : kelangkaan, produksi, barang dan jasa, distribusi, konsumsi, pembagian kerja, pertukaran, pendapat, dan ketergantungan.
Konstribusinya :
Ø  Masyarakat modern melihat kesejahteraan ekonomi sebagai tujuan yang diinginkan oleh anggota masyarakatnya,
Ø  Dalam dunia yang modern, saling ketergantungan antar bangsa menimbulkan terjadinya pertukaran dan perdagangan kebutuhan barang, jasa, dan informasi.
  f)  Psikologi Sosial, yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam masyarakat atau    manusia sebagai anggota masyarakat.
  Konsepnya : konsep diri, motivasi, persepsi, sikap dan frustasi.
Konstribusinya :
Ø  Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh masyarakat tempat ia tinggal atau hidup dalam waktu yang relative lama.
Ø  Setiap orang pernah mengalami frustasi, tetapi tinggi rendahnya frustasi tergantung pada tantangan yang dihadapi dan pengendalian diri.
      g) Ilmu Politik / Ilmu Kewarganegaraan, yaitu ilmu yang mempelajari hak dan kewajiban warga Negara, bela Negara, dan peranan warga Negara yang baik.
      Konsepnya : kontrol sosial, Negara, kekuasaan, legitimasi, warga Negara, loyalitas, kewibawaan, sosialisasi politik, budaya politik, dan sistem politik.
Konstribusinya :
Ø  Pemerintahan yang stabil member kemudahan bagi perkembangan ekonomi dan sosial bangsa.
Ø  Masyarakat demokratis tergantung kepada warga Negara yang secar intelektual dan moral mampu melakukan tindakan pemerintahan.



2.  SUMBER PENGAJAR IPS
2.1. KEADAAN DAN PERISTIWA SOSIAL SEBAGAI SALAH SATU SUMBER PENGAJARAN IPS
      Terdapat kesamaan pandangan dari berbagai, pemerhati dan pelaku atau guru pembelajaran IPS, bahwa dalam rangka pengajaran PIS di sekolah maka berbagai keadaan yang terdapat di lingkungan kehidupan anak didik dan juga berbagai peristiwa sosial yang terdapat di lingkunganya merupakan salah satu sumber pengajaran IPS yang sangat tepat. Dengan mengambil dan mengangkat berbagai keadaan dan peristiwa sosial yang ada dilingkungan di mana anak didik itu tinggal, mengalami, dan bahkan merasakanya, maka materi penrgajaran IPS bagi peserta didik tidak sebagai sesuatu yang abstrak, imajiner dan jauh dari apa yang dilihat dan dialaminya.
      Berdasarkan pengalaman yang didukung oleh teori-teori tentang belajar, bahwa semakin materi pembelajaran itu jauh dari dunia realitas peserta didik maka akan semakin sulit bagi siswa untuk memehaminya. Sebaliknya semakin materi pembelajaran itu mendekati dunia kehidupan nyata dan berbasis pada pengalaman siswa, maka akan semakin mudah siswa atau peserta didik untuk menangkap dan di pahami pesan pembelajaranya. Oleh karenanya, guru IPS yang baik harus berusaha semaksimal munkin mendekatkan dan mengkonkretkan bahan dan materi pembelajaranya dalam bentuk kasus ataupun contoh-contoh yang ada dan dialami oleh anak didiknya.
      Pembelajatran IPS sebagai pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kecakapan sosial peserta didik agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman untuk dipraktikan dalam interaksi dan kehidupan sosial anak memerlukan bahan atau materi pembelajaran yang dekat, fakitual, dan aktual dengan anak dan kehidupanya. Pembelajaran yang demikian akan memotivasi dan mengairahkan anak untuk mencermatinya, karena pembelajaran yang diikuti dirasakan membawa manfaat nyata atau langsung oleh anak.
      Pemilihan topik atau tema sosial yang aktual oleh seorang guru IPS adalah langkah yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam usaha mengairahkan proses pembelajaran IPS di kelas. Oleh karenaya guru IPS mesti mengembangkan minat yang kuat untuk mengakses dan mencermati berbagai informasi, keadaan, dan peristiwa sosial yang ada, untuk selanjutnya dengan jeli mengangkatnya sebagai tema atau topik materi pembelajaran IPS di kelasnya, jika menginginkan pembelajaran IPS nya mengairahkan siswa.
      Di masa sekarang, dengan kemajuan teknologi yang ada serta berbagai kemudahan dan tingkat kesejahteraan guru yang semakin baik, memberikan peluang bagi guru pembelajaran IPS untuk mengakses informasi, keadaan, peristwa sosial yang actual melalui berbagai media informasi canggih, seperti Koran, majalah, radio, televise, internet, dan juga merekamnya dengan telpon seluler, kamera digital, dan berbagai alat yang ada. Guru IPS sekarang dituntut kreatif dan komitmen diri yang tinggi dalam mengemban tugas sebagai guru IPS, sebab berbagai fasilitas sudah tersedia dengan mudah, murah, dan gampang mendapatkanya.
      Keadaan dan peristiwa sosial yang dimaksud dilihat dari lingkup atau kawasanya dapat dikelompokan menjadi :
a)      Lingkup lokal, dengan tempat tinggal siswa atau sekolah, misalnya lingkungan keluarga, RT, RW, atau desa dan kecamatan. Contoh : membuang sampah sembarangan, selokan yang mampet sehingga berpotensi banjir dan sumber penyakit serta polusi bau dengan segala akibatnya dan sebagainya.
b)      Lingkup regional, misal lingkungan kabupaten atau kota, provinsi dimana siswa tinggal atau sekolah berada. Contoh  : kecerobohan dalam berlalu lintas sehingga berakibat terjadinya kecelakaan yang banyak memakan korban dengan segala akibatnya dan sebagainya.
c)      Lingkup nasional, anak mengenal berbagai permasalahan bangsa negaranya. Contoh : korupsi di berbagai level, penyalah gunaan narkoba di berbagai lingkungan seperti kalangan artis, tingginya kriminalitas dan sebagainya.
d)     Linkup internasional atau dunia. Contoh : pelanggaran HAM oleh Negara tertentu, terorisme, penjajahan teknologi, globalisasi dan sebagainya.
      Pemilihan topik atau tema tersebut sebaiknya disesuaikan dengan pokokm bahasan yang akan atau sedang diajarkan, dan berbagai keadaan yang menyita perhatian publik atau masyarakat luas.
      Pembelajaran yang berbasis masyarakat tersebut akan sangat memberikan manfaat yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran IPS di sekolah. Dengan pembelajaran IPS yang berkualitas , mak dimensi-dimensi pendidikan IPS sebagaimana dikemukakan oleh Supriya adalah program IPS yang komprehensif, yaitu program yang mencakup empat dimensi, meliputi: dimensi pengetahuan,dimensi  ketrampilan,dimensi nilai dan sikap, dan dimensi tindakan.

2.2. KARAKTERISTIK MASYARAKAT INDONESIA DAN MASALAH SOSIAL DI INDONESIA
      A. Karakteristik manusia dan masyarakat Indonesia
      PIS atau pendidikan IPS merupakan program pendidikan yang berupaya mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana manusia sebagai individu dan kelompok dapat hidup bersama dan berinteraksi dengan linkunganya(fisik dan sosial). Sebagaimana ditegaskan oleh saidihardjo bahwa PIS seharusnya mendorong siswa secara aktif mampu menelaah dan memahami interaksi antar manusia dengan lingkunganya.
      Menelaah kehidupan manusia yang makin kompleks dewasa ini, yang meliputi permasalahan dan pengembanganya, tidak dapat lagi hanya didasarkan atas pengalaman praktis sehari-hari, melainkan harus dilandasi teori-teori sosial yang dapat memperhitungkan proyeksi kehidupan lebih lanjut. Teori sosial yang diartikan sebagai usaha mengerti hakikat individu dan masyarakat, memerlukan landasan dasat tentang kehidupan manusia dengan segala karakteristiknya.
      Melalu pendidikian ilmu sosial atau pendidikan IPS di sekolah, maka perlu untuk dikenalkan kepada siswa, berbagai karakteristik manusia dan masyarakat Indonesia dengan segala permasalahan yang melingkupinya, sebagai bahan kajian dan sekaligus pengetahuan dalam upaya memehami dan beradaptasi dalam kehidupan bermasyarakat.
      Dengan mengenal dan memahami sifat-sifat manusia, masyarakat, dan bangsa Indonesia baik yang positif maupun yang negatif sekalipun, pada siswa di sekolah akan terbiasa dan tertanam sifat mawas diri dan juga kewaspadaan untuk memilah dan memilih sifat dan karakter bangsanya, yang pada akhirnya akan membentuk jati dirinya.
      Mochtar Lubis dalam bukunya yang berjudul “Manusia Indonesia” mengemukakan berbagai ciri manusia Indonesia, sebagai berikut :
1)      Hipokritis alias munafik. Sifat tersebut dikenalinya sebagai manusia yang yang suka ber pura-pura, ABS ( Asal Bapak Senang), suka dengan berbagai sanjungan, dan semacamnya.
2)      Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatanya, putusanya, kelakuanya, pikiranya, dan sebagainya.
3)      Memiliki jiwa feodalis yang mengakar, sehingga nepotisme dan sangat elergi terhadap kritik yang membangun dan tulus sekalipun.
4)      Masih sangat percaya terhadap takhayul, sehingga cenderung tidak rasional.
5)      Sangat artistik, sehingga menyikapi kehidupanya lebih banyak dengan naluri.
6)      Mempunyai watak yang lemah, sehingga kurang kuat dan berani dalam mempertahankan dan memperjuangkan keyakinanya.
      Disamping enam ciri tersebut , Muchtar Lubis juga mengemukakan ciri-ciri yang lain, sebagai berikut :
1)      Cenderung boros
2)      Tidak suka bekerja keras bila tidak dipaksa
3)      Berjiwa priyayi
4)      Penyabar
5)      Suka menggerutu
6)      Cepat cemburu dan dengki atas keberhasilan orang lain
7)      Cepat bangga dan senang akan segala lambang dan semboyan
8)      Suka berbuat sok
9)      Manusia peniru yang sangat ulung
10)  Cenderung bermalas-malasan
11)  Kepekaan sosialnya rendah
      Selain sifat-sifat yang cenderung negative tersebut, sesungguhnya manusia dan masyarakat Indonesia juga memiliki sifat-sifat yang positif, diantaranya disebut sebagai berikut :
1)      Bersifat logis
2)      Suka bekerja sama, tolong-menolong, dan gotong royong
3)      Mempunyai kemesraan hubungan dengan sesamanya
4)      Mempunyai ikatan kekeluargaan yang sangat kuat
5)      Berhati lembut dan suka damai
6)      Mempunyai rasa humor tinggi
7)      Cepat dalam belajar dan cerdas
8)      Mempunyai kesabaran sangat tinggi
      Berbagai ciri atau sifat yang di kemukakan oleh Muchtar Lubis sebagai mana terurai diatas, baik yangat bernilai negatif maupun positif, tentunya tidak sepenuhnya benar ataupun salah. Hal tersebut karena apa yang dijelaskan Muchtar Lubis hanyalah didasarkan atas pengamatan secara subjektif, sebagai ungkapan kepedulian dan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya dengan cara dan gaya yang khas.
      Berbeda dengan yang terurai diatas, Nasikun mengemukakan tentang sifat unik masyarakat Indonesia, sebagai berikut : struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik yaitu :
1)      Secara horizontal ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial yang berdasarkan perbedaan suku, agama, adat, dan perbedaan kedaerahan.
2)      Secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam atau bisa disebut stratifikasi sosial.
Secara umum, stratifikasi sosial terbagi menjadi dua, yaitu sistem kelas dalam masyarakat modern dan sistem kasta dalam masyarakat agraris yang maju.
Jenis-jenis stratifikasi sosial:
·         Stratifikasi sosial terbuka, yaitu pelapisan atau kelas sosial yang bisa naik dan bisa turun
·         Stratifikasi sosial tertutup, yaitu pelapisan sosial yang tidak bisa naik dan tidak bisa turu. Seperti sistem kasta
            Factor-faktor yang mempengaruhi strativikasi sosial:
§  Usia
§  Ilmu pengetahuan
§  Kekuasaan
§  Kekayaan
      Berbagai pebedaan tersebut sering disebut sebagai cirri masyarakat majemuk yang sangat rentan akan konflik-konflik sosial.
      B. Masalah- Masalah Sosial di Indonesia
      Pendidikan sosial atau IPS idealnya mempunyai andil dalam mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis, yang ditunjukan dengan mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis, yang ditunjukan dengan rendahnya bahkan tidak adanya masalah-masalah sosial yang berarti.
      Untuk menghindari adanya berbagai bias berkaitan dengan pengertian atau terminologi ”Masalah Sosial” serta untuk menuju pemahaman masalah sosial yang objektif dan universal, maka perlu dirumuskan definisi masalah sosial. Apabila masalah sosial didefinisikan menurut pendapat umum, maka fenomena yang dapat dianggap sebagai masalah sosial akan terbatas pada perilaku dan tindakan yang melanggar eksistensi tatanan sosial yang berlaku. Dengan kata lain masalah sosial merupakan manifestasi dan kondisi kehidupan sosial atau perilaku individu yang abnormal. Dalam realitas akademis belum ada kesepakatan dan kesatuan bahasa untuk mendefinisikan suatu gejala pantas disebut sebagai masalah sosial atau bukan. Dalam realita tidak pernah dijumpai suatu kondisi kehidupan masyarakat ideal yang sempurna dimanapun dan kapanpun juga tanpa adanya konflik. Konflik sosial terjadi karena adanya perbedaan pendapat dan tujuan antara dua pihak atau lebih. Hal ini dapat terjadi dalam sebuah pertemuan bisnis. Menurut teori fungsi bahwa hal jelekpun itu ada fungsinya.


      Parrillo, menyatakan bahwa masalah sosial mengandung empat komponen, yaitu :
1)      Kondisi tersebut merupakan masalah yang bertahan untuk suatu periode waktu tertentu. Kondisi yang dianggap sebagai masalah, tetapi dalam waktu singkat kemudian sudah hilang dengan sendirinya, maka tidak termasuk masalah sosial.
2)      Dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau non fisik, baik individu maupun masyarakat.
3)      Merupakan pelanggaran terhadap nilau-nilai atau standard sosial dari salah satu atau beberapa sendi kehidupan masyarakat.
4)      Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan
      Raab dan Selznick, menyatakan bahwa tidak semua masalah dalam kehidupan manusia merupakan masalah sosial. Masalah sosial pada dasarnya adalah masalah yang terjadi dalam antar hubungan diantara warga masyarakat. Masalh sosial terjadi apabila :
1)      Banyak terjadi hubungan antar warga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan penting dari sebagian besar warga masarakat
2)      Organisasi sosial menghadapi ancaman serius karena ketidakmampuan mengatur hubungan antar warga
      Banyak definisi masalah sosial yang telah dikemukakan oleh para pakar sosial, namun pendapat saidihardjo yang paling sederhana dan mudah dipahami. Masalh sosial merupakan masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakat, yang dilihat dari aspek tertentu tidak diinginkan. Masalah sosial merupakan fenomena sosial yang tidak terpuji.
      Masalah-masalah sosial yang timbul dapat disebabkan oleh berbagi factor, yaitu faktor ekonomis, biologis, psikologis, dan kebudayaan. Empat faktor penyebab tersebut dapat memunculkan berbagai masalah sosial pokok, diantaranya :
1)      Masalah kriminalitas
2)      Masalah kependudukan
3)      Masalah kemiskinan
4)      Masalah pelacuran
5)      Masalah lingkungan hidup
      Sedikit berbeda dengan pendapat di atas, Nursid Sumaatmadja, mengelompokan masalah sosial di Indonesia, antara lain :
1)      Masalh kependudukan
2)      Masalah ekonomi
3)      Masalah lingkungan
4)      Masalah pendidikan
5)      Masalah integrasi nasional
      Koentjaraningrat, menyebutkan masalah-masalah sosial tersebut sebagai masalah pembangunan, yaitu :
1)      Masalah penduduk
2)      Masalah struktur masyarakat desa
3)      Masalah migrasi, transmigrasi, dan urbanisasi
4)      Masalah integrasi nasional
5)      Masalah pendidikan dan modernisasi
      Masalah-masalah yang berkaitan dengan integrasi nasional disebutkan oleh koentjaraningrat, sebagai berikut :
1)      Masalah mempersatukan aneka warna suku bangsa
2)      Masalah hubungan antar umat beragama
3)      Masalah hubungan mayoritas-minoritas
4)      Masalah integrasi kebudayaan di Irian Jaya dengan kebudayaan Indonesia
      Selain itu, ada pula masalah yang menurut koentjaraningrat harus mendapatkan porsi perhatian yang memadai dalam upaya membangun harmonisasi kehidupan sosial, sehingga tidak muncul masalah-masalah sosial sebagaimana disebutkan diatas, yaitu bangsa Indonesia belum berorientasi ke masa depan, mentalitas yang belum mengharagai mutu, dan mentalitas suka menerabas.

3. PENGORGANISASIAN MATERI PENGAJARAN IPS
3.1. Pengertian Pengorganisasian Materi Pengajaran
      Pengertian Pengorganisasian Materi Pengajaran yaitu upaya guru mengatur dan menyusun materi pengajaran dan cara menyajikan materi pengajaran sesuai dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai pengorganisasian materi pengajaran memberikan jawab atas pertanyaan pengalaman belajar yang bagaimanakah yang seharusnya diperoleh siswa dalam proses pembelajaranya.
      Pengorganisasian materi adalah kegiatan mengoperasionalkan materi pelajaran yang telah tertuang dalam kurikulum dalam kegiatan pembelajaran riil yang direncanakan oleh guru dalam mencapai kompetisi atau tujuan-tujuan pembelajaranya. Kurikulum menurut Nana Sudjana adalah niat niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah.
      Terdapat tiga kompetisi yang mesti tercapai oleh peserta didik dari suatu proses pembelajaran oleh guru, yaitu :
1)      Kompetensi personal dan sosial, yang terdiri atas perangkat nilai-nilai kepribadian dan nilai sosial yang harus dikuasai sebagai warga Negara yang bertanggung jawab
2)      Kompetensi akademik, yaitu perangkat keahlian dalam bidang tertentu
3)      Kompetensi professional, yaitu perangkat kemampuan yang memungkinkan seseorang mampu menjalankan tugas profesinya.
      Oleh karena itu, realitas tata nilai-norma dan nilai kehidupan siswa yang sesungguhnya harus menjadi dasar pertimbangan bagi seorang guru dalam menentukan pilihan pendekatan pembelajaranya. Seorang guru IPS dalam mengorganisasikan materi pembelajaranya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)      Materi pelajaran harus menyangkut hal yang dialami oleh siswa
2)      Materi sedapat mungkin merupakan hal yang dirasakan membawa manfaat langsung dalam kehidupan nyata siswa
3)      Tema yang diangkat harus yang dapat dipraktikan atau dioperasionalkan siswa dalam kehidupan nyata keseharianya

4. PENDEKATAN DALAM PENGORGANISASIAN MATERI IPS
1.4. Arti Pendekatan                                            
      Secara harfiah pendekatan berarti cara mendekati. Sebagai suatu istilah dalam ilmu, pendekatan berarti sudut pandang atau cara umum dalam melihat atau bersikap yang digunakan seseorang dalam memecahkan suatu masalah, atau dapat juga disebut sebagai pola atau kerangka pikir yang dipakai untuk melihat atau mengkaji suatu masalah.
2.4. Arti Program
      Dalam kamus besar bahasa Indonesia tahun 1989 kata program berarti rancangan mengenai asas-asas serta usaha-usaha. Sebagai istilah, program secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rancangan kegiatan yang harus dilaksanakan atau dapat diberi makna sebagai seperangkat kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan secara kait-mengkait untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
3.4. Pendekatan dalam Program Penyusunan Program IPS
      Sesuai dengan definisi “pendekatan” dan “program” tersebut terdahulu, maka yang dimaksud dengan pendekatan program IPS ialah pola berfikir guru dalam menentukan pilihan dan pengembangan isi pelajaran dan cara mengorganisasikan bahan pelajaran dan cara menyajikanya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
      Di dalam penyusunan program pengajaran IPS di gunakan berbagai macam pendekatan, hal tersebut sangat tergantung pada tujuan yang hendak di capai. Sebelum diberlakukanya kurikulum tahun 1975, pendekatan struktural seolah-olah merupakan pola pikir yang baku, sebagai konsekuensi dari proses pengajaran yang terkotak-kotak ke dalam mata pelajaran yang terpisah-pisah. pendekatan struktural yang dimaksud adalah pola pikir yang hanya bertitik tolak pada disiplin ilmu saja, misal dari sudut pandang Ilmu geografi saja, dari sejarah saja dan sebagainya. Dewasa ini, pendekatan structural kurang tepat, sebab disadari bahwa masalah masyarakat bersifat demikian kompleks dalam era modern seperti sekarang.
      Itulah sebabnya maka sejak tahun 1975 diusahakan pendekatan baru yang bersifat integral, yang akan dibahas secara rinci sebagai berikut:
a.       Pendekatan monodisiplin
   Yaitu pendekatan suatu topik atau masalah hanya menggunakan satu cabang ilmu sebagai titik tolak kajian atau analisisnya. Pendekatan monodisiplin disebut juga sebagai pendekatan structural karena yang ditekankan adanya struktur atau disiplin ilmu tertentu.
      b. Pendekatan multidisiplin dan interdisiplin
      Ips dapat dikatan sebagai bidang studi mengenai interalasi disiplin-disiplin ilmu sosial dalam menelaah gejala dan masalah sosial yang terjadi dimasyarakat. Yang dimaksud dengan interelasi disiplin-disiplin ilmu sosial yaitu hubungan antar disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang digunakan untuk menelaah gejala masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
      Secara ilmiah teoritik, kedua macam pendekatan itu yaitu multidisiplin dan interdisiplin dapat dibedakan dan dikaji secara terpisah (sendiri/sendiri), namun dalam praktik sukar dibedakan. Oleh karena itu, banyak ahli yang tidak dipersoalkan perbedaan antara keduanya dan cenderung mempersamakanya.
      c. Pendekatan lingkungan meluas
            yaitu car mengurutkan bahan ajar dimulai dari yang mudah ke yang sukar, dari lingkungan yang dekat ke lingkungan yang lebih jauh, dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang sifatnya kompleks.
      Berikut ini beberapa contoh pendekatan lingkungan meluas atas dasar aspek-aspek tertentu :
1)      Pendekatan lingkungan meluas
            Contoh lingkungan yang dipakai sebagai bahan kajian adalah batas wilayah administrasi pemerintahan Negara Republik Indonesia. Bahan ajar mulai mengenalkan anak pada lingkungan RT/RW, dengan batas-batas wilayah dan kondisi lingkungan alam dan lingkungan fisiknya. Lingkungan alam misalnya adanya dataran rendah, gunung, sungai, hutan, dan lain-lain. Sedangkan lingkungan fisik meliputi jalan raya, jaln kereta api, gedung, perumahan dan lain-lain.
2) Pendekatan masyarakat meluas
            Dalam hal ini bahan ajar dimulai dengan keluarga sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, anak-anak dan anggota keluarga lainya, hubungan dan status antar individu dalam keluarga, fungsi masing-masing anggota, sistem yang berlaku dalam keluarga, adat-istiadat yang dianut, dan sebagainya.
3) Pendekatan tematik meluas
            Dalam hal ini bahan ajar yang dipakai dimulai dari studi kasus yang dapat diamati langsung oleh anak-anak dilingkungan tempat tinggalnya. Misal: kasus penebangan secara liar di tanah-tanah miring akan menyebabkan erosi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
4) Pendekatan interdisiplin
            Yaitu perluasan dari pendekatan monodisiplin (pendekatan struktural atau pendekatan terpisah) menjadi pendekatan multidisplin dan interdisiplin .
5) Pendekatan Situasi Kehidupan
            Yaitu cara mengorganisasi bahan ajar dengan berorientasi kepada keadaan kehidupan nyata atau riil dari masyarakat. Jadi pada hakikatnya pendekatan situasi bisa hakikatnya merupakan pendekatan kemasyarakatan.
            Dalam melaksanakan program pengajaran IPS berbagai aspek masyarakat perlu diperhatikan, terutama untuk menyusun bahan ajar dan kegiatan belajar.
Aspek-aspeknya antara lain sebagai berikut:
Ø  Aspek kemanusiaan didalam kehidupan masyarakat yang meliputi kepribadian, tingkah laku, keturunan atau asal-usul perkembangan manusia temperamen, keluarga, kekerabatan, aspek moral dan spiritual
Ø  Aspek sosial dalam kehidupan berkelompok, meliputi: kelembagaan, pergaulan, kerukunan, gotong royong, dan lain-lain
Ø  Aspek ekonomi dalam kehidupan masyarakat, khusunya upaya dalam mencukupi kehidupanya, meliputi: konsumsi, produksi, distribusi dan lain-lain
Ø  Aspek budaya, yang meliputi: tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, dan lain-lain
Ø  Aspek politik, meliputi: pemerintah, kelembagaan politik, kegiatan politik, hokum, perundang-undanganyang berlaku dan lain-lain
Ø  Aspek lingkungan alam dan lingkungan fisik, meliputi keadaan relief, muka bumi, kondisi iklim, SDA, aspek lingkungan fisik, dan lain-lain
Ø  Aspek perkembangan, yaitu bagaimana perkembangan masyarakat dimasa silam, sekarang, dan prospeknya dimasa mendatang.
      d. Pendekatan Ilmiah
            Merupakan gabungan antara cara penalaran deduktif dan induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran disertai dengan suatu dugaan sementara (hipotesis). Misalnya kita  berpendapat bahwa siswa yang makan banyak sebelum berangkat kesekolah tidak akan kelaparan hingga jam pelajaran berakhir. Secara induktif, kita akan menyimpulkan bahwa setiap anak yang makan banyak tidak akan cepat lapar. Untuk menjawab kasus seperti ini kita ajukan pertayaan” mengapa seorang siswa cepat lapar?” untuk itu, kita ajukan dugaan sementara bahwa siswa akan cepat lapar jika makanan yang dimakan kurang memenuhi standar gizi dan energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut sedikit. Setelah itu, secara deduktif, kita uji untuk mengetahui apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung hipotesis yang diajukan tersebut.
5. JURNAL PENDIDIKAN
            Jurnal pendidikan memiliki perananan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Di mana ilmu-ilmu yang terdapat di dalam sebuah jurnal pendidikan akan memberikan pengetahuan tambahan bagaimana menjalani kehidupan yang layak dan beradab. Seperti konsep pendidikan "Memanusiakan Manusia", manusia adalah manusia tapi terkadang manusia bisa menjadi lebih rendah dari seekor binatang tanpa pendidikan. Tengok saja anak-anak yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan akan bertindak dan berbuat di luar tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia.

            Dalam tulisan yang singkat ini, akan diberikan sebuah gambaran artikel jurnal pendidikan tentang pendidikan sosila. Betapa penting dan berharganya sebuah pendidikan sosial.

            Pendidikan Sosial dengan ruang lingkup dan aspek kehidupan sosial yang begitu luas cakupannya, menjadi landasan kuat penanaman dan pengembangan nilai ketuhanan yang menjadi kunci kebahagiaan kita manusia lahir-batin. Nilai ketuhanan ini menjadi landasan moral-moralitas sumber daya manusia hari ini, terutama untuk masa yang akan datang. Oleh karenanya, materi dan proses pembelajaran pada pendidikan ini, wajib berlandaskan nilai ketuhanan .

            Pengembangan nilai ketuhanan dalam pembelajaran pendidikan sosial, bukan sekadar memasukkan ayat-ayat dan hadits, melainkan bagaimana anak bisa berinteraksi dan berperilaku dalam masyarakat yang sesuai dengan norma agama. Ini menjadi tanggung jawab terpenting bagi para pendidik dan orang tua dalam upaya mempersiapkan anak, bahwa merupakan hasil setiap pendidikan, baik yang berhubungan dengan pendidikan iman maupun yang berkaitan dengan pendidikan moral dan psikologis.
            Karena eksistensi pendidikan sosial merupakan fenomena tingkah laku dan watak yang dapat mendidik anak guna menunaikan segala kewajiban, sopan santun, kontrol sosial, keajegan intelektual, politik, dan interaksi yang baik dengan orang lain. Apabila anak terdidik, terbentuk, dan berkiprah di panggung kehidupan, mereka akan dapat memberikan gambaran yang benar tentang manusia yang cakap, berakal dan bijak. Oleh sebab itu, para guru hendaknya berusaha keras memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran ilmu sosial dengan cara yang benar, agar mereka dapat memberikan andil dalam pembinaan masyarakat Islam yang utama, yang berlandaskan iman, moral, pendidikan sosial yang utama, dan nilai-nilai Islam yang tinggi.

            Adapun metode yang dapat dijalankan oleh para pendidik (guru) untuk bisa mengembangkan nilai-nilai ketuhanan dalam pembelajaran ilmu sosial, adalah dengan : 
Penanaman dasar-dasar kejiwaan yang mulia, seperti ketakwaan, tenggang rasa, kasih sayang, mementingkan orang lain daripada diri     sendiri, memaafkan, berani karena benar. 
Pemeliharaan hak orang lain. Membiasakan anak untuk menghargai dan menghormati hak-hak orang di luar dirinya, seperti hak terhadap orang tua, hak terhadap teman, hak terhadap tetangga, hak terhadap guru, hak terhadap orang yang lebih dewasa. 
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar pendidikan sosial bagi individu menjadi lebih sempurna dan bermakna, sehingga masyarakat tumbuh di atas dasar saling menolong, produktivitas, keterikatan yang kuat, akhlak yang luhur, serta saling mencintai dan mengkoreksi secara konstruktif. 
Melaksanakan tatakrama sosial yang berlaku umum. Anak dibiasakan sejak dini untuk menjalankan etika sosial secara umum, dibentuk atas dasar-dasar pendidikan yang sebenarnya. Tujuannya, bila sudah dewasa dan dapat menangkap inti segala masalah, ia dapat bergaul dengan sesamanya di tengah-tengah masyarakat dengan kebaikan yang maksimal dan simpatik, dengan cinta yang utuh, dan budi pekerti yang luhur. 
Etika yang bisa diajarkan diantaranyai etika makan dan minum, etika mengucapkan salam, etika berbicara, etika menjenguk orang sakit dan etika-etika yang lain 
Kontrol dan kritik sosial, anak dibiasakan untuk melakukan kontrol dan kritik sosial, membina setiap orang yang bergaul dengannya, dan memberi nasihat kepada orang yang menyimpang dari etika islam. Anak dibiasakan melakukan amar ma'ruf nahi munkar, memerangi kerusakan dan penyimpangan, dan memelihara nilai, idealisme dan moralitas yang baik.
Bukanlah suatu hal yang mustahil bagi para pendidik untuk mewujudkan pendidikan sosial yang mempunyai nafas ketuhanan yang kental, asalkan ada kemauan dan keyakinan.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
      Ilmu- ilmu sosial baru berkembang sejak kira-kira satu setengah abad silam yang sampai saat kini telah menjalani proses pertumbuhan, diversifikasi sampai pada spesialisasinya. Setiap cabang ilmu-ilmu sosial memiliki sejumlah konsep utama atau konsep kunci. Konsep-konsep tersebut merupakan konstribusi yang berupa generalisasi dan dapat dipilih sebagai materi pokok pembelajaran IPS. Terdapat kesamaan pandangan dari berbagai, pemerhati dan pelaku atau guru pembelajaran IPS, bahwa dalam rangka pengajaran PIS di sekolah maka berbagai keadaan yang terdapat di lingkungan kehidupan anak didik dan juga berbagai peristiwa sosial yang terdapat di lingkunganya merupakan salah satu sumber pengajaran IPS yang sangat tepat. PIS atau pendidikan IPS merupakan program pendidikan yang berupaya mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana manusia sebagai individu dan kelompok dapat hidup bersama dan berinteraksi dengan linkunganya(fisik dan sosial). Sebagai suatu istilah dalam ilmu, pendekatan berarti sudut pandang atau cara umum dalam melihat atau bersikap yang digunakan seseorang dalam memecahkan suatu masalah, atau dapat juga disebut sebagai pola atau kerangka pikir yang dipakai untuk melihat atau mengkaji suatu masalah.

B. Saran
      Di era dewasa ini diharapkan guru ilmu pendidikan sosial khusunya mampu mengikuti perkembangan zaman dalam mengajarkan materi pembelajaranya dan mengimbanggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat.



DAFTAR PUSTAKA

Suprayogi, Subagyo,  Adang Syamsudin Sulaha, dan Tukidi., Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Unnes, Widya Karya Semarang.
Oemi Oetari Wibowo, Dra., Pengantar Ilmu Sosial, Semarang.
Daldjoeni, Drs., Dasar-Dasar Ilmu Sosial, Alumni, Bandung 1985
Koentjaraningrat, Prof. Dr., Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta
Muin Idianto., Sosiologi, Erlangga
Saptono., Sosiologi, Phibeta
http://www.tp.ac.id/tag/ Jurnal Pendidikan