makalah al-qur`an sebagai hidayah

A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW, agar ia menentang manusia dengannya, yang setiap ayatnya merupakan mukjizat. Al-Qur’an merupakan cahaya yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya agar ia mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Al-Qur’an adalah undang-undang Tuhan yang Allah jadikan sebagai Syari’at yang abadi dan undang-undang untuk selama-lamanya serta lampu yang senantiasa menerangi.
Allah SWT memilih orang-orang tertentu dari hamba-hamba–Nya. Dia mengaruniai mereka potensi berupa kecerdasan dan daya pemahaman serta menjadikan mereka cinta kepada keimanan, sehingga mereka sangat mencintai kitab Allah, tekun membaca dan memahami penafsirannya. Dengan itu mereka mampu mengungkapkan hal-hal yang masih samar, menjelaskan makna-maknanya kepada manusia  serta mendekatkannya kepada hati sanubari hamba-hamba-Nya.
Allah SWT menciptakan manusia dan mengistimewakannya  dari segenap makhluk-Nya yang lain dengan nikmat akal yang dengannya dia dapat mengatur, meneliti dan berpikir  tentang alam semesta yang ada disekelilingnya, yang takpernah mengenal akhir dan tak pernah dikethui permulaannya. Manusia dapat berpikir tentang benda  yang ada disekitarnya yang diciptakan oleh Sang Pencipta  pertama,berupaya memanfaatkannya lalu mendapatkan makanan, obat-obatan, pakaian, minuman, tempat tinggal dan tempat berteduhnya.[1]
Manusia mampu mengkaji hakikat dan dalil-dalilnya yang menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta, Sangpemberi kehidupan dan berbagai kenikmatan ini, Kekuasaanya dan ilmunya.
Sebagai kitab suci dan petunjuk, Al-Qur’an mempunyai dimensi untuk dijadikan pegangan hidup dan penuntun arah bagi kaum muslimin dalam menjalani kehidupannya. Al-Qur’an mengajak manusia untuk bertafakur  (memikirkan ) dan bertadzakur (mengingat) akan ciptaan Allah. Dengan adanya akal dan ilmu yang dimilikinya manusia dapat dibedakan atas golongan yang berilmu dan golongsn orsng yang bodoh. dalamAl-Qur’an Allah menjadikan ilmu sebagai barometer manusia untuk mencapai derajat yang lebih tinggi (ulil albab).[2]


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah  fungsi al Qur’an sebagai kitab petunjuk?
2.      Bagaimanakah  fungsi al Qur’an sebagai pedoman hidup?
3.      Bagaimanakah  fungsi al Qur’an sebagai obat?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui  fungsi al Qur’an sebagai kitab petunjuk beserta dalil-dalilnya
2.      Untuk mengetahui fungsi al Qur’an sebagai pedoman hidup beserta dalil-dailnya
3.      Untuk mengetahui fungsi al Qur’an sebagai obat jasmani dan rohani beserta dalilnya

D.    Manfaat penulisan
1.      Sebagai tambahan khasanah keilmuan khususnya bidang Mata kuliah Al-Qur’an dan ilmu terkait lainnya.
2.      Sebagai bahan refleksi diri dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an khususnya bagi diri penulis dan pembaca pada umumnya.









BAB II
PEMBAHASAN
A. Al-Qur’an sebagai Kitab Petujuk
1. Pengertian Hidayah
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan. Khusus yang terakhir, kata hidaayatan kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : “Dholalah” yang berarti “kesesatan”. [3]
Hidayah adalah petunjuk Allah swt. terhadap makhluk-Nya tentang sesuatu yang mengandung kebenaran atau sesuatu yang berharga dan membawa keselamatan.[4]
Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.
Hidayah dalam Al-Quran sering diartikan dengan “petunjuk”. Namun, hidayah sering kali pula diarahkan kepada amal-amal lahiriah dan kasat mata. Padahal, amal-amal lahiriah itu merupakan dampak yang terjadi akibat adanya hidayah yang menghujam dalam kalbu, karena hidayah yang demikian inilah yang telah menyebabkan seseorang dapat melakukan amal-amal lahiriah secara sempurna.[5]
2. Macam-Macam Hidayah                                                    
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu:
a. Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup)
Allah berfirman yang artinya:
إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)

dan Allah juga berfirman, yang artinya:

وَقَالَرَجُلٌمُّؤْمِنٌمِّنْ آلِفِرْعَوْنَيَكْتُمُإِيمَانَهُأَتَقْتُلُونَرَجُلًا أَنيَقُولَرَبِّيَاللَّهُ
 وَقَدْجَاءكُمبِالْبَيِّنَاتِمِن رَّبِّكُمْوَإِن يَكُكَاذِبًافَعَلَيْهِكَذِبُهُوَإِن
 يَكُصَادِقًايُصِبْكُمبَعْضُ الَّذِييَعِدُكُمْإِنَّاللَّهَ لَايَهْدِيمَنْ هُوَمُسْرِفٌكَذَّابٌ

 “Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya)”. (Q.S. Al-Mu’min: 28)
b. Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang
didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw)
seperti firman Allah,
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”.
(Q.S. Al-Hajj: 67)
atau seperti firman Allah,
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى
 الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. An Najm: 23)

c. Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup)
seperti firman Allah, :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِين             
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

d. Hidayah Fithriyah (Fitrah).
Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka. Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firmannya:
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ
 الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (Q.S. Al-An’am: 77)





B.     Pengertian Al-qur’an Sebagai Pedoman Hidup
Al-Quran dapat menjelaskan sebagai buku pedoman hidup manusia. Al-Quran, bahkan dibuat langsung oleh Pencipta Alam Semesta, Allah SWT sebagai panduan dan tuntunan yang dijaga keaslian isinya hingga akhir zaman. Al-Quran sebagai pedoman mampu untuk menjawab hal-hal fundamental dalam menjalani hidup, seperti tujuan hidup dan penciptaan manusia misalkan. Saya yakin, mereka yang mencapai kebahagiaan hidup adalah mereka yang tahu dan mampu mencapai apa sesungguhnya tujuan manusia itu sendiri oleh Allah SWT.
Kita meyakini al Qur’an sebagai pedoman hidup, karenanya kita memperingati  nuzulul Qur’an  dengan cara yang bersih, dengan tilawah siang dan malam satu sampai tiga juz setiap hari sehingga jiwa kita merasa tenang dan damai
Al Qur’an sebagai pedoman hidup setidaknya emuat empat hal:[6]
1.      Pertama pedoman al Qur’an yang jelas tentang Tuhan “Wa ilaahukum ilaa hun Wahid laa ilaa hailaahun”(Tuhan kamu ialah Tuhan yang satu) tidak terbuat dari bahan-bahan, tidak terdiri dari oknum-oknum  bukan tiga Tuhan, atidak ada Tuhan selain Dia.
2.      Tentang kehidupan bermasyarakat, seperti yang disebut dalam surah al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
 عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ                    
Yang artinya : Wahai manusia kami ciptakan kamu bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling tinggi disisi Allah ialah yang paling bertakwa.
Ibnu Abi Mulaikah meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang mngecam Billal ketika ia naik ketas ka’bah untuk mengumandangkan adzan setelah pembebasan kota Makkah “Bagaimana mungkin budak hitam ini mengumandangkan adzan diatas ka’bah?” “Sebagian lain berkata, “Apakah Allah akan murka jika bukan ia yang  mengumandangkan adzan?” (HR.. Ibnu Abi Hatim)[7]
3.      Akhlak dan tata krama, yang sekarang jarang sekali dimiliki oleh generasi muda, bahkan mungkin jarang.
Al-Qur’anul karim diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ummi yang tidak bisa mebaca dan menulis. Didalamnya terdapat ayat-ayat bagi kaum- kaum yang mau menggunakan akalnya. Al-Qur’an tidak meninggalkan yang kecil apalagi yang besar kecuali mencatatnya. Bahkan memperhatikan hal pada wilayah kerajannya baik secara zahirmaupun batil,memaparkan dalil tentangnya. Tiada satupun perkara baru yang dibuat manusia, demikian pula ilmu pengetahuan manusia tanpa kecuali pasti ada dalilnya didalam Al-Qur’an.[8]
Ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai tanda-tanda seringkali diabaikan dan dianggap dusta belaka. Anehnya orang-orang yang berbua seperti itu adalah orang-orang  yang tahu bahwa perbuatan itu salah. Dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan. Seba ketika manusia melakukan suatu hal yang baik menurutnya, belum tentubaik dimata Allah SWT. [9]
Manusia akan memperoleh  kejelasan tentang hal ini dengan ilmu pengetahuannya,ijtihadnya, dan pertambahan pengetahuan dan ilmunya terhadap alam semestanya menurut kemampuan masing- masing dan kemampuannya sendiri.[10]
C.    Pengertian dan Dalil- Dalil Al-Qur’an Sebagai Obat
Obat adalah bahan-bahan yang digunakan, baik didalam maupun diluar permukaan tubuh dengan tujuan untuk menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit[11]
Pengertian Al-Qur’an sebagai obat disini tidak hanya sebagai obat lahiriah tetapi juga secara batiniah.
Telah disebutkan didalam Al-Qur’an al-Karim padasejumlah ayat kata-kata yang didalamnya terkandung unsur nabati yang biasa dikonsumsi oleh manusia dan hewan dalam makanannya dan obat-obatannya, ilmu modern sudah menyatakan manfaatnya dan nilai pentignya sebagaimana dia juga memaparkan sebagaimana dia juga memaparkan adanya  pembgian tumbuhan dan organ-organ tubuhnya. Didalam al-qur’an juga didapati dalil-dalil yang menunjukkansikls kehidupan tumbuhan . Selain  itu juga ada ayat-ayat yang menuturkan beberapa macam unsur nabati yang biasa dikonsumsi sebagai obat yang secara umum dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar berikut ini : [12]
Pertama : Al-Qu’an bericara tentang  tanaman ladang, macamnya, hasil produksinya, biji-bijian dan tanaman hijau.terdapat dalam surah al-baqarah ayat: 61
Kedua : Al-Qur’an  menyebutkan pepohonan, bagian-bagiannya dan buah-buahan. Terdapat dalam surat l- al-an’am ayat:95
Salah satu fungsi Al Qur'an adalah sebagai obat (syifa) atau penawar dan penangkal segala macam jenis penyakit, baik penyakit rohani maupun  jasmani.
Termasuk pula penangkal gangguan jin, syetan atau sihir.
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim usahakan senantiasa membaca wirid harian, yaitu membaca Al Qur'an setiap hari.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا
Artinya:
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
(QS.Al-Israa:82).                                                
 “Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)
 “Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya. Penjelasan Tafsir Ayat
Ibnu Katsir  berkata:
 “Allah  mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya , yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an-lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukan-nya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.[13]
Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani
Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah  dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk mem-bawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253)
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad: “Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurna-kan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya.Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik  penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang mem-bimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287).[14]















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Kita meyakini al Qur’an sebagai pedoman hidup, karenanya kita memperingati  nuzulul Qur’an  dengan cara yang bersih, dengan tilawah siang dan malam satu sampai tiga juz setiap hari sehingga jiwa kita merasa tenang dan damai.
Salah satu fungsi Al Qur'an adalah sebagai obat (syifa) atau penawar dan penangkal segala macam jenis penyakit, baik penyakit rohani maupun  jasmani.
Termasuk pula penangkal gangguan jin, syetan atau sihir.
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim usahakan senantiasa membaca wirid harian, yaitu membaca Al Qur'an setiap hari.



Daftar Pustaka

Tohari, Hamien Islam, Rahmat bagi alam semesta : Untaian ceramah penyejuk hati, Jakarta : Alifia Book, 2009
            Fakhrudin Ali dkk, Tafsir Al-Hidayah :Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid kode angka ,Banten : Kalim, 2000
Mahran Jamaludin  dkk, Al-Qur’an bertutur tentang makanan dan obat- obatan Yogyakarta: Mitra Pustaka,2006
Qardhawi Yusuf, Al-qur’an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan  Jakarta: Gema insani,1998
      Shihab ,M Quraish, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jakarta:Lentera Hati,2002
Enslikopedia, (Yogyakarta: Kanisius,1991)
http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/3236-al-quran-sebagai-obat-hati.html diakses pada sabtu 08 Desember 2012 pukul 10.30 WIB
http://onlinehidayah.wordpress.com/2011/10/12/pengertian-dan-macam-macam-hidayah-secara-umum/ diakses pada rabu 19 September 2012 pukul 12:49 WIB



[1] Jamaludin Mahran dkk, Al-Qur’an bertutur tentang makanan dan obat- obatan (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2006) hal. 21
[2] Yusuf Qardhawi, Al-qur’an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan ( Jakarta: Gema insani,1998) hal. 7
[3] http://onlinehidayah.wordpress.com/2011/10/12/pengertian-dan-macam-macam-hidayah-secara-umum/
[4] Afzalur Rahman, Al quran sumber ilmu pengetahuan, (Jakarta: rineka cipta ,1992), Hlm. 56
[5] M Quraish, Shihab Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta:Lentera Hati,2002), hal 125
[6] Hamiem Tohari, Islam Rahmat bagi alam Semesta: Untaian ceramah Penyejuk hati (Jakarta:Alifia Book, 2005) hal.51

[7]  Ali Fakhrudin, Siti Irhamah, Tafsir Al-Hidayah :Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid kode angka (Banten : Kalim, 2000) hal. 516
[8] Jamaludin Mahran dkk, Al-Qur’an bertutur tentang makanan dan obat- obatan (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2006) hal. 35
[9] Hamiem Tohari, Islam Rahmat bagi alam Semesta: Untaian ceramah Penyejuk hati (Jakarta:Alifia Book, 2005) hal.100
[10]. Jamaludin Mahran dkk, Al-Qur’an bertutur tentang makanan dan obat- obatan (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2006) hal 36
[11] Enslikopedia, (Yogyakarta: Kanisius,1991)
[12] Jamaludin Mahran dkk, Al-Qur’an bertutur tentang makanan dan obat- obatan (Yogyakarta: Mitra Pustaka,2006) hal 316-317
[13] Dr.jamaluddin Mahran, Al-Quran Bertutur Tentang Makanan Dan Obat-Obatan,(Yogyakarta: Mitrapustaka, 2006), Hlm. 146

[14] http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/3236-al-quran-sebagai-obat-hati.html