Makalah Fisika Dasat 1

makalah fisika dasar 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari ilmu fisika, dimulaidari yang ada dari diri kita sendiri seperti gerak yang kita lakukan setiap saat,energi yang kita pergunakan setiap hari sampai pada sesuatu yang berada diluar diri kita,seperti yang ada dilingkungan kita. Dalam jenjang perguruan tinggi, seorang mahasiswa diharapkan tidak hanya mengikuti perkuliahan dengan baik, namun lebih dari itu juga dituntut untuk mendalami dan menguasai disiplin ilmu yang dipelajarinya sehingga nantinya akan menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Disiplin ilmu teknik merupakan disiplin ilmu yang eksak dan banyak menerapkan ilmu-ilmu murni yang diterapkan kepada masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bidang-bidang keteknikan mutlak untuk dikuasai mahasiswa teknik, tidak hanya dari segi teori juga dari segi prakteknya. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi saat ini, serta pasar bebas yang akan segera kita masuki, lebih menuntut penguasaan dan penerapannya dalam menghadapi masalah-masalah yang kompleks. Ternyata dalam aplikasi ilmu tersebut, tgas yang diberikan kepada mahasiswa tidak akan dikuasai sempurna tanpa adanya praktek-praktek yang merupakan salah satu sarana yang baik untuk menguasai ilmu sekaligus mempraktekannya. Demikian juga dengan praktikum Fisika Dasar I ini. Fisika dalam bidang teknik khususnya Teknik Sipil merupakan hal yang sangat penting dan benarbenar harus dikuasai secara teori dan praktek. Dengan latar belakang itulah, maka kami mahasiswa teknik sipil semester I diberi tugas praktikum mata kuliah Fisika Dasar yang dilaksanakan di Laboratorium Pusat dibawah bimbingan dosen dan team asisten pembantu dosen. 1.2 Tujuan Penulisan 1. Memperdalam wawasan pengetahuan tentang mata kuliah Fisika Dasar I. 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh praktikum fisika dasar I dalam kehidupan seharihari. 3. Dapat menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan benar. 4. Mengembangkan daya nalar mahasiswa untuk menganalisa data dan membuktikan kebenaran ilmiah. 5. Menunjang pemahaman materi kuliah yang disampaikan dosen. 6. Untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam menggunakan alat ukur jangka sorong,micrometer sekrup,spherometer,kesetimbangan,bandul sederhana,dan gesekan. 1.3 Landasan Teori Terdapat berbagai macam alat ukur untuk menentukan ukuran panjang antara lain mistar, jangka sorong, micro meter sekrup, dll. Alat-alat tersebut disebut alat ukur langsung karena obyek yang diukur akan dibandingkan dengan skala pada alat ukurnya secara langsung. Perlu diingat definisi konsep yang berkaitan dengan pengukuran antara lain : Sistem satuan : ………? Batas ukur : ………? Ketelitian : ………? Alat ukur massa yang umum adalah neraca, sedangkan alat ukur waktu adalah arloji atau stopwatch. Besaran ukuran dapat ditentukan dengan mengukur besaran dasar tersebut, misalnya ukuran luas kertas ditentukan oleh panjang dan lebar kertas. Ukuran volume balok dinyatakan dengan panjang, lebar dan tebalnya. Di sini perlu diingat konsep yang berkaitan dengan menyatakan hasil pengukurannya, misal : Angka penting, ketidakpastian hasil/ralat, dll. 1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas,penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut: 1. 2. Adakah pengaruh praktikum fisika dasar I dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana cara menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan benar? 3. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam menggunakan alat ukur jangka sorong,micrometer sekrup,spherometer,kesetimbangan,bandul sederhana,dan gesekan? BAB II PEMBAHASAN Pengukuran adalah suatu tekhnik untuk menyatakan suatu sifat fisis dalam bilangan sebagai hasil membandingkan dengan suatu besaran baku yang diterima sebagai satuan. Untuk mengukur suatu benda digunakan alat-alat ukur, adapun alat-alat ukur yang sering digunakan adalah jangka sorong, mikrometer sekrup, spherometer, atau alat ukur lainnya. 2.1. JANGKA SORONG Jangka sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm. keuntungan penggunaan jangka sorong adalah dapat dipergunakan untuk mengukur diameter sebuah kelereng, diameter dalam sebuah tabung atau cincin, maupun kedalam sebuah tabung. Jangka sorong merupakan alat ukur panjang yang dilengkapi dengan nonius, sehingga tingkat ketelitiannya ada yang sampai 0,02 mm, tanpa nonius jangka sorong mempunyai nst skala utama adalah 1mm dan batas ukur 150 mm. Pada nonius jangka sorong biasanya didapatkan 49 bagian utama, 50 bagian skala nonius, atau 50 bagian skala nonius 49mm, sehingga jarak antara dua skala nonius terdekat adalah 49/50 mm = 0,98 mm. Nst skala nonius jangka sorong dapatdicari dengan rumus : Nst nonius = selisih jarak antara dua nst skala utama dengan jarak antara dua skala nonius = (1 – 0,98) mm = 0.02 mm Atau Nst nonius = ( 1/n ) ( nst tanpa nonius ) = ( 1/50) ( 1 mm ) =0,02 mm Keterangan : Nst nonius : nilai skala terkecil dangan nonius n : jumlah skala nonius Secara umum jangka sorong terdiri dari dua bagian yaitu rahang tetap dan rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas dua bagian yaitu skala utama dan skala nonius, skala utama terdapat pada rahang tetap dan skla nonius terdapat pada rahang geser. Kegunaan jangka sorong adalah untuk mengukur diameter luar dengan cara menjepitkan benda antara bawah, untuk mengukur kedalaman atau ketinggian benda dengan cara menancapkan atau memasukkan batang pengukur kedalam benda, untuk mengukur diameter dalam dengan cara memasukkan rahang atas pada rongga benda tersebut. Jangka sorong memiliki 10 skala utama yang panjangnya 1 cm,dengan kata lain jarak dua skala utama yang saling berdekatan adalah 0,1 cm. Sedangkan 10 skala nonius memiliki panjang 0,9 cm, dengan kata lain jarak dua skala nonius yang saling berdekatan adalah 0,09 cm. Jadi, beda skala utama dengan satu skala nonius adalah 0,1 cm – 0.09 cm = 0,01 cm atau 0,1 mm, sehingga skala terkecil dari jangka sorong adalah 0,1 mm/0,01 cm. Ketelitian dari jangka sorong adalah setengah dari skala terkecil. Jadi ketelitian jangka sorong adalah : Dx = ½ x 0,01 cm = 0,005 cm Dengan ketelitian 0,005 cm, maka jangka sorong dapat dipergunakan untuk mengukur diameter sebuah kelereng atau cincin dengan lebih teliti (akurat). Skala nonius juga disebut skala “vernier” diambil dari nama penemunya “Peiri Vernier”, seorang ahli tekhnik berkebangsaan Perancis. Jangka sorong kadang-kadang disebut juga mistar geser, jangka geser atau schulfmaat. Prinsipnya sama dengan mistar ukur yaitu dengan mistar adanya skala linear pada batangnya, sedangkan perbedaannya terletak pada pengukuran objek ukur. Pada jangka sorong dibuat rahang ukur tetap dan rahang ukur gerak yang berfungsi sebagai sensor untuk menjepit benda ukur sewaktu melakukan pengukuran. Jangka sorong sangat berguna dalam mengukur dimensi. Hasil pengukuran sangat bergantung pada ketelitian pengguna maupun alat sebagai produk keluaran dilengkapi dengan bacaan digital. Pada versi analog untuk ketelitian adalah 0,05 mm, untuk jangka sorong dibawah 30 cm dan diatas 30 cm. Hasil pengukuran jangka sorong ( H ) adalah berdasarkan hasil bacaan skala utama + hasil bacaan skala nonius dengan patokan angka nol ( 0 ) skala nonius ( skala geser ) x 0,05 ( nst skala nonius ). Dalam pengukuran dikenal dua kesalahan,yaitu : 1. Kesalahan Mutlak Adalah kesalahan maksimal yang mungkin dilakukan dalam pembacaan nonius, besar kesalahan mutlak ± 0,05 mm. 2. Kesalahan Relatif Adalah perbandingan antara kesalahan mutlak dengan harga yang diukur. Kesalahan relatif sering dinyatakan dalam perser ( % ) dan dibulatkan hingga 1% teliti. Adapun macam dan sumber kesalahan sangat bergantung pada banyak sedikitnya sumber-sumber kesalahan yang menyertai pada saat pengukuran berlangsung, keadaan dari alat ukur dan kondisi indera pengamat. Pada percobaan dan pengukuran terdapat dua kesalahan, yaitu : 1. Kesalahan Sistematis · kesalahan kalibrasi alat adalah kesalahan hasil pengukuran akibat ketidaktepatan harga skala pada waktu alat ukur dibuat. · · · 2. Kesalahan nol adalah titik nol skala tidak berimpit dengan penunjuknya. Kesalahan eksperiman adalah akibat salah dalam penggunaan alat. Kesalahan pengamat adalah salah cara pandang skala atau karena kerusakan mata pengamat. Kesalahan Rambang atau Random Yang disebabkan oleh gerak Brown molekul udara yang mempengaruhi penunjukkan alat. Alat ukur halus, kesalahan yang berfluktuasi adalah diakibatkan adanya perubahan-perubahan sedikit yang terjadi secara tidak teratur, gangguan-gangguan kecil, misalnya gerakan atau getaran motor di sel dan ketidakteraturan ukuran benda. prosedur kerja menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut: a. Sebelum melakukan pengukuran observasilah terlebih dahulu jangka sorong yang digunakan. Carilah batas ukur maksimum serta ketelitiannya. b. Lakukan pengukuran dengan menjepitkan benda ukur antara rahang bawah untuk mengukur diameter luar dan panjang benda. Kemudian kencangkan sekrup penahan dan baca skala yang ditunjukan skala utama dan skala nonius. c. Lakukan juga pengukuran diameter dalam benda ukur dengan memasukkan rahang atas pada rongga benda ukur tersebut. Kencangkan sekrup penahan dan baca skalanya. d. Kemudian lakukan pengukuran kedalaman tabung reaksi atau gelas ukur dengan memasukkan ujung batang yang dapat bergerak ke dalam benda ukur tersebut dan kencangkan sekrup penahan serta baca skla yang di tunjukkan. e. 1. 2. 3. 4. Lakukan pengukuran 5 kali masing-masing, untuk pengukuran: Diameter luar silinder materi Tinggi silinder materi Diameter dalam tabung reaksi Kedalaman tabung reaksi f. g. h. Cari isi silinder materi dan tabung reaksi. Laporkan hasil yang di peroleh beserta ketidak pastian mutlak dan ketidakpastian relatif. Simpulkan hasil percobaan Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa jangka sorong dapat dipergunakan untuk mengukur diameter luar sebuah kelereng, diameter dalam sebuah tabung atau cincin maupun untuk mengukur kedalaman sebuah tabung. Berikut akan dijelaskan langkah-langkah menggunakan jangka sorong untuk keperluan tersebut : 1. Mengukur diameter luar dengan Untuk mengukur diameter luar sebuah benda (misalnya kelereng) dapat dilakukan langkah sebagai berikut : * Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap) * Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang. * Geserlah rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang * Catatlah hasil pengukuran anda 2. Mengukur diameter dalam Untuk mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter dalam sebuah cincin) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut : * Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan. * Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka masuk ke dalam benda/cincin tersebut sorong * Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur * Catatlah hasil pengukuran anda 3. Mengukur kedalaman Untuk mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut : * Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak. * Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya. * Geserlah rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung. * Catatlah hasil pengukuran anda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pengukuran dengan menggunakan jangka sorong, yaitu: 1. Sebelum melakukan pengukuran bersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukurnya. 2. Sebelum jangka sorong digunakan, pastikan skala nonius dapat bergeser dengan bebas. 3. Pastikan angka “0” pada kedua skala bertemu dengan tepat. 4. Sewaktu mengukur usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran dengan ujung gigi pengukur menghasilkan pengukuran yang kurang akurat. 5. Tempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur. 6. Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, karena akan menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun pada lidah pengukur kedalaman. Jika sudah pas, kencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser, tetapi jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari baut pengunci. 7. Dalam membaca skala nonius upayakan dilakukan setelah jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati dari benda ukur. 8. Untuk mencegah salah baca, miringkan skala nonius dampai hampir sejajar dengan bidang pandangan, sehingga akan memudahkan dalam melihat dan menentukan garis skala nonius yang segaris dengan skala utama. 9. Untuk mencegah karat, bersihkan jangka sorong dengan kain yang dibasahi oleh oli setelah dipakai. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan jangka sorong dalam pengukuran dimensi benda ukur. (a) (b) Gambar 3.14 Pengukuran dengan jangka sorong: a) bagian luar b) bagian dalam Gambar 3.15 Jangka sorong digunakan untuk mengukur kedalaman Jangka sorong biasanya digunakan untuk: 1. mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit; 2. Mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur; 3. Mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara “menancapkan/menusukkan” bagian pengukur. 4. Jangka sorong memiliki dua macam skala: skala utama dan nonius. Lihat contoh cara mengukur di bawah. 1. Hal pertama yang kita lakukan adalah melepaskan pengunci. 2. Memasangkan dan menggeserkan rahang geser hingga bola mini terjepit diantara rahang geser dan rahang tetap, lalu mengunci rahang geser. 3. Amati skala nonius dan mencari garis pada skala nonius yang segaris dengan garis skala pada skala utama. Pada contoh ini, kita mendapatkan angka 40 (atau 0,4 mm). 4. Amati skala utam dan cari garis pada skala utama yang terdekat dengan garis 0 pada skala nonius. Pada contoh ini, kita mendapatkan angka 32 mm. 5. Jumlahkan hasilyang kita dapatkan dari skala utama dan skala nonius, yaitu 32 mm + 0,44 mm = 32,4 mm. · Cara pembacaan jangka sorong dengan nonius dua puluhan · Cara pembacaan jangka sorong dengan nonius lima puluhan Jangka sorong sebagaimana tampak pada gambar alat ukur panjang yang lebih teliti dari pada mistar, mistar mingsut merupakan nama lain dari jangka sorong, mistar geser, jangka geser, atau sehulfmaat. Prinsipnya sama dengan mistar ukur yaitu adanya skala linier pada batangnya, sedangkan perbedaannya terletak pada cara pengukuran objek ukur. 2.2. MIKROMETER SEKRUP Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang mempunyai batas ukur maksimal 25 mm. Alat ini mempunyai nonius sehingga ketelitiannya dapat mencapai 0,01 mm. Tanpa nonius nst skala utama alat ini adalah 0,5 mm, karena pada jarak 25 mm skala utama terbagi dalam 50 skala sehingga jarak antara dua skala terdekat adalah 25/50 mm = 0,5 mm. Skala pada mikrometer sekrup ada dua yaitu ; 1. Skala Utama (SU), yaitu skala pada pegangan yang diam (tidak berputar) ditunjuk oleh bagian kiri pegangan putar dari mikrometer sekrup. Pada gambar terbaca besar Skala Utama , SU = 10,0 mm 2. Skala Nonius (SN), skala pada pegangan putar yang membentuk garis lurus dengan garis mendatar skala diam dikalikan 0,01 mm. Dari gambar terbaca SN = (40 x 0,01)mm = 0,4 mm Hasil Pengukuran (HP) adalah penjumlahan Skala Utama dan Skala Nonius. HP = SU + SN = (10,0 + 0,4)mm = 10,4 mm Mikrometer sekrup mempunyai nonius skala putar yang terdiri atas 50 skala ( untuk sekali putaran ) yang sama harganya dengan jarak satu skala utama. Karena harga satu bagian skala nonius adalah 0,5/50 mm = 0,01 mm ( nst nonius mikrometer sekrup tingkat ketelitian mikrometer sekrup ). Hasil pengukuran dengan mikrometer sekrup ( H ) adalah ( jumlah skala utama sampai atas skala nonius x 0,5mm) + ( jumlah skala nonius sampai garis skala nonius yang segaris dengan garis horizontal pada skala tetap x 0,01 mm ). Mikrometer sekrup merupakan alat ukur linier yang mempunyai kecermatan yang lebih baik dari pada jangka sorong, pada umumnya kecermatan 0,01 mm. Kadang ada pula yang dibuat dengan kecermatan 0,005 mm, 0,002 mm, 0,001 mm. Bahkan sampai 0,0005 mm (dibantu dengan sekala nonius). Karena keterbatasan dari ketelitian pembuatan ulir yang merupakan komponen utama dari sistem penyebab mikrometer sekrup maka derajat kepercayaan atas hasil pengukuran akan turun apabila mikrometer sekrup mempunyai kecermatan yang lebih kecil dari 0,05 mm. Dewasa ini micrometer juga dibuat dalam berbagai bentuk yang masing-masing mempunyai kegunaan tertentu,misalnya seperti mkrometer luas dengan kapasitas 25 mm.Mikrometer luar dengan landasan teteap yang dapat dig anti,micrometer dengan jam ukur/micrometer indicator dan micrometer batas. Mikrometer sekrup umumnya digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan kertas, mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter benda kecil, dengan ketelitian sampai 0,01 mm atau 0,0001 cm. Mikrometer sekrup punya 2 yaitu skala utama dan skala nonius. Skala Nonius ditunjukkan oleh selubung luarnya. Bila selubung berputar satu kali, maju atau mundur akan memiliki nilai 0,5 mm. Skala pada selubung dibagi menjadi 50 bagian yang sama besar, sehingga tiap bagian skala pada selubung yang tergeser sama dengan : 1/50 x 0.50 mm = 0,01 mm atau 0,001 cm. oleh karena itu batas ketelitian mikrometer sekrup adalah 0,001cm Bagian utama mikrometer sekrup ialah sebuah poros berulir yang terpasang pada sebuah silinder pemutar yang disebut Bidal. Poros berulir masuk mengulir pad silinder berskala 0,01 mm dan 0,5 mm. Silinder berskala ini tepat dilingkup oleh silinder pemutar ter bagi oleh garis-garis skala menjadi 50 bagian yang sama. Ulir pada batang silinder pemutar mempunyai ketepatan 0,5mm, ini artinya kalau ulir silinder diputar satu putaran, ia maju atau mundur 0,5 mm, karena silinder pemutar memiliki 50 skala disekelilingnya. Kalau silinder pemutar berputar sebesar satu skala , batang silinder maju atau mundur 0,5/50 mm = 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan demikian skala pada silinder berskala menunjukkan ukuran dalam milimeter dan tengahan milimeter, sedangkan skala pada silinder pemutar menunjukkan ukuran dalam persatuan milimeter. Setelah digunakan dalam jangku tertentu, maka semua alat ukur termsuk mikrometer sekrup harus dikalibrasi. Kalibrasi dapat dilakukan secara periodik dalam selang waktu tertentu tergantung dari frekuensi penggunaan alat ukur mikrometer sekrup tersebut. Kalibrasi mirometer sekrup dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan sebagai berikut : · Gerakkan silinder putar / poros ukur, harus dapat berputar dengan baik agar tidak terjadi goyangan, karena ausnya ulir utama. · Kedudukan nol, apabila mulut ukur dirapatkan maka garis referensi harus menunjukkan nol. · Kerataan dan kesejajaran muka ukur ( permukaan sensor ), karena keausan maka muka ukur dapat menjadi tidak rata dan tidak sejajar. · Kebenaran dari penunjukkan harga pengukuran. · Beberapa bagian lain seperti gigi gelincir ( racet ) dan pengunci poros ukur,maka harus berfungsi dengan baik. Persyaratan Kalibrasi ü Kalibrasi dilakukan dalam suhu 20 °C ± 1 °C dan kelembaban relatif 55 % ± 10 % ü Untuk pemeriksaan digunakan optical flat atau optical parallel dengan kerataan kurang dari 0,1 μm. ü Untuk pemeriksaan kesejajaran digunakan optical parallel dengan keratann kurang dari 0,1 μm dan kesejajaran kurang dari 0,2 μm, dan/atau gauge block Kelas 0 atau Kelas 1 (ISO3650) atau yang setara. ü Untuk pengukuran kesalahan penunjukan digunakan balok ukur Kelas 0 atau Kelasi 1 (ISO 3650) atau yang setara. Suatu mikrometer sekrup secara luas diunakan alat didalam tekhnik mesin elektro untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok luar, garis tengah, kerendahan dan batangbatang slot. Mikrometer sekrup ini banyak dipakai dalam bidang metrologi. Mikrometer sekrup mempunyai 3 jenis umum pengelompokkan yang didasarkan pada aplikasi berikut : 1. Mikrometer sekrup luar Alat ukur yang dapat mengukur dimensi luar dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sejajar yang berhadapan, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada satu sisi rangka berbentuk U, dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak tegak lurus terhadap muka ukur, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle. Digunakan untuk ukuran memasang kawat-kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang. 2. Mikrometer dalam jenis tubular (mikrometer dalam dua-titik) Alat ukur yang dapat mengukur dimensi dalam dengan cara membaca jarak antara dua muka ukur sferis yang saling membelakangi, yaitu sebuah muka ukur tetap yang terpasang pada batang utama dan sebuah muka ukur lainnya yang terletak pada ujung spindle yang dapat bergerak searah dengan sumbunya, dan dilengkapi dengan sleeve dan thimble yang mempunyai graduasi yang sesuai dengan pergerakan spindle..Mikrometer sekrup dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda. 3. Mikrometer sekrup kedalaman Mikrometer sekrup kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkahlangkah dan slot-slot. Prosedur Kalibrasi : v Pengukuran kerataan muka ukur mikrometer luar dan mikrometer kepala * Letakkan sebuah optical flat atau optical parallel pada permukaan ukur. Hitung banyaknya garis interferensi merah yang timbul dari cahaya putih pada permukaan kontak muka ukur. Satu garis merah dapat diasumsikan sama dengan 0,3 μm. * Lakukan pemeriksaan kerataan pada kedua muka ukur. v Pengukuran kesejajaran muka ukur mikrometer luar * · Menggunakan Optical Parallel Letakkan sebuah optical parallel, atau gabungan sebuah balok ukur yang diapit dua optical parallel, pada muka ukur tetap sedemikian sehingga pola interferensi menjadi satu warna saja atau timbul pola kurva tertutup. Kemudian putar ratchet hingga muka ukur spindle merapat pada permukaan optical flat. Hitung banyaknya garis interferensi merah yang timbul dari cahaya putih pada permukaan kontak muka ukur spindle. · Lakukan pemeriksaan di atas sedikitnya pada empat nilai ukur, masing-masing terpaut ¼ putaran spindle. * Menggunakan Balok Ukur · Letakkan sebuah balok ukur di tengah kedua muka ukur dan putar ratchet, lakukan pembacaan. Berikutnya lakukan hal yang sama, dengan posisi balok ukur di empat tepi muka ukur. Hitung selisih pembacaan yang terbesar. v Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer luar a. sleeve agar penunjukannya sesuai dengan nilai ukur tersebut. Letakkan balok ukur atau gabungan balok ukur di antara kedua muka ukur, lalu putar ratchet hingga muka ukur berhimpit dengan balok ukur2. Hitung selisih antara penunjukan mikrometer dengan panjang balok ukur. b. Lakukan pengukuran pada Klausul a dengan beberapa ukuran balok ukur atau gabungan balok ukur. Ukuran balok ukur atau gabungan balok ukur yang digunakan harus dipilih agar dapat mengukur kesalahan yang terjadi bukan hanya pada posisi ukur yang merupakan kelipatan bilangan bulat dari putaran spindle, melainkan juga posisi-posisi di antaranya. Sebagai contoh, balok ukur atau gabungan balok ukur dengan nilai nominal 2,5 mm, 5,1 mm, 7,7 mm,10,3 mm, 12,9 mm, 15 mm, 17,6 mm, 20,2 mm, 22,8 mm 25 mm dapat digunakan. v Pengukuran kesalahan penunjukan mikrometer dalam Susun balok ukur atau gabungan balok ukur dengan nilai nominal sama dengan nilai ukur terkecil mikrometer dalam di antara dua jaw tipe rata menggunakan penjepit balok ukur. Lakukan pengaturan posisi nol mikrometer dalam menggunakan susunan balok ukur tersebut. Lakukan pengukuran kesalahan penunjukan dengan menambahkan balok-balok ukur dan menghitung selisih penunjukan mikrometer dalam dan panjang balok ukur. Lihat Klausul b untuk menentukan panjang balok ukur yang digunakan. Satu mikrometer sekrup ditetapkan dengan menggunakan satu mekanisme titik nada. Satu fitur yang menarik tambahan dari mikrometer sekrup adalah pemasukkan satu tangkai menjadi bengkok yang terisi secara normal. Orang bisa menggunakan keuntungan mikrometer sekrup untuk menekan material, memberi satu pengukuran yang tidak akurat. Dengan memasang satu tangkai roda bergerigi searah kepada satu tembaga putaran tertentu. Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Misalnya tebal kertas.Selain mengukur ketebalan kertas, mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat yang kecil. Skala pada mikrometer dibagi dua jenis : 1. Skala Utama, terdiri dari skala : 1, 2, 3, 4, 5 mm, dan seterusnya. Dan nilai tengah : 1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5 mm, dan seterusnya. 2. Skala Putar, Terdiri dari skala 1 sampai 50. Setiap skala putar berputar mundur 1 putaran maka skala utama bertambah 0,5 mm. Sehingga 1 skala putar = 1/100 mm = 0,01 mm Ganbar 2. Mikrometer sekrup Keterangan gambar : 1. 2. Poros tetap Poros geser/poros putar 3. 4. 5. 6. Skala utama Skala nonius Pemutar Pengunci Langkah kerja menggunakan Mikrometer sekrup 1. Menyiapkan alat dan bahan 2. Meletakkan alat dan bahan pada tempat yang datar dan nyaman 3. Putarlah pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi ‘klik’. 4. Mengukur ketebalan kertas HVS (1 Lembar) 5. Mengukur ketebalan Mistar 6. Menentukan skala tetap dan skala putar 7. Membuat tabel hasil pengamatan Contoh prosedur kerja dalam melakukan pengukuran dengan menggunakan micrometer sekrup: 1. Sebelum melakukan pengukuran observasilah micrometer sekrup yang akan digunakan,mencari batas ukur maksimal dan ketelitiannyam 2. Melakukan kalibrasi micrometer dengan memutar sekrup putar setelah landasan penjepit mendekati berimpit dengan lengan sekrup,memutar sekrup penggeser sampai berbunyi klik 1 kali.Mengamati skala utama apakah angka nol skala nonius putar sudah tepat berimpit dengan garis bujur skala utama,kalau belum tepat berimpit aturlah sekrup kalibrasi dengan obeng sampai nolnya tepat berimpit. 3. Melakukan pengukuran dengan cara menjepitkan kertas antara landasan penjepit dengan lengan sekrup .memutar sekrup putar sampai kertas hampir terjepit ,kemudian putar sekrup penggeser sampai berbunyi klik 1 kali. 4. Baca skala utama,skala nonius putar yang berimpit dengan garis penunjuk ketepatan pengukuran. Misalkan : 1. terdapat sebuah objek yang diukur, angka pada skala utama menunjukkan 4 mm, sedangkan sedangkan skala noniusnya berimpit pada angka 30. maka hasil pengukuranya adalah: 4 mm +( 30 x nst (0.01) mm) = 4,30 mm sedangkan untuk menentukan ketidakpastian/ketelitianya, kita menggunakan rumus: Ø Pengukuran tunggal, hasil = X±dX = 4,30±0,005 X = 4,30, dX = (1/2) x nst = (1/2) x 0,01 = 0,005 arti fisis dari hasil pengukuran tersebut adalah, panjang suatu benda dapat berkisar antara 4,305 dan 4,295 2. Misalnya skala nonius berada setelah skala utama. Ini bararti, panjang skala panjang benda yang diukur 2,5 mm. perhatikan , skala ke 7 dari skala nonius berimpit dengan garis mendatar pada skalautama. Ini berarti, jarak selisih jarak antara skala nonius dengan titik 2,5 mm sama dengan 7x0,01mm = 0,07 mm.berarti, panjang benda = (2,5+0,07)mm = 2,57 mm. Ketika melaporkan hasil pengukurannya, ada baiknya ( suatu keharusan jika kita melakukannya di laboratorium ) jika kita menuliskan ketelitian pengukuran kita, atau perkiraan ketidakpastian Dari hasil pengukuran kita.sebagai contoh diameter sebuah botol yang diukur dengan mistar bsa dinyatakan dalam 3,4+0,1 cm. Tulisan +0,1 cm (plus minus 0,1 cm) menyatakan ketidakpastian yang diperkirakan , sehingga diameter botol adalah antara 3,3 cm dan 3,5 cm. ketidak pastian hasil pengukuran juga bisa dinyatakan dalam persen. Sebagai contoh, pada hasil pengukuran diameter botol sama dengan 3,4+0,1 cm. persen ketidakpastiannya adalah 0,1/3,4x 100% = 3 %. Kadang-kadang hasil pengukuran tidak secara langsung menampilkan angka ketidakpastiannya.Namun demikian, kita harus bisa memperkirakan berapa ketidakpastian hasil pengukuran tersebut.Jika hasil pengukuran dituliskan 6,1 cm, kita perkirakan bahwa ketidakpastiannya 0,1 cm. jadi, panjang sebenarnya adalah antara 6,0 cm dan 6,2 cm.jangan sampai kita menuliskan hasil pengukuran dengan menggunakan mistar , sebagai 6,10 cm. Memang angka 6,10 cm sama dengan 6,1 cm, tetapi jika angka tersebut dimaksudkan sebagai hasil suatu pengukuran, artinya sangat lain . angka 6,10 cm menyiratkan bahwa ketelitian alat ukur yang digunakan sampai 0,01 cm. Dengan demikian , ketidakpastiannya pun sama dengan 0,01 cm. Jadi panjang sebenarnya adalah antara 6,09 cm dan 6,11 cm. tidak mungkin mengukur panjang dengan mistar memiliki ketelitian seperti itu. Dari sini kita sadari, bahwa angka 0 di belakang koma pun sangat penting di dalam menyatakan hasil pengukuran. Ø Pengukuran ganda/berulang 1. Kumpulkan sejumlah hasil pengukuran, misal x1, x2,…..xn 2. Cari nilai rata, yaitu xrata-rata= x1+x2+…..xn/n 3. Tentukan xmax dan xmin dari kumpulan data, dan ketidak pastian dapat ditulis dx=(xmax-xmin)/2 4. Tuliskan hasilnya sebagai: x=xrata-rata±dx Beberapa hal yang diperlukan sewaktu menggunakan mikrometer sekrup: a. Permukaan benda ukur, mulut ukur dari mikrometer sekrup harus dibersihkan dahulu adanya kotoran, terutama bekas proses pengukuran dapat menyebabkan kesalahan ukur maupun merusak permukaan mulut ukur. b. Sebelum dipakai kedudukan nol mikrometer sekrup harus diperiksa. Kedudukan nol disetel dengan cara merapatkan mulut ukur dengan ketelitian silindet tetap diputar dengan memakai kunci penyetel sampai garis referensi dari skala tetap bertemu dengan garis nol dari skala putar. c. Bukalah mulut ukur sampai sedikit melebihi dimensi objek ukur. Apabila dimensi tersebut cukup satu bar maka poros ukur dapat digerakkan dengan cepat dengan cara menyelindingkan silinder putat pada telapak tangan. Jangan sekali-kali memutar rangkanya dengan memegang silinder putar seolah-olah memegang mainan kanak-kanak. d. Benda ukur dipegang dengan tangan kiri dan mikrometer sekrup di telapak tangan kanan, dan ditahan oleh kelingking, jari manis, serta jari tengah. Telunjuk dan ibu jari dugunakan untuk memutar silinder pusat. Pada waktu mengukur, maka penekanan poros ukur brnda ukur tidak boleh terlalu keras sehingga memungkinkan kesalahan ukur karena adanya deformasi (perubahan bentuk) dari berida ukurmaupun alt ukurnya sendiri. Kecermatan pengukuran tergantung atas penggunaan tekanan pengukuran yang cukup dan selalu tetap. Hal ini dapat dicapai dengan cara memutar silinder putar melalui gigi gelincir atau tabung gelincir atau sewaktu poros ukur hampir mencapai permukaan benda ukur. Cara meningkatkan ketelitian antara lain: 1. Waktu membaca alat ukur posisi mata harus benar 2. Alat yang dipakai mempunyai ketelitian tinggi 3. Melakukan pengukuran berkali-kali Cara menentukan / membaca Mikrometer Sekrup 1. 2. Garis skala utama yang berdekatan dengan tepi selubung luar 4,5 mm lebih. Garis mendatar pada selubung luar yang berhimpit dengan garis skala utama. X = 4,5 mm + 47 x 0,01 mm = 4,97 mm (dua desimal) Ketidakpastian mikrometer sekrup ½ x 0,01 mm = 0,005 mm Jadi hasil pengukurannya Sangat perlu diketahui, pada saat mengukur panjang benda dengan mikrometer sekrup, bidal diputar sehingga benda dapat diletakan diantara landasan dan poros. Ketika poros hampir menyentuh benda, pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan benda. Dengan memutar roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros menyentuh benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi tidak teliti. 2.3. SPHEROMETER Spherometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur jari-jari kelengkungan permukaan lensa. Alat ini pertama kali dibuat tahun 1810 oleh ahli optic Perancis bernama Robert Aglae Cauchiox. Spherometer merupakan salah satu alat ukur panjang yang mempunyai 4 buah kaki yaitu 3 kaki tetap dan 1 kaki lainnya yang dapat bergerak naik atau turun yang terletak ditengahtengah ketiga kaki tetap. Ketiga kaki tetap berjarak sama satu dengan yang lainnya dan membentuk segitiga sama sisi. Bagian-bagian dari spherometer ialah: § Sekrup bergerak atau berputar di tengah-tengah § Tiga kali yang ujungnya membentuk segi tiga § Keping yang ada skalanya biasanya 30 skala § Batang skala yang terletak sejajar sekrup (skala dalam mm) § Keping yang berbentuk lingkaran yang melekat pada sekrup § Keping yang berbentuk lingkaran yang melekat pada sekrup § Pemutar sekrup. Alat ini dapat dipergunakan untuk mengukur jari-jari kelengkungan benda yang berbentuk bidang bola seperti cermin dan lensa cembung atau cekung. Hasil pengukuran jari-jari kelengkungan tersebut ( R ) dicari dengan menggunakan rumus : R = ( ½ h ) + S2 / ( 6h ) Keterangan : R : jari-jari kelengkungan benda yang diukur H : jarak pergeseran kaki tengah dari bidang yang sama dengan kaki yang lainnya S : jarak kaki-kaki pinggir yang tidak dapat bergerak sesamanya Spherometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kelengkungan suatu optik spesis ( lengkung ) baik iyu cermin spesis/lensa. Spherometer adalah alat untuk pengukuran yang tapat dari jari-jari sebuah bola, awalnya instrumen ini terutama digunakan oleh opticians untuk mengukur kelengkungan dari permukaan lensa. Skala utama pada spherometer berupa skala tegak yang terdiri dari 10 skala arah keatas dan 10 skala arah kebawah dengan angka nol ditengah-tengah, sehingga alat ini hanya mampu mengukur panjang sampai 10 mm. Nst skala utama alat ini adalah 1 mm, sehingga tanpa memperhatikan nonius nst adalah 1 mm. Alat ini mempunyai nonius berupa skala datar yang terdiri dari 100 skala ( untuk 1 kali putaran ) yang sama dengan h jarak satu bagian skala tegak. Sehingga nilai satu bagian skala nonius adalah 1/100 mm = 0,01 mm. Nilai 0,01 mm merupakan nst nonius spherometer atau tingkat ketelitian spherometer. Hasil pengukuran dengan spherometer ( h ) diperoleh dari ( angka penjumlahan skala utama x 1 mm ) + ( angka penunjukkan skala nonius x 0,01 mm ). Setelah h diukur dengan spherometer, kemudian diukur jarak antar sesama kaki tegak yang tidak dapat bergerak ( s ) dengan mistar. Selanjutnya jari-jari kelengkungan dapat dihitung menggunakan rumus diatas. . Percobaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini: a. Sebelum melakukan pengukuran, observasilah spherometer yang di gunakan, carilah batas maksimum dan ketelitiannya. b. Lakukan pengukuran tebal kaca, letakkan kaca yang akan diukur tebalnya di atas kaca plan parallel kemudian letakkan pula spherometer di atasnya. Putar lambat-lambat pemutar keping skala tegak dan keping skala datar. c. d. e. f. g. h. Lakukan juga pengukuran dengan cara yang sama terhadap kelengkungan lensa. Ukurlah jarak antara dua buah kaki spherometer dengan mistar sehingga didapat harga S. Cari jari-jari kelengkungan lensa dengan menggunakan rumus teori penunjang. Lakukan pengukuran masing-masing 5 kali. Laporkan hasil yang diperoleh beserta ketidakpastian mutlak dan ketidakpastian relatif. Simpulkan percobaan yang dilakukan. Dengan menggunakan spherometer untuk menentukan jari-jari kelengkungan lensa ( sisi dalam dan sisi luar ) dan dengan diketahuinya indeks bias lensa, maka nilai fokus lensa dapat ditentukan dengan persamaan : 1/F = ( n – 1 ) . ( 1/R1 – 1/R2 ) Sebuah spherometer adalah sebuah alat untuk pengukuran yang tepat dari jari-jari sebuah bola. Awalnya, instrument ini terutama digunakan untuk mengukur kelengkungan dari permukaan lensa. Karena spherometer pada dasarnya jenis mikrometer , dapat digunakan untuk tujuan selain mengukur kelengkungan dari permukaan bola. Sebagai contoh, dapat digunakan untuk mengukur ketebalan sebuah plat tipis. Untuk melakukannya, instrumen yang ditempatkan pada permukaan pesawat sempurna tingkat dan sekrup berubah sampai titik hanya menyentuh; instan tepat ketika ia melakukannya didefinisikan oleh penurunan tiba-tiba perlawanan berhasil oleh banyak peningkatan Kepala dan skala dibagi dibaca, sekrup dinaikkan, pelat tipis menyelinap di bawahnya, dan proses ini diulang. Perbedaan antara kedua bacaan memberikan ketebalan yang diperlukan. Bentuk yang biasa terdiri dari sekrup yang baik bergerak dalam sebuah mete dilakukan dipusat kaki kecil berkaki tiga tabel. Kaki simpul membentuk sebuah segitiga sama sisi. Kontak tuas, tingkat halus atau pengaturan kontak listrik mungkin harus terpasang kespherometer dalam rangka untuk menunjukkan saat menyentuh lebih tepat dari pada yang dimungkinkan oleh indera peraba. Untuk mengukur jari-jari sebuah bola misalnya kelengkungan suatu lensa yang spherometer ini diratakan dan membaca, kemudian diletakkan diatas bola, disesuaikan sampai empat poinmengarahkan tekanan sama dan membaca lagi. Perbedaan memberikan ketebalan yang bagian bola terputus oleh pesawat melewati tiga kaki. Pada h jarak ini, dan jarak antara kaki satu jari-jari R diberikan oleh rumus : Karena pada dasarnya adalah spherometer jenis micrometer, dapat digunakan untuk tujuan lain. Demikian juga instrument dapat mengukur depresi pada pelat datar sebenarnya. Metode ini akan sama untuk mengukur ketebalan piring, kecuali bahwa bagian micrometer ditempatkan diatas depresi dan pengukuran diambil dibawah permukaan, bukan diatas. Spherometer digunakan untuk mengukur tebal benda-benda yang tipis dan mengukur kelengkungan suatu permukaan spheris. Alat ini mempunyai dua macam skala, yaitu skala utama pada mistar M yang tegak dan skala nonius pada piringan P yang dapat berputar bersama sekrup putar S. Cara menentukan harga satu skala nonius sama,dengan cara yang digunakan pada micrometer sekrup. Cara pemakain spherometer adalah sebagai berikut: · Menentukan titik nol alat, yaitu spherometer diletakkan di tempat (alas) yang rata dan sekrup S diputar sampai ujung sekrup U menyentuh alas tersebut. Jika menggunakan alas dari kaca plan parallel, maka pada saat bayangan ujung sekrup berhimpit dengan ujung sekrup itu menandakan bahwa ujung sekrup sudah tepat menyinggung/ menyentuh alas jika tidak menggunakan kaca plan parallel, maka pada saat sekrup S diputar ternyata kaki spherometer K akan ikut berputar berarti ujung sekrup U sudah menyentuh alas. Sekrup S diputar sehingga jarak antara ujung sekrup dengan alas dapat ditempati oleh benda yang mau diukur tebal atau kelengkungannya. · Benda yang akan diukur tebal atau kelengkungannya diletakkan di antara alas dan ujung sekrup U. Sekrup S diputar sampai ujung sekrup tepat menyentuh permukaan benda yang diukur. Benda yang dapat diukur tebal atau kelengkungannya dengan spherometer adalah benda yang ukurannya lebih kecil dari jarak antara kaki-kaki spherometer. Spherometer yang masih baik digunakan adalah spherometer yang ujung-ujung piringannya tidak peot dan ujung sekrup U benar-benar runcing. Secara umum spherometer terdiri dari; 1. Sebuah lingkaran dasar tiga kaki luar, cincin atau setara. Bola memiliki radius lingkaran dasar. Perhatikan bahwa luar kaki dari spherometer ditampilkan dapat di pindahkan kebagian dalam set lubang untuk mengakomodasi lensa kecil. Hal ini juga berlaku dari spherometer tua dilaboratorium. 2. Sebuah kaki pusat, yang dapat dinaikkan atau menurunkan. 3. Sebuah perangkat membaca untuk mengukur jarak kaki sentral pindah pada spherometer baru, skala vertical ditandai dalam satuan 0,5 mm. salah lengkap pergantian tombol juga sesuai dengan 0,5 mm dan setiap wisuda kecil ini merupakan 0,005 mm. Kecil pada tua spherometer adalah 0,001 mm. Dalam mengukur panjang suatu benda ,selain memperhatikan ketelitian alat ukur juga memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur alatnya seperti spherometer. 2.4 KESETIMBANGAN Kesetimbangan benda sangat penting untuk dipelajari karena banyak sekali kegunaannya, antara lain dalam bidang tekhnik, bidang olahraga dan terkadang juga digunakan dalam bidang medis. Kesetimbangan adalah keadaan tidak bergerak, keadaan gerak lurus beraturan. Salah satu pengaruh dari gaya adalah mengubah keadaan gerak suatu benda. Gerak ini dapat dianggap sebagai gerak benda secara keseluruhan, atau gerak translasi, bersama-sama dengan gerak rotasi yang mungkin juga dilakukan oleh benda. Dalam hal yang sangat umum, sebuah gaya yang beraksi pada suatu benda menyebabkan perubahan dalam gerak translasi dan rotasi. Akan tetapi, bila beberapa buah gaya bersama-sama beraksi pada suatu benda, pengaruhnya dapat saling meniadakan, dan hasilnya tidak ada perubahan pada gerak translasi maupun rotasi. Bila hal ini terjadi, dikatakan bahwa berada dalam keadaan setimbang. Dengan langjah-langkah kerja sebagai berikut : 1. Rakit satatif dan dinamometer layaknya suatu alat pengukuran kesetimbangan. 2. Ikatlah beban dengan benang buatlah sampul untuk nantinya diikatkan kepada dinamometer. 3. Gantungkan beban kepada dinamo meter 4. Geser dasar statif agar masing-masing dinamometer membuat sudut ( dengan garis pertikal, ukur sudut a1 dan a2 dengan busur derajat. 5. 6. 7. Baca besanya F1,dan F2 pada masing-masing dinamometer dan catat hasilnya. Ulangi langkah d dan e untuk sudut-sudut yang berbeda. Laporkan hasil percobaan dan buatlah kesimpulan. Kesetimbangan dikatakan stabil apabila benda akan kembali kekedudukan semula sesudah padanya diadakan gangguan sedikit. Kesetimbangan labil apabila sebaliknya yaitu tidak kembali kekedudukan semula. Kesetimbangan dikatakan netral apabila pergeseran sedikit dari kedudukan setinbang tidak mempengaruhi kesetimbangan, artinya benda tetap dalam keadaan setimbang meskipun dalam dalam pergeseran kecil. Tinjau tiga buah gaya masing-masing F1, F2, dan F3 yang berkerja pada suatu titik tangkap dapat di ukur sebagaimana: Jika F1, F2, dan F3 setimbang, maka berlaku persamaan berikut : Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hasil bagi setiap besarnya gaya dan sinus diseberangnya selalu bernilai sama. Alat ukur yang terdiri dari tiga kaki tetap ini melalui pusat tiga kaki dipasang sekrup mikrometer dan alat pengukurnya. Sekrup ini memiliki plat skala lingkar, jarak pengukur skala 0,5 mm dengan angka skala dari 0-500, sehingga vertikal dari ujung pengukur dapat dibaca dengan ketetapan 1 NM. (1NM = 0,0001 m) Jari-jari kelengkungan (R) dapat dihitung berdasarkan persamaan phitagoras: R= r² + (R-h)² Disini: r = jarak kaki ke pusat dalam posisi datar h = jarak cembung (yang di ukur dengan spherometer) Maka: R = (r²:2h) + (h:2) Kedudukan benda selalu menuju kearah kedudukan yang tenaga potensial sekecil mungkin. Jadi, kesetimbangan adalah stabil apabila pada kedudukan setimbang itu tenaga potensialnya telah minimum. Kesetimbangan pada sebuah partikel dapat dianggap sebagai suatu kesetimbangan pada suatu titik. Partikel dianggap sebagai suatu benda yang dapat diabaikan massanya, atau dianggap sebagai titik materi. Semua gaya yang bekerja pada benda dianggap bekerja pada titik tersebut. Syarat kesetimbangan statiknya adalah jika resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut sama dengan nol. Secara matematis dituliskan sebagai : =0 dan =0 Dengan = resultan gaya pada komponen sumbu X = resultan gaya pada komponen sumbu Y Ditinjau dari keadaannya, kesetimbangan terbagi dua, yaitu:1. = 0) v = 0 (statis) v = konstan (dinamis Kesetimbangan Translasi (a åF=0 å Fx = 0 ; å Fy = 0 2. Kesetimbangan Rotasi (alpha = 0) w = 0 (statis) w = konstan (dinamis) å t = 0 ® pilih pada suatu titik dimana gaya-gaya yang bekerja terbanyak Posted 4th January 2011 by Rheiyan