makalah Hubungan Antara Aspek Legal Dan Moral Dalam Hukum Islam


    I PENDAHULUAN
       I.            PENDAHULUAN
Filsafat hukum adalah cabang filsafat, yaitu filsafat tingkah laku atau etika, yang mempelajari hakikat hukum. Dengan perkataan lain, filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum secara filosofis. Jadi objek filsafat hukum adalah hukum, dan objek tersebut dikaji secara mendalam sampai kepada inti atau dasarnya, yang disebut hakikat.
Ilmu hukum hanya melihat gejala-gejala hukum sebagaimana dapat diamati oleh pancaindra manusia mengenai perbuatan-perbuatan manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu pertimbangan nilai di balik gejala-gejala hukum, luput dari pengamatan ilmu hukum. Norma atau kaidah hukum, tidak termasuk dalam dunia kenyataan(sein), tetapi berada pada dunia nilai (sollen), sehingga norma hukum bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.
    II.  PEMBAHASAN
A.    Moral dan Hukum
·         Hukum
Hukum adalah kumpulan aturan, baik sebagai hasil pengundangan formal maupun dari kebiasaan, di mana suatu Negara atau masyarakat tertentu mengaku terikat sebagai anggota atau sebagai subyeknya, orang yang tunduk padanya atau pelakunya.
Menurut Hooker istilah hukum berlaku bagi setiap aturan atau norma dimana perbuatan-perbuatan terpola. Hukum juga merupakan suatu proses menyeimbangkan berbagai kepentingan yang bertabrakan dan menjamin pemenuhan keinginan-keinginan secara maksimum dengan sedikit mungkin percekcokan, intinya yaitu:
1. peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat.
2. peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib.
3. peraturan itu bersifat memaksa.
4. sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tugas.
·         Moral
Secara etimologis moral berasal dari bahasa Belanda “moural”, yang berarti kesusilaan, budi pekerti. Sedangkan menurut W.JS.Poerwadarminta moral berarti ajaran tentang baik buruk prbuatan dan kelakuan.
Dalam Islam moral dikenal dengan istilah akhlak.  Al-Ghazali dalam ihya ulumudin menerangkan definisi
الخلق اراة عن هيئة في الفغس وامخه عنها بصدر الانفعال سهوله ويسر من غير حاجة الفقر ورؤية
“akhlak adalah perilaku jiwa, yang dapat dengan mudah melahirkan perbuatan-perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.
Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Jadi moral adalah tata aturan norma-norma yang bersifat abstrak yang mengatur kehidupan manusia untuk melakukan perbuatan tertentu dan sebagai pengendali yang mengatur manusia untuk menjadi manusia yang baik.
Moral sangat penting dalam pergaulan hidup di dunia ini,oleh karena itu allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk mengambil contoh teladan dari moral nabi Muhammad SAW dengan firmannya dalam surat al-ahzab ayat 21 yang berbunyi:
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS. al-Ahzab:21)

B.     Moral Dalam Pandangan Hokum Islam Dan Hukum Sekular
Manusia sebagai makhluk social dan berbudaya pada dasarnya dipengaruhi oleh nilai-nilai kemanusiaan. Nilai tersebut berupa: etika yang erat hubungannya dengan moralitas, maupun estetika yang berhubungan dengan keindahan.
Hukum ada untuk memenuhi kebutuhan social. Sedangkan agama merupakan alat untuk mengontrol masyarakat agar tidak menyimpang dari norma-norma etika yang ditentukan oleh agama tersebut. Ruang lingkup hokum islam mencakup semua hubungan, baik kepada Tuhan maupun kepada manusia. Hal ini dikarenakan asal-usul, sifat dan tujuan hokum islam diikat oleh etika agama. Hokum islam  mengklasifikasikan tindakan berkenaan dengan dengan standar mutlak baik dan buruk yang tidak dapat ditentukan secara rassional, karena Tuhan sendirilah yang mengetahui apa yang benar-benar baik dan buruk.
Sekularisme merupakan salah satu ideology yang memisaahkan antara institusi (Negara) dengan agama (kepercayaan). Sekularisme memiliki  anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutamanya yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan.
Contoh hokum islam yang mengtumakan moralitas dan hokum secular adalah dalam hokum pidana  islam. Dalam hokum pidana terdappat ketentuan hukumpotong tangan untuk pecuri dipandang sadis dan salah. Karena halini bertentangan dengan KUHP pasal 362 “pencuri diancam penjara paling lama 5 tahun”.

C.     Perdebatan Antara Legal Moralism Dan Legal Positivism Dalam Hukum Sekular
Hukum positive yang didukung oeh Coulson dan Kerr dipisahkan dari keadilan dan etika. Positivism menolak pengetahuan normative tentang etika dan menganggap etika tidak termasuk dalam kategori ilmiah. Aliran ini menganggap bahwa antara hokum dan moral mempunyai bidang sendiri-sendiri yang tidak berhubungan antara satu dengan lainnya.
Aliran imperative Austin menganggap hokum sebagai perintah penguasa. Menurutnya hokum positif merupakan suatu aturan umum tentang tingkah laku yang ditentukan oleh petinggi politik untuk kelompok yang lebih rendah. Tujuan Austin adalah memisahkan antara hokum positif dari aturan-aturan social, seperti moralitas.

 III.            KESIMPULAN
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara hukum dan moral. Dalam perspektif hukum Islam, moral justru menjadi ruh bagi hukum. Perintah dan larangan yang melekat di dalam norma hukum Islam senantiasa memuat pesan moral . Berbagai literatur Hukum Islam dari klasik hingga modern menunjukkan bahwa yang terpenting dari hukum itu adalah maqashidu al-syâr’inya, atau tujuan akhir dari hukum itu sendiri, yaitu menegakkan keadilan, dan demi kemaslahatan umat manusia.
Hukum adalah kumpulan aturan, baik sebagai hasil pengundangan formal maupun dari kebiasaan, di mana suatu Negara atau masyarakat tertentu mengaku terikat sebagai anggota atau sebagai subyeknya, orang yang tunduk padanya atau pelakunya. Sedangkan moral berarti ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan. Ada yang memberi pengertian moral sebagai kaidah, nilai yang terkait dengan ihwal atau perbuatan baik manusia.

 IV.            PENUTUP
Demikianlah makalah ini saya buat, apabila masih banyak terjadi kesalahan dalam penyusunan makalah ini, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif  supaya dalam penyusunan makalah ke depan lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermafaat bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya.



DAFTAR PUSTAKA

Djamil, Fathurrahman, “Filsafat Hukum Islam”, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997
Muslehuddin, Muhammad, “Filsafat Hukum Islam Dan Pemikiran Orientalis”, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1991
Samahuddin, “Filsafat Hukum Islam”, Jakarta: Bumi Aksara Jakarta, 1992

http://hmimpopekanbaru.blogs