makalah problematika dan tan tantangan dakwah kontemporer

BAB I
PENDAHULUAN

A       Latar Belakang Masalah
Sebagai ilmu pengetahuan, dakwah tidak tertinggal jauh oleh cabang-cabang ilmu lainnya. Apalagi di era sekarang ini yang serba modern, dakwah metode cultural kurang berpengaruh dalam masyarakat apalagi masyarakat kota. Islam merupakan agama dakwah, yaitu agama yang menganjurkan kepada pemeluknya untuk mengajak segenap manusia supaya beriman, beramal dan berkarya serta menata kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dakwah sebagai tugas mulia dalam pelaksanaannya belum dikelola dengan baik. Menurut kamus bahasa arab da’a, yad’u, da’watan yang berarti menyeru, mengundang atau ajakan. Inilah Allah SWT dalam menugaskan dan memberitahu kepada orang-orang mukmin tentang dakwah. Kegiatan dakwah yang kian hari kian mendapat tantangan yang sangat kompleks, mesti ditunaikan dengan beragam kekuatan dan potensi. Paling tidak tantangan yang menghadang lajunya perkembangan dakwah islamiyah di Indonesia yaitu salah satunya adalah Dakwah Kontemporer.
Adapun metode yang harusnya ditempuh oleh para dai adalah dengan menggunakan kalimat yang lembut, tidak kasar apalagi mencacinya, dan apapun ketika seseorang itu menolaknya maka ajaklah ia dengan berdiskusi atau berdialog dengan argument-argumen yang kuat sehingga bisa meyakinkan dan tidak pula tetap dengan suasana yeng tentram. Dakwah menjadi kajian akademik kira-kira pada abad ke-20 setelah adanya beberapa tulisan yang membicarakan tentang dakwah yang diperkuat dengan berdirinya jurusan dakwah pada fakultas-fakultas. Dengan lahirnya dakwah kontemporer ini, para penda’I dapat bersaing secara sehat dengan ilmu-ilmu lainnya yang telah berkembang begitu cepat, apalagi dengan lahirnya internet yang semakin hari semakin canggih dan semakin mudah berkembang serta semakin mempengaruhi orang yang menggunakan.
B            Rumusan Masalah
1     Apa Pengertian dari Dakwah Kontemporer itu?
2     Bagaimana Dakwah di Era yang Kontemporer ini?
3     Apa saja Tantangan-Tantangan Dakwah Kontemporer?

BAB II
PEMBAHASAN

A           Pengertian Dakwah Kontemporer
              Dakwah yang pada intinya menyeru kepada Allah, adalah kewajiban setiap muslim. Kesadaran ini penting ditanamkan pada setiap muslim. Allah SWT berfirman dalam QS an Nahl : 125 yang artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.  Terkait dengan seruan untuk berdakwah, lahirlah istilah dakwah kontemporer saat ini, yang mana dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang, misalnya televisi, radio, media cetak, internet, dan lain-lain. Dakwah kontemporer saat ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas. Teknis yang ada dan yang digunakan dalam dakwah kontemporer ini juga sangat berbeda dengan dakwah kulutral. Jika dalam dakwah kultural pada umunya dilakukan dengan menyesuaikan dengan budaya yang ada pada masyarakat setempat, tetapi berbeda dengan dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang saat ini.
              Persaingan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah merupakan tantangan bagi para da’i kita untuk segera berpindah dari kebiasaan dakwah kultural ke dakwah kontemporer. Dakwah kontemporer yang dimaksud adalah dakwah yang menggunakakan fasilitas teknologi modern sebagaimana iklan yang sedang marak-maraknya. Al-qur’an yang selama ini banyak disampaikan dengan cara tradisional. Munculnya teknologi dibidang internet atau komputer ini sebenarnya sangat membantu bagi para da’i dalam menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan metode tematik. Walaupun kita sadari bahwa para da’i kita banyak yang tidak bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Munculnya Holy Qur’an, Holy Hadist merupakan kemajuan yang luar biasa bagi umat Islam umumnya dan para da’i pada khususnya untuk segera direalisasikan kepada umat yang selama ini dalam menggali Al-Qur’an  itu dengan metode tradisional. Dakwah yang menggunakan fasiltas mimbar-mimbar hanya akan didengar sebatas yang hadir pada acara tersebut. Lain halnya dengan dakwah yang menggunakan fasilitas teknologi elektronik seperti TV, internet dan teknologi modern lainnya pasti akan lebih banyak manfaatnya.
              Dakwah kontemporer yang memanfaatkan teknologi modern lebih banyak manfaatnya daripada dakwah kultural yang masih harus menyesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah. Materi dakwah yang tepat untuk menghadapi mayarakat modern ini adalah materi kajian yang bersifat tematik, artinya Islam harus dikaji dengan cara mengambil tema-tema tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.  Sedangkan fasilitas yang tepat adalah dengan menggunakan media cetak dan elektronik hasilnya akan lebih banyak serta jangkauan yang lebih luas.
B            Problematika Dakwah di Era Kontemporer
              Mengingat aktivitas dakwah tidak terlepas dari masyarakat, maka perkembangannya pun seharusnya berbanding lurus dengan perkembangan masyarakat. Artinya, aktivitas dakwah hendaknya dapat mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat. Selama ini aktivitas dakwah jauh tertinggal dengan perkembangan dan perubahan masyarakat sehingga dakwah terkesan jalan di tempat. Dakwah belum dijadikan sebagai pedoman atau panduan oleh masyarakat dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.[1]
              Sekurang-kurangnya, menurut Abdul Basit ada tiga problematika besar yang dihadapai dakwah para era kontemporer ini, yaitu: Pertama, pemahaman masyarakat pada umumnya terhadap dakwah lenih diartikan sebagai aktivitas yang bersifat oral communication (tabligh) sehingga akktivitas dakwah lebih berorientasi pada kegiatan-kegiatan ceramah atau tabligh. Di satu sisi, kegiatan ceramah memberikan keberuntungan tersendiri seperti adanya kontak langsung antara da’i dengan audiens (mad’u), seorang da’i tidak membutuhkan persiapan yang matang, mad’u tidak memerlukan energi yang banyak untuk berfikir, dan audiens ceramah bisa bersifat heterogen maupun homogen. Di sisi lain, ada kelemahan-kelemahan mendasar dari kegiatan ceramah, di antaranya: mad’u harus menyediakan waktu yang cukup untuk mengikuti ceramah. Padahal di era kontemporer ini, masyarakat banyak yang tidak memiliki waktu dikarenakan sibuk dengan kesibukannya dalam bekerja. Selain itu, ceramah dapat membosankan dan menjenuhkan, tidak efektif dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah disebabkan daya tangkap manusia sangat terbatas, dan kelemahan-kelmahan lain yang terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang da’i.[2]
              Kedua, problematika yang bersifat epistemologis. Dakwah pada era sekarang bukan hanya bersifat rutinitas, temporal dan instan, tetapi dakwah membutuhkan paradigm keilmuan. Dengan adanya keilmuan dakwah tentunya hal-hal yang terkait dengan langkah-langkah strategis dan teknis dapat dicari rujukannya melalui teori-teori dakwah. Selama ini, aktivitas dakwah berjalan terus menerus tanpa menggunakan kerangka teoritis yang jelas. Akibatnya, aktivitas dakwah berjalan tanpa perencanaan dan evaluasi. [3] Problem yang muncul berkenaan dengan epistemology dakwah, menurut Awis Karni, yaitu: Pertama, dari segi sejarah munculnya dan perkembangan ilmu-ilmu yang ada dalam Islam bahwa ilmu dakwah tidak ada dalam khazanah ilmu-ilmu Islam klasik seperti halnya ilmu kalam, filsafat Islam, tasawuf, fiqih, hadist, dan sebagainya. Sementara itu, kesulitan juga muncul ketika ada pembicaraan siapa mujtahid pertama yang menggagas munculnya ilmu dakwah. Kedua, ketika dakwah ditinjau dari teori keilmuan yang atau filsafat ilmui, problem muncul waktu menjelaskan epistemologi dakwah. Problem ini terutama terkait dengan objek kajiannya, baik secara formal maupun material, sistem dan metodologi, serta aksiologi dakwah dalam menjelaskan kenyataan yang dihadapi dakwah Islam.[4]
              Ketiga, problem yang menyangkut sumber daya manusia. Aktivitas dakwah masih dilakukan secara sambil lalu atau menjadi pekerjaan sampingan. Implikasinya banyak bermunculan da’i-da’i yang kurang professional, rendahnya penghargaan masyarakat terhadap profesi da’i, dan lemahnya manajerial yang dilakukan oleh da’i dalam mengemas kegiatan dakwah. Banyak da’i yang gagap dengan teknologi yang sedang berkembang, tidak adanya penelitian dan perencanaan yang matang secara sistematis dan kurangnya koordinasi antar organisasi atau Perguruan Tinggi yang bergeraj di bidang dakwah. Idealnya, seorang da’i tidak hanya memilki kompetensi yang bersifat substantif saja seperti kemampuan dari sisi materi-materi dakwah dan akhlak da’i, tetapi juga membutuhkan kompetensi lain berupa metodologi sehingga kompetensi substantif yang dimilkinya dapat ditransformasikan kepada masyarakat secara efisien dan efektif. [5]
C           Tantangan-Tantangan Dakwah Kontemporer
              Dewasa ini, tantangan dakwah tampaknya semakin berat, terutama tantangan akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dampak dari arus modernisasi dan globalisasi. Walaupun di balik tantangan tersebut sesungguhnya juga menawarkan peluang-peluang yang harus dimanfaatkan. Tantangan dakwah kontemporer dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu: Pertama, tantangan yang merupakan ekses atau dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sisi buruk dari globalisasi. Kedua, tantangan yang berasal dari pihak non-Muslim, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, berbagai progam dan strategi yang mereka lakukan. Ketiga, tantangan dakwah akibat dari berbagai persoalan kebangsaan yang memberikan efek negatif kepada kegiatan dakwah. Sementara pada sisi lain, dakwah juga dihadapkan dengan persoalan kemiskinan, terutama dampak dari krisis ekonomi, yang telah mengakibatkan penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Selain itu, tantangan atau permasalahan pemurtadan dan ghazwul Fikr yang dilakukan pihak non-Muslim dan hal ini hanya selalu diwaspadai. Dalam konteks ghaswul Fikr, terdapat berbagai tuduhan dari pihak luar Islam seperti Islam dikembangkan dengan pedang dan perang, serta tuduhan Islam agama teroris.
              Mereka telah menyalahgunakan kebebasan berekspresi untuk memprovokasi, menghina keyakinan dan melukai hati umat Islam. Semua bentuk serangan terhadap Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks dakwah, semua tuduhan itu harus dijawab secara akademis, bukan dengan sentiment yang berlebihan. Sejauh ini memang sudah ada beberapa upaya untuk mengkanternya, seperti yang dilakukan oleh Irena Handono dan teman-temannya. Ia menulis buku dengan judul: Islam Dihujat: Menjawab buku the Islamic Invasion. Ke depan usaha-usaha seperti itu, harus dilakukan, sehingga ada keseimbangan antara informasi dan wawasan bagi masyarakat dunia.
              Tantangan dakwah pada tataran nasional juga sangat beragam. Bangsa Indonesia sekarang sedang melangkah dari kehidupan agraris yang bersahaja kepada kehidupan industry. Proses industrialism dan modernisasi, manusia dapat lupa terhadap hakikat hidup dan fungsi ganda yang diembankannya, yaitu sebagai pengabdi kepada Allah (abdun), sebagai khalifah dan penerus risalah kenabian.  Manusia dapat menjadi makhluk penyembah teknologi, materu dan kepada sesame. Kalau kondisi ini muncul akibatnya akan menghasilkan industri yang mengelu-elukan teknologi, serta muncul sikap mental arogan terhadap nilai-nilai transenden yang ditawarkan oleh wahyu Ilahi. Kemudian pada gilirannya akan menjurus kepada pemikiran dan sikap hidup yang sekuler, baik dalam pengertian pemisahan agama dengan politik, maupun dalam pengertian terbebasnya manusia dari kontrol ataupun komitmen terhadap nilai-nilai agama.
              Dakwah Islam dituntut untuk memberikan nilai terhadap ilmu pengetahuan, yaitu pada tahap aksiologis, sehingga penerapan ilmu tidak memberikan dampak negatif bagi kehidupan umat manusia. Demikian juga halnya dalam penerapan teknologi. Baik terhadap ilmu pengetahuan maupun terhadap teknologi, yang sangat menentukan disinilah adalah manusianya yang mengendalikan ilmu dan teknologi itu. Tantangan berikutnya, yang semakin terasa saat ini adalah akibat dari munculnya era globalisasi. Pada era ini, dunia terasa tidak luas lagi dan kehidupann manusia antar Negara menjadi transparan. Akibatnya adalah muncul nilai-nilai baru yang dapat mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. Media massa saat ini, seperti radio, televisi, pers dan teknologi mutakhir, dikuasai oleh pihak barat. Dalam konteks dakwah keberadaannya harus selalu diperhitungkan, sebab secara teori media masa mempunyai fungsi memberikan informasi (to inform), mendidik (to educated) dan menghibur (to entertainment). Media massa juga bersifat ambivalen, pada satu sisi menawarkan “rahmat” yaitu kebaikan, kemudahan, dan pencerahan kepada umat manusia sebagaimana fungsi diatas.


BAB III
PENUTUP

A      Kesimpulan
Dakwah yang pada intinya menyeru kepada Allah, adalah kewajiban setiap muslim. Kesadaran ini penting ditanamkan pada setiap muslim. Allah SWT berfirman dalam QS an Nahl : 125 yang artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.
         Dakwah pada era kontemporer ini dihadapkan pada berbagai tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Hal ini tidak terlepas dari adanya perkembangan dan dinamika masyarakat yang semakin maju dan beradab. Pada masyarakat agraris yang dimana kehidupan manusia penuh dengan kesederhanaan dan kesahajaan tentunya terdapat problematika hidup yang berbeda dengan masyarakat kontemporer sekarang ini yang cenderung materialistik dan individualistik. Begitu juga tantangan dan problematika dakwah yang dihadapkan pada berbagai persoalan yang sesuai dengan tuntutan pada era sekarang ini.
B      Saran
Saran untuk umat Islam kita harus bisa mengambil sisi positif dari segala perubahan yang ada, kita harus bisa menyaring serta memfilter mana yang memang cocok untuk diambil dan dianut. Dakwah kontemporer disini banyak dihadapkan pada beberapa tantangan dan problematika yang semakin kompleks. Dakwah kontemporer menggunakan fasilitas media massa sebagai proses penyebaran dakwah informasi. Kita sebagai umat Islam harus bisa mengetahui dan mengikuti mana yang baik untuk diambil.

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Wasit. 2006. Wacana Dakwah Kontemporer. Purwokerto: STAIN             Purwokerto.
Awis Karni. 2005. Dakwah Islam di Perkotaan: Studi Kasus Yayasan Wakaf                     Paramadina. Disertasi, PPS IAIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Muhammad Arkoun. 2005. Islam Kontemporer: Menuju Dialog Antar                               Agama.            Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yatimin Abdullah. 2006. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Amzah.




[1] Abdul Basit. Wacana Dakwah Kontemporer. Purwokerto: STAINPress, 2006. Hlm:3.
[2] Ibid. hlm: 3-4.
[3] Ibid. hlm: 4.
[4] Awis Karni. Dakwah Islam di Perkotaan. Jakarta, 2000. Hlm: 28-29.
[5] Abdul Basit. Wacana Dakwah Kontemporer. Purwokerto: STAINPress, 2006. Hlm:5-6.