makalah SEJARAH DALAM TAREKAT NAQSABANDIYAH KHOLIDIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mungkin tiap orang bisa menangkap salah keterangan ini dengan mengambil kesimpulan,bahwa yang perlu untuk mendekati tuhan hanyalah ucapan tahlil,tdak perlu sembahyang,tidak perlu puasa,tidak perlu zakat,dan tidak perlu haji.Tarekatlah dan mursyidnya yang akan menunjuk mengajari orang itu serta membimbingnya,bahwa maksudnya itu bukan demikian,Disamping semua kewajiban agama,yang kadang-kadang dikerjakan dengan tidak berjiwa,keyakinan mentauhidkan tuhan itulah yang tidak boleh ditinggalkan,apakah tauhid itu akan diucapkan dengan lidah sebagai latihan,apakah ia akan diresapkan dengan ingatan,semua itu pekerjaan seorang mursyid yang bijaksana.lebih dahulu meresapkan keesaan tuhan,kemudian baru taat dan mempersembahkan amal ibadat kepada-NYA.
Salah satunya yang sangat penting bagi sebuah tarekat adalah silsilah.Silsilah itu bagaikan kartu nama dan legitimasi sebuah tarekat,yang akan menjadi tolok ukur sebuah tarekat itu mu’tabarah(dianggap sah) atau tidak.Silsilah tarekat adalah ”nisbah”,hubungan guru terdahulu sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada nabi.Hal ini harus ada sebab bimbingan keruhanian yang diambil dari guru-guru itu harus benar-benar berasal dari nabi.kalau tidak demikian halnya berarti tarekat itu terputus dan palsu,bukan warisan dari nabi.  
B.     Rumusan Masalah
Terutama di negeri kita ini pada waktu yang akhir sangat banyak  terpelajar mencemoohkan tarekat,sebagaimana mereka mencemoohkan tasawwuf umumnya,seakan-akan suatu pekerjaan yang dibuat-buat dan tersia-sia dalam kehidupan islam.Apakah mereka sudah kenal tarekat atau tasawwuf itu dari dekat?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah  ini adalah:
1.      Salah  satu syarat  untuk mengikuti UAS (ujian akhir semester) 2013/2014
Tujuan umum :
1.      Untuk mengetahui sejauh mana Tarekat itu apakah sudah tersosialisasi dengan baik,
2.      Untuk menambah pengetahuan tentang tarekat dan tasawuf
D.    Manfaat Penulisan
1. Memotivasi kita agar selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah
2. Ilmu itu penting, maka dari itu tiada istilah tua untuk belajar
3. Menambah pengetahuan kita tentang sebuah tarekat


BAB II
SEJARAH DALAM TAREKAT NAQSABANDIYAH

I. Sejarah Tareqat Naqsabandiyah Kholidiyah
Cabang naqsabandiyah diturkestan mengaku berasal dari tarekat thaifuriyah dan cabang-cabang yang lain terdapat dicina,kazan,turki,India dan jawa.disebutkan dalam sejarah bahwa tarekat itu didirikan oleh bahauddin,pada tahun 1338 M.dalam pada itu ada suatu cabang naqsabandiyah diturki,yang berdiri dalam abad ke XIX,bernama tarekat kholidiyah.
Menurut sebuah kitab,dikatakan,bahwa pokok-pokok tarekat kholidiyahdiletakkan oleh syeikh sulaiman zuhdi al-kholidi,yang lama bertempat tinggal dimekkah.dalam silsilah dapat dibaca,bahwa tawassul tarekat ini dimulai dengan Dyiyaudin kholid,sambung-menyambung  dengan beberapa syeikh naqsabandiyah,akhirnya sampai kepada thaifur,ja’far,salman,abu bakar dan terus-menerus sampai nabi muhammad saw,jibril dan ALLAH.jika kita selidiki akan kelihatan,bahwa perpecahan tarekat ini dimulai dari tarekat Aliyah,satu cabang dari pada tarekat naqsabandiyah khwajakaniyah yang terkenal.
 Untuk memperjelas mengenai sejarah perkembangan tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah, berikut ini tarekat yang berada disalah satu di kota kita yaitu kudus mengemukakan juga mengenai sililah masyayikh tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah sebagai berikut: Syekh Arwani, Syekh Mansur Solo, Syekh Muhammad, Syekh Sulaiman al Zuhdi, Syekh Ismail al Barusiy, Syekh Sulaiman al Quraimi, Syekh Kholid al Baghdadi, Syekh Abdillah al Dahlawi, Syekh Khabibillah, Syekh Nur Muhammad al Badwani. Syekh saifiddin Syekh Muhammad Ma’sum Syekh Ahmad al FaruqiSyekh Muhammad al Baqy Billa. Syekh Muhammad alkhowaajiki. Syekh Darwisy Muham.  Syekh muhammad Zahi. Syekh Ubaidillah al kharor. Syekh Ya’qub al Jarkhiy. Syekh Muhammad ibn ‘alaiddin al ‘atthor. Syekh Muhammad Bahaiddin al Naqsabandi Syekh Amir Kullal Syekh muhammad Baabaa al Samasi, Syekh Ali al Rumtan Syekh Mahmud al anjir faghnawi, Syekharif al Riwikari. Syekh Abdil Kholiq al Ghozduwani. Syekh Yusuf al Hamadaani. Syekh Abi Ali al Fadhil. Syekh Abi al Hasan Ali al Khorqni. Syekh Abi Yaid Thoifur al Bisthomi. Syekh Ja’far Shodi. Syekh Qosim bin Muhammad. Sayyidina Salman al Farisi. Sayyidina Abi Bakar assiddiq. Rasulillah Muhammad SAW.Sayyidina Jibril as. Allah SWT.
Adap suluk yang dibicarakan dalam tarekat ini sesuai dengan ajaran khawajaniyah,terdiri daripada delapan tingkat,dinamakan menurut bahasa persi,pertama husye dardam,yaitu bernafas tanpa giffah,hudur dan wukuf dalam segala keluar masuk nafas pada tiap hal dan tempat,kedua nazar barqadam,melihat kepada kaki
untuk menguatkan hudurdan membersihkan jiwa dalam air afaqi,karena konon panca indera yang lima adalah sumber mata air yang dapat membersihkan hati,tetapi dapat juga mengotorkannya,kewajibannya ialah menjaga hati itu yang luasnya seperti lautan samudera,agar tidak dikotorkan.ketiga safar dan wathan,yang sebenarnya berarti merantau dalam tanah air mencari dalam sesuatu daerah tertentu,I tetapi dimaksudkan ialah menukarkan akhlak dan sifat dalam sir diri,dari fana kepada  keadaan yang lain,dari suatu ta’yin kepada la ta’yin.keempat ialah khalawatu dar anjuman,yang berarti tunggal dalam yang banyak.dengan kata ini dimaksudkan,bahwa pada permulaan khalawat salik itu halnya adalah banyak dalam tunggal,oleh karena itu ia diselubungi khawatir.maka menjadilah pendengarannya dan penglihatannya sesuai dengan haq,sebagaimana disebutkan dalam hadist.kelima berbunyi yadkart,dengan arti dzikrulloh yang dibagi atas dzikir ism dzat dengan wukuf,dan zikir naïf serta isbat dengan syarat.keenam baz kasat yang sama artinya dengan “o,tuhan engkaulah tujuanku,kerelaanMu lah yang kucari”,ketujuh nakah dasyat yaitu bahwa dia diingat dan mengingatnya ialah tuhan.kedelapan yad dasyat,yang berarti lahir tauhid hakiki dengan lidah sesudah fana dan baqo yang sesempurna-sempurnanya.
II. Sistem Pengelolaan Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah
Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah memilih suasana cukup sepi dan sejuk dengan pohon-pohon nyiur, bambu serta tumbuh-tumbuhan lainnya yang rindang. air sungai Gelis yang jernih membantu dalam penyediaan air untuk para peserta khalwat.Kegiatan tarekat ini sebagai mursyidnya adalah biasanya pengasuh pondokPesantren,Tarekat naqsabandiyah kholidiyah pengelolaannya adalah sebagai berikut:
Secara umum kegiatan tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah
dilaksanakan di masjid sebagai pondok tarekat, baik itu tawajuhan, sulukan ataupun pengajian. Baik itu penajian al Qur’an maupun siraman rohaninya. Dan dalam kegiatan itulah materi-materidiajarkan kepada para pengikut tarekat ini. Dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, para anggota tarekat berdatangan ke tempat yang telah di tentukan.Seperti lazimnya yang terdapat di setiap perkumpulan tarekat,biasanya kelompok tarekat mereka yang sudah lanjut usia yang tampaknya sudah tidak lagi didorong oleh keinginan mengejar kehidupan duniawi sebagai dasar utama untuk memperoleh kebahagiaan, mereka merasakan bahwa kebutuhan spiritual untuk lebih mendekati Allah adalah merupakan tuntutan hidupnya yang paling menonjol.
Sebagaimana telah tertuang dalam bab dua, bahwa tarekat tidak mengupas tasawuf dari segi falsafahnya, tetapi lebih menekankan pada penguasaan amaliah atau praktek di dalam menjalankan tarekat. Karena hal inilah yang kelihatannya lebih mudah menarik perhatian serta minat kaum awam untuk mengikuti tarekat, karena mereka rata-rata minat agamanya cukup kuat tetapi pengertian agamanya masih terbatas. Seperti yang sering di singgung oleh para pengamat tarekat di Indonesia, bahwa gerakan-gerakan tarekat di Indonesia pada umumnya kurang begitu memikirkan perkembangan aspek kontemplasi filosofisnya, tapi justru pada umumnya lebih menekankan kepada praktek-praktek keta rikatannya.Kegiatan rutin tarekat Naqsabandiyah Kholidiyahberupa pengajian syari’at yang biasanya di berikan oleh para murshid yaitu antara lain: Kitab-kitab yang di jadikan pegangan dalam pengajian ini diantaranya ialah Safinatun Najah,Jauharotut Tauhid, Bidayatul Hidayah, Irsyadul ‘ibad, Wasyiyyatul Musthofa, Nashoikhud Diniyah, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya,dll
Di samping menerima pengajian di bidang agama, pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah juga menerima bimbingan khusus mengenai amaliah sehari-hari tentang praktek yang dapat di baca pada kitab-kitab tarekat, seperti Risalah Mubarokah, Ad Duruss Tsamin, al Idloh fie At Thariqat al Khalidiyah, al Futuhah Ar Robbaniyah dan Umdatus Salik fii Khairil Masaalik. Dalam kegiatan yang di laksanakan pada hari yang sudah ditentukan inilah yang dinamakan dengan tawajuhan.Selain kegiatan tawajuhan, para pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah juga melaksanakan kegiatan Khalwat atau Suluk. Khalwat adalah mengandung pengertian belajar menetapkan hati, melatih jiwa hati itu berkekalan ingat kepada Allah dan dengan demikian tetap memperhambakan diri kepada Allah. Dimana pada saat yang telah ditentukan para pengikut tarekat ber kumpul melaksanakan wirid bersama,sholat berjamaah, puasa, memperbanyak sholat sunnah. dilaksanakan berdasar bimbingan dan petunjuk sang mursyid (guru), derajat kesufian seseorang di kalangan mereka di tentukan oleh seberapa tinggi tingkat khalwat mereka dalam suatu tataran yang telah ditentukan.Biasanya di kalangan pengikut tarekat, mereka sering mengartikan sama saja antara khalwat dengan suluk. Namun berbeda halnya dengan yang ada di dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah mereka mengartikan kholwat itu lebih umum di bandingkan dengan suluk. Suluk adalah memisahkan diri (menyendiri) dari keluarga dan melakukan wirid. Orang asalkan menyendiri (nyepi dalam bahasa Jawa), tekun beribadah, melakukan wirid, dinamakan khalwat sekalipun yang bersangkutan itu berada di dalam rumahnya sendiri.Kegiatan khalwat ini biasanya dilakukan oleh pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah di
 Pondok/ Masjid /tempat yg ditentukan selama 10 hari.Yaitu setiap tanggal 1-10 Muharam,1-10 Rajab, dan 1-10 Ramadlan.Dalam pelaksanaan khalwat tarekat naqsabandiyah kholidiyah di daerah kudus contohnya ini biasanya pesertanya di batasi
Pembatasan terpaksa dilakukan mengingat fasilitas yang tersedia diTempat yang sudah ditentukan sangat terbatas.mereka berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Tengah, terutama daerah-daerah Kudus, Jepara, Pati danSemarang. Bahkan juga ada yang datang dari Jawa Timur dan Jawa Barat.
Selama mengikuti kegiatan khalwat ini mereka benar-benar dibimbing untuk meningkatkan ibadah, seperti sholat-sholat sunnah,berpuasa, senantiasa dalam keadaan berwudlu (da’im wudlu) dan merekatidak di perkenankan makan daging, telur dan ikan. Mereka menanak sendiri secara kelompok dan menghindari makan masakan orang yangtidak dalam keadaan suci (punya wudlu).Dari pengamatan yang aku denger, bahwa selama mengikuti kegiatan tersebut para anggota dengan tenang memperhatikan apa yang telah di sampaikan oleh guru. Sehingga terlihat adanya kepatuhan yang amat besar dari seorang murid terhadap mursyid ataupun syekhnya.Itulah gambaran kegiatan tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah.
Secara khusus dalam rangka memperkuat sistem yang ada dan juga dalam rangka membina para pengikutnya agar selalu mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, maka tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah mengadakan  kegiatan-kegiatannya sebagai berikut: Dalam rangka meningkatkan kuantitas anggota atau pengikut,maka lembaga tarekat kholidiyah membuka pendaftaran anggota anggota baru yang yg mau bergabung untuk mempermudah proses menjadi anggota.Pada umumnya ada beberapa syarat yang mesti di penuhi oleh seseorang yang hendak masuk dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah,
yaitu:
a. Tujuannya benar, bermaksud semata-mata untuk melakukan ibadah dan bukan karena riya’                     
b. Murid harus mempunyai kepercayaan bahwa guru mursyid itu mempunyai sirrul khususiyah yang bisa menyampaikannya kepada Allah.
c. Tatakrama yang di ridloi syara’, seperti belas kasih terhadap orang yang di bawah,                                          menghormati orang yang sederajat dan orang yang lebih atas, adil terhadap diri sendiri dan tidak mengutamakan kepentingan diri pribadi.
d. Tingkah laku yang bagus, baik ucapan maupun tindakan.
e. Menjaga kehormatan dan kemuliaan. Artinya murid harus selalu menghormati guru, baik dalam keaadaan hadir (berhadapan) maupun sesudah meninggalkannya. Demikian pula terhadap sesama muslim.
f. Pelayanan yang baik terhadap guru, demikian juga harus selalu berkhikmad kepada Allah SWT. dengan jalan mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi segala larangannya.
g. Meluruskan kemauan, yaitu menuju jalan ma’rifat kepada Allah.
h. Kelestarian niat di dalam menjalankan tarekat, sebab hal itu akanmenghasilkan ma’rifat. Sebelum dengan resmi di terima menjadi salik atau murid dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah, calon murid harus terlebihdahulu melalui proses sebagai berikut:

a.mendapat izin dari guru atau murshid   b. melakukan sholat istikharah, mohon petunjuk kepada Alloh apakah ia mampu mengikutitarekatatautidak.lamanya istikhoroh 1 sampai 7 hari.dari mimpi yang diperoleh setelah istikhoroh itu kemudian di ta’birkan oleh murshid ataupun syekhnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
c. Setelah dua diatas bisa di penuhi barulah salik boleh di bai’at dan di talqin dengan      menggunakan dzikir. Seperti yang di lakukan dalam tarekat yang lain, Pembaiatanyang ada pada tarekat ini dilaksanakan pada tiap-tiap hari Jum’at Pahing. Namun yang menjadi ciri dari tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah adalah setiap yang ingin masuk sebagai anggotanya haruslah terlebih dahulu melaksanakan Kholwat sebelum di baiat menjadi anggota. Kegiatan pembaiatan ini di lakukan oleh para mursyid. Dimasa sekarang ini kegiatan yang di lakukan dalam tarekatNaqsabandiyah Kholidiyah adalah  sama seperti yang di lakukan pada masa dahulu, Hanya saja yang membedakan terletak pada guruguru yang mengajar para salik.,
Mengenai pokok-pokok ajaran Tarekat Naqsabandiyah
Kholidiyah, adalah:
1.  berpegang teguh terhadap paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
2. Mengamalkan sesuatu yang halal tetapi tidak sepenuhnya, seperti makan minum                           terlalu kenyang, mengurangi tidur supaya dapat berdzikir dengan baik.
3. Berhati-hati terhadap masalah subhat
4. Senantiasa merasa diawasi oleh Alloh SWT.
5. Menghadapkan diri kepada Alloh secara kontinyu
6. Berpaling (tidak tergiur) terhadap kemewahan harta dunia
7. Merasa sepi sendirian dalam suasana ramai dan hati selalu hudlur kepada Alloh.
8. Berpakaian yang rapi
9. Dzikir khafi (samar tidak bersuara)
10. Menjaga keluar masuknya nafas jangan sampai lupa mengingat Alloh
11. Berakhlak yang luhur seperti yang di contohkan Rosululloh SAW.
III. Tawajuhan Sebagai Model Pengajaran
      Setiap lembaga tarekat mempunyai tradisi tersendiri di dalam mengarahkan para murid, demikian pula halnya dengan apa yang ada dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah.Mengenai kegiatan tawajuhan juga ada kemungkinan keberbedaan model dan juga sistem yang di gunakan. Dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah kegiatan tawajuhan yang dilaksanakan adalah dengan mengambil bentuk pemberian siraman rohani dan pengarahan khusus kepada para murid dengan menggunakan kitabkitab
Tarekat dan kitab-kitab salaf sebagaimana tersebut diatas, yang intinya adalah dzikir.  Kegiatan  tawajuhan  yang di lakukan oleh tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah dengan mengambil bentuk dzikir. Karena menurut beliau dzikir ini sangat bisa menyentuh pada masing-masing pribadi pengikut tarekat tersebut. Sebenarnya dalam kegiatan tawajuhan
ini tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah mengambil banyak bentuk didalam melakukan kegiatan tawajuhan, seperti mauidloh (siraman rohani), pendalaman syari’ah, simakan al Qur’an sebelum kegiatan tarekat dimulai, serta wirid atau dzikir. Namun di dalam melaksanakan kegiatan tawajuhan ini yang paling diutamakan adalah kegiatan wirid atau dzikir. Kegiatan ini mendapatkan porsi Hal ini dikarenakan inti dari kegiatan tarekat adalah agar manusia terbiasa mengingat Allah. Setelah manusia ingat kepada Allah tentunya manusia ketika hidup di dunia ini tidak takabur, dengan kata lain beliau menjelaskan agar manusia di dalam hidupnya bisa sabar dan ikhlas. Karena dari kasabaran dan kaikhlasan itulah manusia dapat mengetahui hakikat dirinya sendiri.Dilain kesempatan beliau juga menerangkan bahwa dengan adanya kagiatan tarekat, lebih khusus lagi adalah kegiatan tawajuhan beliau mengharapkan manusia agar selalu ingat dengan yang namanya mati. Karena di dalam tawajuhan ini para murid mendapatkan bekal keterangan tentang persiapan-persiapan yang harus di punyai di dalam menghadapi pati. Karena di dalam anggotanya tarekat ini sebagian besar adalah orang yang sudah lanjut usia, maka baliau mengungkapkan pula bahwasannya yang boleh mengikuti kegiatan tarekat bukanlah hanya orang-orang yang usianya sudah lanjut yang menurut prediksi kita ajalnya akan segera datang. Namun lebih jauh menurut beliau yang namanya tarekat itu bolehlah diikuti siapa saja, kapan saja dan dimanapun manusia itu berada, karena dengan mengikuti kegiatan tarekat manusia akan senantiasa ingat bahwa yang namanya pati itu adalah urusan Allah dan semua manusia akan merasakannya. Hal ini tentunya kalaumanusia selalu merasa ada yang mengawasi. Secara lebih lanjut beliau menerangkan bahwa tawajuhan yang dilaksanakan oleh tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah adalah sebagaimana yang tercantum di dalam kitab Risalah Mubarokah,sebagai berikut:
1. Membaca al Qur’an semampunya.Membaca al Qur’an ini dilakukan bersama-sama  oleh seluruh jama’ah yang mengikuti kegiatan tawajuhan, baik itu imam ataupun makmum

2. Membaca lafald “astaghfirullah”
3. Membaca surat al Fatihah sekali dan surat al Ikhlas tiga kali. Dimana
dalam membaca surat-surat tersebut diatas, pahalanya di hadiahkan kepada para guru-guru tarekat
4. Dzikir Ismu Dzat.
Dalam melakukan dzikir tersebut setidaknya ketika imam telah mencapai hitungan tiga ratus atau seribu, selanjutnya imam nawajuhi para murid.
Di kala imam akan memulai tawajuhan, terlebih dahulu seorang
imam membaca:
وسلم : ان فى جسد ابن ادم لمضغة اذا صلحت ا لمضغة صلح s قال رسول الله صل الله عليه
الجسد كله الا وهي القلب صدق رسول الله عليه وسلم
Disaat imam membaca hadits Rasul tersebut para murid berhenti memutar tasbihnya, kemudian para murid mendengarkan bacaan imam. Ketika imam telah selesai membaca bacaan tersebut para murid melanjutkan kembali memutar tasbihnya. Pada waktu itu imam masih terus nawajuhi para murid semampunya dengan jalan mujabahah (dengan jalan bertatap muka).Pada waktu imam nawajuhi para murid, di dalam hati para murid membaca
افا ضني الله من نور شيخى الى روحى على الدوام
: “Semoga Allah menyatukan antara nur guru saya kepada ruh saya selama-lamanya
Adapun niat tawajuhan yang dilakukan oleh tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah ialah:
1. Berniat mengumpulkan dzikir
2. Berniat menghilangkang hijab basyariyah
3. Berniat menurunkan Anwarul Ilaahiyah, kemudian berdzikir kembali semampunya sesuai dengan yang di hajatkan. Setelah semuanya selesai kemudian membaca al Qur’an dan di tutup dengan do’a. Dengan kegiatan tawajuhan seperti diatas tadi, diharapkan pengikut dari tarekat tersebut bisa selalu ingat dengan Allah sang pencipta. Karena telah penulis jelaskan di muka, dzikir versi tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah tersebut adalah semata-mata ingat kepada Allah sang pencipta. Dengan jalan melakukan dzikir.Pada hakikatnya adalah mengingat Allah dan melupakan apa saja selain Allah sewaktu dalam berdzikir. Sebagaimana dalam firman Allah Q.S. Kahfi ayat 24 di jelaskan, yang artinya: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu, jika kamu lupa dan katakanlah:
 “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.
Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:”Orang-orang yang menyendiri (pertapa) adalah orang yang paling dahulu (masuk surga)”. Lalu salah seorang sahabat bertanya:
”Wahai Rasulullah siapakah pertapa itu ?” Rasulullah menjawab: “Pertapa ialah orang yang selalu mengingat Allah” (H.R. Tirmidzi dari Abi Hurairah). Dzikir asal mulanya adalah ash-shafa, artinya bersih dan hening. Wadahnya adalah al wafa, artinya menyempurnakan. Dan syaratnya adalah al hudlur, artinya hadir hati sepenuh. Hamparannya adalah amal shaleh. Dan khasiatnya adalah pembukaan dari Tuhan.Demikian menurut keterangan Syaikh Ahmad al Fathani. Dari penjelasan tentang tawajuhan diatas tadi dapat kita ketahui bersama bahwa model pengajaran tawajuhan dalam tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah adalah dilaksanakan secara rutin, dengan mengambil langkah selalu mengingat kepada Allah, sebagai implementasinya adalah melalui pendekatan dzikir.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    At-Tauhid
            At-tauhid (Pengesaan Tuhan) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. BagiMu’tazilah Tauhid memiliki arti yang spesifik. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhalah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tak ada satupun yang menyamainya. Oleh karea itu, hanya ialah yang Qadim. Bila ada yang Qadim lebih dari satu, maka telah terjadi ta’addud al-qudama (bebilangnya dzat yang tak berpermulaan). Untuk memurnikan keesaan Tuhan (tanzih), Mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan, (antromorfisme tajassum), dan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan Esa, tak ada satupun yang menyerupainya. Dia Maha melihat, kuasa, mengetahui, dan sebagainya. Namun, mendengar, kuasa, mengetahui, dan sebagainya itu bukan sifat, melainkan dzat-Nya. Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat. Bila sifat Tuhan yang Qadim berarti ada dua yang Qadim yaitu Dzat dan Sifat-Nya. Wasil bin Ata seperti dikutip oleh Asy-Syahrastani mengatakan, “Siapa yang mengatakan sifat yang Qadim berarti telah menduakan Tuhan.” Ini tidak dapat diterima karena perbuatan syirik.
Apa yang disebut sifat menurut Mu’Tazilah adalah Dzat Tuhan itu sendiri. Abu Al-Hudzail berkata, “Tuhan mengetahui dengan ilmu, dan ilmu adalah tuhan sendiri, Tuhan berkuasa dengan kekuasaan dan kekuasaan it adalah Tuhan sendiri,” dengan demikian,pengetahuan dan kekuasaan Tuhan adalah Tuhan sendiri, yaitu dzat dan esensi Tuhan bukan sifat yang menempel pada Dzat-Nya.[1][1]
            Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an itu baru (diciptakan), Al-Qur’an adalah manifestasi kalam Tuhan, Al-Qur’an tediri atas rangkaian huruf, kata, dan bahasa yang satunya mendahului yang lainnya.
            Harun Nasution mencatat perbedaan antara Al-Juba’I dan Abu Hasyim atas pernyataan “Tuhan mengetahui dengan esensi-Nya”. Menurut Al-Juba’i arti pernyataan tersebut adalah bahwa untuk mengetahui, Tuhan tidak berhajat kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadaan mengetahui. Adapun menurut Abu Hasyim, pernyataan tersebut berarti Tua memilki keadaan mengetahui. Sungguh pun demikian, mereka sepakat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Terlepas dari adanya anggapan bahwa Abu Al-Huzail mengambil konsep nafy ash-shifat (peniadaan sifat Allah) dari pendapat Aristoteles, agaknya beralasan bila para pendiri mazhab ini lebih berbangga dengan sebutan ahl al-adli wa at-tauhid (pengikut paham keadilan Keesaan Tuhan).
            Doktrin Tauhid Mu’tazilah lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak ada satupun yang dapat menyamai-Nya. Begitu pula sebaliknya Tuhan tidak serupa dega makhluk-Nya. Tuhan adalahImmateri. Oleh karena itu, tidak layak bagi-Nya setiap atribut materi. Segala yang mengeesakan adanya kejesiman Tuhan, bagi Mu’tazilah, tidak dapat diterima oleh akal dan itu adalah mustahil. Maha Suci Tuhan dari penyerupaan dari yang diciptakan-Nya. Tegasnya, Mu’tazilah menolakantropomorfisme. Penolakan terhadap faham antropomorfistik bukan semata-mata atas pertimbangan akal melainkan memiliki rujukan yang sangat kuat didalam Al-Qur’an. Mereka berlandaskan pada pernyataan Al-Qur’an yang berbunyi :


Artinya : “Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya.”(Q.S. Asy-Syura 42:9)
            Memang tidak dapat dibantah, bahwa Mu’Tazilah, sebagai aliran lain, telah terkena pengaruh filsafat Yunani. Namun hal itu tidak kemudian menjadikannya sebagai pengikut buta Helenisme. Dengan didorong oleh semangat keagamaan yang kuat, pemikiran helinistik yang telah mereka pelajari, dijadikan sebagai senjata mematikan terhadap serangan para penentangnya, yakni paraMuadditsin rafidah manichscanisme, dan berbagai aliran keagamaan India.[2][2]
            Untuk menegaskan penilaiannya terhadap Antropomorfisme, Mu’tazilah memberi takwil terhadap ayat-ayat yang secara lahir menggambarkan kejisiman Tuhan. Mereka memalingkan arti kata-kata tersebut pada arti lain sehingga hilanglah kejisiman Tuhan. Tentu saja, pemindahan arti ini tidak dilakukan secara semena-mena, tetapi merujuk kepada konteks kebahasaan yang lazim digunakan dalam bahasa Arab. Misalnya kata-kata tangan (Q.S. Shaad 38:75) diartikan kekausaan dan pada konteks yang lain Tangan (Q.S. Al –Maidah 5:64) dapat diartikan nikmat. Kata wajah (Q.S. Arrahman 55:27) diartikan Esensi dan Dzat, sedangkan Al-Arsy (Q.S. Toha 20:5) diartikan kekuasaan.
B.     Al-Adl
            Ajaran dasar  mu’tazilah yang kedua adalah al-adl, yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil ini merupakan sifat, yang paling gamblang untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha sempurna, Dia sudah pasti adil. Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia, karena alam semesta ini sesungguhnya diciptakan untuk kepentingan manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya yang baik (ashlah) dan terbaik (alaslah) dan buan yang tidak baik. Begitu pula Tuhan itu adil bila tidak melanggar janjiNya. Dengan demikian, Tuhan terikat dengan janjinya.
Ajaran tentang keadilan ini, berkait erat dengan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
1.      Perbuatan Manusia
            Manusia menurut mu’tazilah, melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan, baik secara langsung atau tidak. Manusia benar-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya; baik atau buruk. Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Adapun yang disuruh Tuhan pastilah baik dan apa yang dilarangnya tentulah buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang  buruk. Konsep ini memiliki konsekuensi logis dengan keadilan Tuhan, yaitu apapun yang akan diterima manusia di akhirat merupakan balasan perbuatannya di dunia. Kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan akan dibalas keburukan, dan itulah keadilan. Karena, ia berbuat atas kemauan dan kemampuannya sendiri dan tidak dipaksa.
2.      Berbuat Baik dan Terbaik
            Dalam istilah Arabnya berbuat baik dan terbaik disebut ash-shalah dan wa al-aslah. Maksudnya adalah kewajiban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia.[3][3] Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan penjahat dan penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Jika Tuhan berlaku jahat kepada seseorang dan berbuat baik kepada orang lain berarti Ia tidak adil. Dengan sendirinya Tuhan juga tidak Maha Sempurna. Bahkan menurut an-nazzam, salah satu tokoh mu’tazilah, Tuhan tidak dapat berbuat jahat. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak bagiNya.  Artinya, bila tuhan tidak bertindak seperti itu, berarati Ia tidak bijaksana, pelit, dan kasar/kejam.
3.      Mengutus Rosul
            Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan dengan alas an-alasan sebagai berikut:
a.       Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat terwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.
b.      Al-qur’an secara tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia (Q.S As-Syua’raa 26:29). Cara yang terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan mengutuskan rasul.
c.       Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepadaNya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain kecuali mengutus rasul.
C.    Al- wa’d dan Al- wa’id
            Ajaran ketiga ini sangat erat hubungannya dengan ajaran kedua diatas. Al-wa’a wa al-wa’idberarti adalah janji dan dan ancaman. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janjiNya. Perbuatan Tuhan terikat dan dibatasi oleh janjiNya sendiri, yaitu member pahala bagi yang berbuat baik (almuthi) dan mengancam dengan siksa neraka atas orang yang durhaka (al-ashi). Begitu pula janji Tuhan untuk memeberi pengampunan bagi orang yang bertaubat nasuha pasti benar adanya. Ajaran ketiga ini tidak member peluang bagi Tuhan, selain menunaikan janjiNya, yaitu member pahala orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, kecuali orang yang bertaubat nasuha. Tidak ada harapan bagi pendurhaka, kecuali bila ia taubat.[4][4] Kejajahatan dan kedurhakaan yang menyebabkan pelakunya masuk neraka adalah kejahatan yang temasuk dosa besar, sedangkan terhadap dosa kecil, Tuhan mungkin menghukuminya. Ajaran ini tampaknya bertujuan mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.

D.    Al- Manzilah bain Al-Manzilatain
            Ini mula-mula yang menyebabakan lahirnya mazhab Mu’tazilah. Ajaran ini terkenal dengan status orang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Pokok ajaran ini adalah bahwa mukmin yang melakukan dosa besar dan belum taubat bukan lagi mukmin atau kafir melainkan fasik. Izutsu dengan mengutip Ibn Hazm menguraikan pandangan Mu’tazilah sebagai berikut “orang yang melakukan dosa besar adalah fasik. Ia bukan mukmin bukan pula kafir, bukan pula munafik (hipokrit).” Mengomentari pendapat tersebut, Izutsu menjelaskan bahwa sikap Mu’tazilah adalah membolehkan hubungan perkawinan dan warisan antara mukmin pelaku dosa besar dan mukmin lain dan dihalalkannya binatang sembelihannya.
            Menurut pandangan Mu’tazilah, pelaku dosa besar tidak bisa dikatakan sebagai mukmin secara mutlak. Hal ini karena keimanan menuntut adanya kepatuhan kepada Tuhan, tidak cukup hanya pengakuan dan pembenaran. Berdosa besar bukanlah kepatuhan melainkan kedurhakaan. Pelakunya tidak dapat dikatakan kafir secara mutlak karena ia masih percaya kepada Tuhan, Rasul-Nya, dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Hanya saja kalo meninggal sebelum bertaubat, ia dimasukkan ke Neraka selama-lamanya. Orang mukmin masuk surga dan orang kafir masuk neraka. Orang fasik pun dimasukkan ke neraka hanya saja siksaannya lebih ringan daripada orang kafir. Mengapa ia tidak dimasukkan ke surga dengan kelas yang lebih rendah dari mukmin sejati, tampaknya disini Mu’tazilah ingin mendorong agar manusia tidak menyepelekan dosa terutama dosa besar.

E.     Al-Amr Bi Al-Ma’ruf wa An-Nahi an Munkar
            Ajaran dasar yang kelima adalah Al-Amr Bi Al-Ma’ruf wa An-Nahl an Munkar yaitu menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran. Ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang. Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh orang berbuat baik, dan mencegahnya dari kejahatan.[5][5]
            Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seorang mukmin dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar seperti yang dijelaskan oleh seorang tokohnya yang bernama Abd Al-Jabbar yaitu berikut ini :
1.      Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu memang ma’ruf yang dilarang itu memang munkar
2.      Ia mengetahui bahwa kemunkaran telah nyata dilakukan orang.
3.      Ia mengtahui bahwa amr ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa mudharat yang lebih besar. Ia engetahui atau paling tidak menduga bahwa tindakannya tidak akan membahayakan dirinya dan hartanya.
            Al-Amr bi Ma’ruf wa Al-Nahi An-Munkar bukan monopoli konsep Mu’tazilah. Fase tersebut sering digunakan dalam Al-Qur’an. Arti asal Al Ma’ruf adalah apa yang telah diakui dan diterima masyarakat karena mengandung kebaikan dan kebenaran. Sedangkan Al-Munkar adalah sebaliknya yaitu sesuatu yang tidak dikenal, tidak diterima, atau buruk. Fase tersebut berarti seruan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keyakinan sebenar-benarnya serta menahan diri dengan mencegah timbulnya perbuatan yang bertentangan dengan norma Tuhan.
            Perbedaan Mazhab Mu’tazilah dengan mazhab lain mengenai ajaran kelima ini terletak pada tatanan pelaksaannya. Menurut Mu’tazilah jika memang diperlukan, kekerasan dapat ditempuh untuk mewujudkan ajaran tersebut. Sejarah pun telah mencatat kekerasan yang pernah dilakukannya ketika menyiarkan ajaran-ajarannya.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Lima Ajaran Dasar Teologi Mu’tazilah diantaranya adalah:
1.      At-tauhid (Pengesaan Tuhan) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah.. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhanlah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tak ada satupun yang menyamainya.
2.      Al-Adl ajaran dasar  mu’tazilah yang kedua adalah al-adl, yang berarti Tuhan Maha Adil. Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia, karena alam semesta ini sesungguhnya diciptakan untuk kepentingan manusia
3.       Al- wa’d dan Al- wa’id ajaran ketiga ini sangat erat hubungannya dengan ajaran kedua diatas.Al-wa’a wa al-wa’id berarti adalah janji dan dan ancaman.
4.      Al- Manzilah bain Al-Manzilatain.Ini mula-mula yang menyebabakan lahirnya mazhabMu’tazilah. Ajaran ini terkenal dengan status orang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Pokok ajaran ini adalah bahwa mukmin yang melakukan dosa besar dan belum taubat bukan lagi mukmin atau kafir melainkan fasik.
5.      Al-Amr Bi Al-Ma’ruf wa An-Nahi an Munkar. Ajaran dasar yang kelima adalah Al-Amr Bi Al-Ma’ruf wa An-Nahl an Munkar yaitu menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran. Ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan.
B.     Saran
            Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan malakah baik dari segi  isi dan penulisan. Kami mengharapkan saran dari pembaca untuk kiranya dapat meberikan saran untuk memperbaiki makalah ini dimasa mendatang.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, Cet., ke-VI, 2011.