Makalah Tentang Peserta Didik

Makalah Tentang Peserta Didik
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

A. PENGERTIAN INDIVIDU SEBAGAI PESERTA DIDIK 
Istilah individu berasal dari kata individeral berarti satu kesatuan organisme yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau tidak dapat dipisahkan. Individu merupakan kata benda dari individual yang berarti orang atau perseorangan ( E CHOLS, 1975.519 ). Sejak lahir didalam kandungan ibunya, manusia merupakan kesatuan psikofisis ( jasmani dan rohani ) yang khas ( unik ) dan terus menerus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan sifat kodrati manusia yang harus mendapat tempat dan perhatian. 
Dalam proses pertumbuhan dan perkembanganya, manusia memiliki berbagai kebutuhan. Kebutuhan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Pada awal kehidupanya, seorang bayi mengutamakan jasmaninya dan tidak perduli dengan apa yang terjadi dirinya. Ia sudah merasa senang bila kebutuhan fisiknya, seperti makan, minum, dan kehangatan dapat terpenuhi. Dalam pertumbuhan dan perkembanganya tingkat kebutuhanya terus meningkat. Ia mulai membutuhkan teman, keamanan dan seterusnya. Semakin bertambah usianya, kebutuhan nonfisiknya semakin banyak.
Setiap individu dikatakan sebagai peserta didik apabila ia memasuki usia sekolah. Usia 4-6 tahun, di taman kanak-kanak. Usia 6-7 tahun di sekolah dasar. Usia 13-16 tahun di SMP, dan usia 16-19 tahun di SLTA. Jadi, peserta didik adalah anak, individu, yang tergolong dan tercatat sebagai siswa didalam satuan pendidikan.

B. KARAKTERISTIK INDIVIDU SEBAGAI PESERTA DIDIK
Setiap individu memiliki ciri, sifat bawaan (heredity), dan karaktristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Ahli psikologi berpendapat bahwa kepribadian dibentuk oleh perpaduan faktor pembawaan (karakteristik yang bersifat biologis maupun psikologis sejak lahir ) dan lingkungan. 
1. Pengertian dan karakteristik kehidupan pribadi
Kehidupan karakteristik kehidupan pribadi individu menyangkut berbagai aspek antara lain aspek emosional, aspek sosiologi, social budaya dan kemampuan intelektual, yang terpadu secara integrative dengan faktor lingkungan. Seorang individu mempunyai harga diri dan berkeinginan untuk mempertahankan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi
Perkembangan pribadi dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Aliran natifisme menyatakan bahwa seorang individu akan menjadi pribadi sebagaimana menjadi pribadi sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh pembawaan dan sifatnya yang dibawak sejak lahir. Sementara itu aliran emperisme menyatakan bahwa seorang individu akan menjadi pribadi yang khas, dan unik, yang dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, atau lingkungan hidupnya. Aliran konfergensi menyatakan bahwa kedua faktor tersebut secara terpadu memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang. 
3. Perbedaan individu dalam perkembangan pribadi
Lingkungan social budaya yang mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang. Oleh karena itu perkembangan pribadi individu berbeda-beda sesuai dengan pembawaan lingkungan tempat mereka hidup, dan dibesarkan. 
4. Pengaruh perkembangan kehidupan pribadi terhadap tingkah laku
Kepribadian atau tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh proses perkembangan kehidupan sebelumnya sebelunya dandalam perjalanya berinteraksi dengan lingkunganya serta kejadian saat sekarang.
5. Upaya pengembangan kehidupan pribadi
Kehidupan pribadi merupakan rangkaian proses pertumbuhan dan perkembangan sehingga perlu dipersiapkan dengan baik. Upaya pengembangan kehidupan pribadi dapat dilakukan sebagai berikut: 
a. Membiasakan hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara baik.
b. Mengerjakan tugas dan pekerjaan sehari-hari secara mandiri dengan penuh tanggung jawab.
c. Membiasakan hidup bermasyarakat dengan membina pergaukan pada sesame terutama teman sebaya.
d. Melatih cara merespon berbagai masalah yang dihadapi secara baik.
e. Mengikuti dan mematuhi aturan kehidupan keluarga secara disiplin dan bertanggung jawab.
f. Melaksanakan peran sesuai dengan status dan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.
g. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai minat bakat yang dimiliki baik melalui pendidika formal maupun nonformal. 


PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN PERBEDAAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK

A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK
Menurut A.E Sinolungan (1997) Istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang kuantitatif makin lama semakin besar atau panjang. Ada pun istilah perkembangan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahyan aspek psikologi dan social, sedangkan menurut Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel, dan C.P. Chalplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Dari beberapa pengertan tersebut dapat dsipahami bahwa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu: peningkatan dalam ukuran dan struktur seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, pertumbuhan kepala, jantung, paru-paru,dll.
Hukum-hukum perkembangan 
1. Hukum kesatuan organis
Menurut hukum ini anak adalah satu kesatuan organis, bukan suatu penjumlahan atau suatu kumpulan unsur yang berdiri sendiri. Pertumbuhan dan perkembangan adalah differensiasi atau pengkhususan dari totalitas pada unsur-unsur atau bagian-bagian baru, bukan kombinasi dari unsur-unsur atau bukan suatu kumpulan dari bagian-bagian.
2. Hukum tempo perkembangan
Menurut hukum ini, setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri. Artinya, ada anak yang mengalami perkembangan cepat, sedang, dan lambat.

3. Hukum irama
Hukum irama berlaku untuk setiap manusia, baik perkembangan jasmani maupun rohani tidak selalu dialami perlahan-lahan dengan urutan-urutan yang teratur, melainkan merupakan gelombang-gelombang besar dan kecil silih berganti.
4. Hukum masa peka
Masa peka adalah suatu masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar, dan peka akan pengaruh rangsangan yang datang. Menurut Maria Montessori asal Italia ini berpendapat bahwa masa peka merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan dikembangkan.
5. Hukum rekapitulasi
Menurut hackle asal jerman ini menyebut hukum ini hukum biogenetis. Dalam hukum rekapitulasi ini perkembangan jasmani individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya. Dengan kata lain, otogenese adalah rekapitulasi dari phylogenese. Otogenese adalah perkembangan individu sedangkan phylogenese adalah kehidupan nenek moyang suatu bangsa.
6. Hukum mempertahankan dan mengembangkan diri
Dalam diri anak terdapat hasrat dasar untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. Hasrat mempertahankan diri terlihat dalam bentuk-bentuk nafsu makan dan minum, menjaga keselamatan diri. Sedangkan hasrat pengembangan diri seperti hasrat ingin tahu, mengenal lingkungan, ingin bergerak, kegiatan bermain-main, dan sebagainya.
7. Hukum predistinasi
Menurut hukum predistinasi berarti betapapun sempurnanya pembawaan, bakat, dan sifat-sifat keturunan, betapapun baiknya lingkungan dan pemeliharaan anak, serta betapapun lengkapnya sarana dan sumber penghidupan, tetapi proses dan jalan perkembangan tidak akan berlangsung sebagaimana yang dikehendaki manusia seandainya nasib tidak membawanya demikian atau jika tidak di izinkan Allah.s 
Proses perkembangan merupakan suatu evolusi yang secara umum adalah sama pada setiap anak. Perbedaan-perbedaan individual dimungkinkan terjadi karena faktor-faktor pembawaan, pengalaman dalam lingkungan, dan fakor laoinya, seperti iklim, sosiologis, dan ekonomis.
Setiap individu mengalami pertumbuhan fisik dan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, bahasa, bakat khusus, nilai, dan moral, serta sikap. Pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan yaitu:
1. Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan fisik manusia merupakan perubahan fisik dari kecil atau pendek menjadi besar dan panjang, yang prosesnya terjadi sejak lahir hingga dewasa.
a. Pertumbuhan sebelum lahir
Manusia dimulai dari proses pembuahan ( pertemuan sel telur dan sperma ) yang membentuk suatu sel kehidupan,yang yaitu embrio. Embrio yang telah berusia satu bulan berukuran sekitar setengah sentimeter. Pada umur dua bulan, ukuranya membesar menjadi dua setengah sentimeter yang disebut janin atau fetus. Satu bulan kemudian (kandungan telah berumur 3 bulan), janin trersebut telah terbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil.
Masa sebelum lahir merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan syaraf yang membentuk system yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin berakhir setelah kelahiran. Kelahiran merupakan kematangan biologis dan jaringan syaraf masing-masing telah mampu berfungsi secara mandiri. 
b. Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan dari pertumbuhan sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Dalam tahun pertama pertumbuhannya, ukuran panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang semula, sedangkan berat badannya bertamabah sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu dari pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia.
Pertumbuhan dan perkembangan fungsi biologis setiap orang memiliki pola urutan yang teratur. Ahli psikologi menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan fisik anak pada umumnya memiliki pola yang sama dan menunjukkan keteraturan. Secara umum pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi empat periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepar, dan dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat. 

2. Perkembangan intelek
Intelek atau daya piker seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena daya pikir menunjukkan fungsi otak, kemampuan intelektual dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik. 
Menurut Piaget, perkembangan kognitif seseorang mengikuti tahapan berikut ini:
a. Masa sensori motoric (0-2.5 tahun)
Masa ini adalah masa ketika bayi menggunakan system penginderaan dan aktifitas motoric untuk mengenal lingkungannya.
b. Masa pra-operasional (2 – 7 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak dalam menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep. 
c. Masa konkreto pra-rasional (7 – 11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkrit dan mulai mengembangkan tiga macam operasi berpikir yaitu identifikasi, negasi, dan reprokasi.
d. Masa operasional (11 – dewasa)
Pada tahap ini ia mampu mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan.

3. Perkembangan emosional
Emosi atau perasaan merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki oleh manusia. Pada awal pertumbuhannya yang dibutuhkan bayi adalah kebutuhan primer, yaitu makan, minum dan kehangatan tubuh. Apabila tidak terpenuhi bayi akan menangis. Jadi emosi merupakan perasaan yang disertai oleh perubahan atau perilaku fisik. 

4. Perkembangan sosial 
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya setiap individu tidak dapat berdiri sendiri tapi memerlukan bantuan individu lainnya. Pada umumnya setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebaya yang sama jenis kelaminnya. Selanjutnya manusia mengenal kehidupan bersama, berkeluarga, dan bermasyarakat, atau berkehidupan social. 

5. Perkembangan bahasa
Fungsi pokok bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan dengan sesama.bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak,dan suara untuk menyampaikan isi pikiran dan perasaan kepada orang lain
Berbicara adalah bahasa lisan. Dalam perkembangan awal berbahasa lisan, bayi menyampaikan isi pikiran atau perasaannya dengan menangis,tersenyum, atau ocehan.iamenangis atau mungkin menjerit jika tidak senang atau sakit dan mengoceh atau meraba jika sedang senang.syarat itu semakin lama semakin jelas hingga ia mampu menirukan bunyi – bunyi bahasa yang di dengarnya.
Perkembangan lebih lanjut, yang telah berusia 6 – 9 bulan, ia mulai berkomunikasi dengan satu kata atau dua kata, seperti mama, maem dan sebagainya.
6. Bakat khusus
Bakat adalah kemampuan khusus yang di miliki oleh setiap individu yang memerlukan rangsangan atau latihan agar berkembang dengan baik.
7. Sikap, nilai, dan moral
Bloom (woofolk dan nicolich, 1984:390)mengemukakan bahwa tujuan akhir proses belajar, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif ), penguasaan nilai dan sikap (efektif), dan penguasaan,keterampilan (psikomotorik).masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral karena dalam kehidupannya belum di kenal hierarki nilai dan suara hati,serta perilakunya belum di bimbing oleh nilai – nilai moral, sedangkan menurut Santrock, 1995 perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain.
Semakin tumbuh berkembang fisik dan psikisnya,ia mulai memperkenalkan terhadap nilai – nilai di tunjukkan hal – hal yang boleh dan yang tidak boleh.menurut piaget, pada awalnya, pengenalan nilai dan pola tindakan itu masih bersifat paksaan,dan anak belum mengetahui maknanya. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur yang melibatkan berbagai unsur yang saling berpengaruh satu sama lain. 
Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan karakteristik perseorangan atau yang berkaitan dengan perbedaan individual sifat orang yang satu berbeda dengan sifat orang lain.
1. Bidang-bidang perbedaan individual
Umur kronologis sebagai faktor yang mewakili tingkat kematangan seseorang hendaknya dilihat sebagai aspek perbedaan individual. Faktor kecakapan khusus perlu dipertimbangkan, terutama dalam mempelajari hal-hal yang memerlukan kemampuan mental yang tinggi.


a. Perbedaan individual peserta didik
Perkembangan bagi setiap anak sebagai individu mempunyai sifat yang unik.saufrock dan yussen menyatakan sebagai berikut, “Eas us develops some other individual, and like individual, like some other invidual, and like no other individual”. 
Maksudnya bahwa tiap-tiap invidu berkembang dengan cara tertentu, seperti individu lain, dan seperti tidak ada invividu yang lain. 
Garry 1963 ( oxendine, 1984: 317) mengelompokan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut ini.
a. Perbedaan fisik, seperti usia, berat badan, jenis kelamin, pendengaran, dan kemampuan bertindak.
b. Perbedaan social,seperti status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
c. Perbedaan kepribadian, seperti watak, minat, motif, dan sikap.
d. Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
e. Perbedaan kecakapan disekolah
Perbedaan fisik bukan saja terbatas pada ciri-ciri yang dapat diamati dengan panca indra,seperti tinggi badan warna kulit, jenis kelamin, nada suara, dan bau keringat. Gejala yang dapat diamati bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang tertentu dibandingkan dengan yang lainya.

a. Perbedaan kognitif
Proses belajar mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang positif yang direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki seseorang. Menurut blom, proses belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah menghasilkan tiga kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi blom, yaitu kognitif, efektif, dan psikomotorik. Menurut Myers (1996) Kognitif adalah istilah umum yang mencakup segenap mode pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, dan penalaran.sedangkan menurut chaplin (2002), dijelaskan bahwa kogniif adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai.

b. Perbedaan dalam kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemapuan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu untuk menyatakan pikiran dan perasaanya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna dan sistematis. Kemampuan berbahasa ini berbeda antara satu individu dan individu lainya, serta sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan. Faktor lain yang juga penting adalah faktor fisik, terutama organ berbicara.

c. Perbedaan dalam kecakapan motoric
Kecakapan motoric atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja saraf motoric yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan berbagai kegiatan.
Semakin dewasa seseorang, semakin matang pula fungsi-fungsi fisiknya. Kemampuan motoric dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemamouan berfikir seseorang. Karena kematangan pertumbuha fisik dan berfikir setiap orang berbeda-beda.

d. Perbedaan dalam latar belakang 
Latar belakang keluarga,baik dilihat dari segi sosio ekonomi maupun social kultural adalah berbeda-beda.perbedaab latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar atau menghambat kemampuan atau prestasi seseorang. Pengalamn belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berpretasi dalam situasi belajar yang disajikan. Minat dan sikapnya terhadap mata pelajaran tertentu, kecakapan atau kemauan untuk berkonsentrasi pada bahan pelajaran, dan kebiasaan-kebiasaan belajrar merupakan faktor-faktor perbedaan individual diantara para siswa.
e. Perbedaan bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa atau dimiliki seseorang sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang secara baik apabila mendapatkan rangsangan dan latihan secara tepat.sebaliknya,bakat itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak memberi kesempatan, dalam arti tidak ada rangsangan dan latihan yang baik. Dalam hal pengembangan bakat ini, makna pendidikan menjadi sangat penting artinya. 
f. Perbedaan dalam kesiapan belajar
Perbedaan individual tidak hanya disebabkan oleh keragaman, kematangan, tetapi juga oleh keragaman latar belakang sebelunya. Anak berusia 6 tahun yang memasuki sekolah dasar kelas satu mungkin berbeda satu, dua, bahkan 3 tahun dalam tingkat kesiapan untuk mengambil manfaat dari pendidikan formal.
2. Perbedaan individual yang unik
Setiap invidu adalah khas/ unik artinya, ia memiliki perbedaan dengan lainya. Perbedaan itu bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berfikir dan cara merespon atau mempelajari hal baru.
a. Otak sebagai pusat belajar
Otak manusia merupakan kumpulan masa protoplasma yang paling kompleks yang terdapat dalam alam semesta. Otak dapat berfungsi aktif dan reaktif kurang lebih 100 tahun. Dan otak sebagai pusat belajar sehingga harus dijaga agar terhindar dari kerusakan.
Menurut Maclean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain ( dalam deporter dan henarcki,2001). Bagian pertama yaitu batang otak, bagian kedua system limbik, dan bagian ketiga neokorteks. Batang otak bertanggung jawab atas fungsi motoric-sensorik pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra.
System limbik berfungsi menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. System ini juga mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperature, kimia tubuh, metabolissme, dan istem kekebalan. System limbik, panel control, dalam penggunaan informasi, dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman, sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan kepemikir dalam otak yaitu neokorteks. Neokorteks tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia.

b. Karakteristik cara belajar
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola, dan menyampaikan informasi, cara belajar individu dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai oleh prilaku tertentu.
Ciri-ciri prilaku individu dengan karakteristik cara belajar yang disebutkan diatas, menurut pendapat deporter dan hemacki ( 2001 ) 
1. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar visual
Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri prilaku sebagai berikut:
a. Rapi dan teratur
b. Berbicara dengan cepat
c. Mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
d. Teliti dan rinci
e. Mementingkan penampilan 
f. Medah mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar 
g. Mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
h. Pembaca yang cepat dan tekun
i. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
j. Sulit menerima intruksi verbal
k. Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain dll

2. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar auditorial
Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandao dengan ciri-ciri prilaku seperti dibawah ini:
a. Sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
b. Mudah tertganggu oleh keributan atau suara brisik
c. Lebih senang mendengarkan dari pada membaca
d. Suka membaca dengan suara keras
e. Lebih suka humor 
f. Berbicara sangat fasih 
g. Kesulitan jika menulis sesuatu
h. Senang berbicara, diskusi,dan menjelaskan
i. Suka seni music dll

3. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar kinestetik
Individu yang memiliki kemampuan cara belajar kinestetik dengan baik ditandai oleh :
a. Berbicara dengan perlahan
b. Menanggapi perhatian fisik
c. Banyak gerak fisik
d. Memiliki perkembangan otot yang baik
e. Banyak menggunakan bahasa tubuh
f. Belajar dengan praktik langsung


Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan terhadap Penyelenggaraan Pendidikan


A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut chaplin (2002) Pertumbuhan sebagai satu pertumbuhan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan menurut A.E. Sinolungan (1997), pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif, yaitu yabg dapat dihitung atau diukur, seperti panjang, atau berat tubuh. Dan menurut Ahmad thanthowi (1993) mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari adanya perbanyakan sel-sel. perubahan secara fisiologis sebagai hasil proses pematangan fungsi dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat pula diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif berkesinambungan.
Hasil pertumbuhan, antara lain bertambahnya ukuran kuantitatif badan anak, seperti berat, panjang, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang semakin sempurna pada system jaringan syaraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses perubahan dan pematangan fisik.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme adalah sebagai berikut.
1. Faktor sebelum lahir, seperti peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, dan lain-lain.
2. Faktor pada saat kelahiran, seperti pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan efek susunan syaraf pusat karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangver-lossing).
3. Faktor yang dialami bayi setelah lahir, seperti pengalaman traumatic pada kepala, dan lain-lain.
4. Faktor fisiologis, misalnya bayi atau anak ditinggal ibu, ayah atau kedua orang tuanya cenderung akan mengalami gangguan fisiologis.

Menurut Werner (1957), perkembangan sesuai dengan prinsip orthogenetis, yaitu perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai pada keadaan diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Sedangkan 
Menurut Seifert dan Hoffnung (1994) mendefenidikan perkembangan sebagai long-term changes in a persons growt, feelings pattern of thinking, social relationship, and motor skill.
Sementara chaplin 2002, mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam fungsional (4) kedewasaan.
Menurut Reni akbar hawadi (2001), perkembangan secara luas menunjuk kepada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat, dan ciri-ciri yang baru.




Proses diferensiasi bersifat totalitas pada diri anak..
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan.
1. Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu baru sampai dewasa.
2. Foligenetik, yaitu perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang.

Bijau dan Baer (1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi adalah apakah suatu jawaban tingkah laku akan diperlihatkan atau tidak, bergantung pada perangsang-perangsang yang ada dilingkungannya.

Perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi empat kategori utama, yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang baru.
1. Perubahan dalam Ukuran
Perubahan dapat berbentuk ukuran panjang atau tinggi maupun berat badan. Berat badan yang semula sekitar 3 kg ketika dilahirkan menjadi 8-9 kg pada waktu umur 6 bulan. Panjang bayi 50 cm ketika dilahirkan menjadi 60 cm pada umur 1 tahun yang diikuti oleh perubahan ukuran organ-organ tubuh lain, antara lain volume otak yang menyebabkan tampilnya kemampuan.
2. Perubahan dalam Perbandingan
Perubahan secara proposional juga menjadi pada perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak real, khayalan dengan hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar. Anak-anak masih suka menghayal atau berimajinasi, tetapi makin lama akan berubah sebaliknya, yakni banyak mempelajari realita dan sedikit berhayal. Perkembangan social juga sedikit demi sedikit berubah, dari bermain sendiri, bermain dengan saudara, bermain dengan anak-anak tetangga, kemudian bermain dengan anak-anak lain di lingkungan yang lebih luas.
3. Perubahan untuk Mengganti Hal-hal yang Lama
Apabila sebelumnya bahasa bayi tidak begitu jelas, seiring dengan perkembangan usianya, ia mulai berbicara cadel lalu berubah menjadi kata-kata yang lebih jelas artinya. Kebiasaan untuk merangkak ketika mengambil sesuatu akan menghilang seiring dengan meningkatnya kemampuan motorik. Pada usia kanak-kanak, gigi anak akan tanggal satu persatu dan diganti dengan gigi tetap.
4. Perubahan untuk Memperoleh Hal-hal Baru

Ketika dilahirkan, bayi belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian (kalau sudah sampai waktunya) gigi tersebut akan tumbuh. Dengan demikian, bayi memperoleh atau menambah sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada atau belum dimiliki. Menjelang usia remaja, terjadi pertumbuhan bulu-bulu ketiak, bulu-bulu sekitar alat kelamin, dan timbul kumis pada remaja laki-laki akibat mulai fungsinya kelenjar-kelenjar kelamin yang dikenal dengan istilah kelamin sekunder.

B. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Fisik
Penyebab perubahan fisik pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endoktrin. Kelenjar pituitari yang terletak didasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang erat hubungannya dengan perubahan masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak lama sebelum saat remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan pada saat remaja semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar endokrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalamus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja dan terletak di otak.

2. Perubahan Fisik Selama Masa Remaja
Perubahan fisik selama masa remaja meliputi dua hal, yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual. Akibat percepatan pertumbuhan tersebut, terjadi perbedaan atau keanekaragaman proporsi tubuh.

3. Keragaman Perubahan Proporsi Tubuh
Pada masa kanak-kanak, bentuk tubuh tidak terlalu terlihat perbedaannya. Namun, pada akhirnya masa kanak-kanak, saat mulai memasuki tahap remaja, perbedaan bentuk tubuh antara anak laki-laki dan anak perempuan menjadi semakin jelas. Remaja laki-laki cenderung menuju ke bentuk mesomorf (cenderung menjadi anak yang kekar, berat, dan segitiga), sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorf (cenderung menjadi gemuk dan berat) akan memperlihatkan ciri ektomorf (cenderung kurus dan bertulang panjang).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik adalah sebagai berikut:
a. Pengaruh Keluarga
b. Pengaruh Gizi
c. Gangguan Emosional
d. Jenis Kelamin
e. Status Sosial Ekonomi
f. Kesehatan
g. Pengaruh Bentuk Tubuh

C. Perkembangan Intelek Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)

1. Pengertian Intelek dan Inteligensi
Istilah intelek berarti kekuatan mental yang menyebabkan manusia dapat berpikir aktivitas yang berkenaan dengan proses berpikir atau kecakapan yang tinggi untuk berpikir. Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti:
a. kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti, 
b. kecakapan mental yang besar, sangat intelligence,
c. pikiran atau inteligensi.
Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkannya memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

2. Hubungan antara Intelek dan Tingkah Laku
Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap kegiatan atau peristiwa yang tidak konkret, seperti pilihan pekerjaan, pilihan pasangan hidup, yang sebenarnya masih jauh didepannya, dan lain-lain. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya dihari depan dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadian remaja.
Mereka dapat memikirkan perighal diri sendiri. Pemikiran ituterwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kle penilaian diri dan kritik diri. Hasil penelitian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bukan sering terlihat usaha mereka untuk menyembunyikannya atau merahasiakannya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi akan dianggap nyata dalam pikirannya, yaitu perihal keadaan diri yang tercermin sebagai usaha yang kemungkinan terbentuk kelak dihari kemudian.


3. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Inteligensi pada masa remaja tidak mudah diukur karena perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut tidak mudah terlihat. Pada masa remaja, kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk terus bertambah. Pada awal remaja, kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut masa operasi formal (berpikir abstrak). Pada masa ini, ia telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin di samping hal yang nyata.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Menurut Wechsler, IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira dan sementara karena selalu terjadi perubahan-perubahan akibat faktor individual dan situasional. Konstan tidaknya inteligensi sampai sekarang masih merupakan proses diskusi yang terbuka. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam institut Fels oleh Mc Call, dkk. (1973) menunjukkan adanya pertambahan rata-rata nilai IQ sebanyak 28 poin antara usia 5-17 tahun (kira-kira sama dengan usia pendidikan sekolah dasar). Selanjutnya, ditemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupaka hal yang umum dari pada perkecualian.

5. Implikasi Perkembangan Intelek Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Piaget menyebutkan bahwa sebagian besar remaja mampu memahami dan mengkaji konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Bruner, siswa pada usia remaja ini dapat belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang canggih. Guru dapat membantu mereka dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses (discover approach) dengfan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep abstrak.
Karena siswa pada usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, guru hendaknya tidak menganggap bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama dengan guru. Untuk itu, guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan diskusi secara baik serta memberikan tugas-tugas penulisan makalah. Dalam hal ini, guru hendaknya mengamati kecendrungan-kecendrungan remaja untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak tergali. Cara yang baik dalam mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantu siswa menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Namun, bila permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks dengan bobot emosi yang cukup dalam, hal itu bukan tugas yang mudah.

D. Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Pengertian Bakat
Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang relatif bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talent (talenta).
2. Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap individu memiliki bakat khusus yang berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat khusus ini mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, tetapi kemudian dalam bidang pendidikan. Hampir semua ahli psikologi yang menyususn tes untuk mengungkap bakat khusus bertolak dari dasar pemikiran analisis faktor. Menurut Guilford, pada setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor-faktor khusus.
3. Hubungan antara Bakat dan Prestasi
Dengan adanya bakat, seseorang dapat mencapai prestasi dalam bidang tertentu, tetapi diperlukan latihan, pengalaman, pengetahuan, dan dorongan atau kesempatan untuk pengembangannya. Jika orang tua menyadari bahwa anaknya mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar dia mendapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, da anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, anak itu akan dapat mencapai prestasi yang unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat
Faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat terletap pada anak itu sendiri.
a. Anak itu sendiri, misalnya anak itu kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki.
b. Lingkungan anak, misalnya orang tua yang kurang mampu untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak.

5. Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia
Pendidikan anak berbakat merupakan bagian integrasi pendidikan pada umumnya, dengan kekhususan memberi kesempatan maksimal bagi anak berbakat untuk berfungsi sesuai dengan potensinya, dengan harapan bahwa pada suatu saat ia akan memberi sumbangan yang maksimal bagi peningkatan kehidupan sesuai dengan aktualisasi potensinya itu. Hal itu sesuai dengan citra masyarakat yang kita anut dengan memperhatikan kaitan fungsional antara individu dan masyarakat.

b) Menulis Kreatif (mengarang)
Kehidupan imajinasi anak berbakat biasanya sangat aktif dan mengarang merupakan suatu yang biasanya gemar dilakukannya. Namun, ada anak berbakat yang minatnya cenderung ke ilmu pengetahuan alam (IPA) kadang memperoleh kesukaran dalam menyatakan dirinya, meskipun ide-idenya banyak.
Mengarang adalah suatu sarana yang dalam memperoleh keterampilan menyatakan diri. Kebimbangan memilih judul yang sesuai dapat di pancing dan diarahkan melalui:
-Gambar seseorang atau sesuatu yang diperhatikan
-Passage dalam bacaan seperti “penerbang roket mengambil tempat duduknya dalam kapsul, menunggu tanda keberangkatannya”.



c) Ilmu Pengetahuan Sosial
Pelajaran sejarah, pendidikan kewarganegaraan (PPKn), dan ilmu bumi dapat dikaitkan dengan membaca dan mempelajari berbagai bacaan. Integrasi dari kedua bacaan ini memungkinkan pendalaman suatu penguasaan yang konkret dalam kaitan dengan dengan kedua pelajaran tersebut. Juga menyuruh anak berbakat menemui beberapa tokoh tua di tempat tinggalnya untuk menanyakan peranan dalam perang kemerdekaan kits, dan memungkinkan kaitannya dengan PPKn. Suatu pameran tentang mata uang logam kuno dari negeri sendiri atau negara lain, tata cara pakaian, alat perang dan benda lain dari masa lalu serta pembangunan kini dapat menghidupkan sejarah, ilmu bumi, dan PPKn secara integral.
Kejadian aktual seperti perjuangan bangsa Asia dan Afrika, perubahan dalam sistem transportasi, penemuan baru seperti “concorde” dan sebagainya, dengan sendirinya merupakan hal-hal yang sangat menumbuhkan motivasi belajar anak berbakat.
d) IPA dan Pendidikan Kesehatan
Keterampilan proses (process skills) dalam IPA pada akhir abad ini telah digalakkan sebagai metologi IPA yang membantu anak didik mengaitkan IPA dengan dasar kehidupan. Memecahkan masalah IPA bukan lagi menghapal hukum dan aksioma saja, tetapi pengembangan aktivitas dan eksperimen yang membantu anak didik memperoleh keterampilan mengamati, megelola, meramalkan sesuatugejala, serta menilai proses tersebut. Berbagai lomba ilmiah atau seminar para ahli di bidang IPA dan Kesehatan dapat disesenggarakan.
e) Matematika
mencari jalan terpendek atau termudah dalam menyelesaikan suatu soal matematika patut dilakukan dilakukan anak berbakat. Pemahaman terhadap hubungan angka dengan membandingkan berbagai metode perkaitan, pengurangan, atau penambahan merupakan sesuatu yang menarik. Perseoalan matematika yang dikaitkan dengan cerita akan sangat melatih keterampilannya. Demikian pula, teta-teki angka banyak memberi kesempatan melatih keluwesan kemampuan berhitung.
f) Kesenian dan Bahasa
Kreativitas anak berbakat dalam berbagai jenis kesenian mendapat kesempatan berkembang dan mudah dikaitkan dengan perkembanga bahasa (umpama drama, deklamasi). Ada juga kegiatan kesenian yang secara khusus memperkaya perkembangan kesenian tertentu, seperti musik (band sekolah), melukis, membatik, dan lain-lain. Kreativitas merupakan suatu ciri khas anak bebbakat. Kreativitas ini dapat diarahkan memalui berbagai kegiatan positif dan menantang.
4) Metode belajar dan guru 
Metode belajar yang paling cocok untuk anak berbakat adalah belajar melalui kelompok kecil atau individu. Apabila anak berbakat harus belajar dalam keas beser, prinsip pendekatan fullout enrichment dan akselarasi harus menjadi dasar untuk pengembangaan pada perbedaan potensinya, beberapa persyaratan yang diperlukan guru ialah memiliki inteligasi tinggi dan mempunyai minat luas dalam berbagai bidang.
6. Implasi Pengembangan Bakat Khusus Remaja terhadap Penyelengaraan pendidikan
Bagaimana kita dapat mengidentifikasi para siswa yang mempunyai bakat? Bagaimana karakteristik atau ciri-ciri mereka? Alat-alat apa yang dapat digunakan untuk mengetahui bakat-bakat khusus tersebut? Semua informasi ini dapat diperlukan sebelum dilakukan upaya pengembangan bakat-bakat khusus bagi para siswa di sekolah.
Alat ukur atau tes apa yang dipakai tentu saja bergantung pada mecam bakat yang ingin dikenali. Bagaimana orang tua dapat mengenal bakat khusus anak? Bakat anak dapat dikenali dengan melakukan observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan dan digemari anak. Pengenalan terhadap bakat anak sangat bermanfaat bagi orang tua dan guru agar memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat, orang tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak tersebut. Selai itu, dapat membantu anak-anak dalam memahami potensi dirinya, serta tidak melihat sebagai sesuatu beban, tetapi sebagai suatu anugrah yang harus dihargai dan dikembangkan. Manfaat lain dari kemampuan orang tua untuk mengenal bakat anak ialah orang tua dapat membantu sekolah dalam penyusunan program dan prosedur pemanduan anak-anak berbakat, dengan memberi informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Sebagai contoh, orang tua memberi keterangan tentang butir-butir berikut ini:
a) Hobi dan minat anak yang khusus
b) Jenis buku yang disenangi
c) Masalah dan kebutuhan pokok
d) Prestasi yang di capai
e) Pengalaman-pengalaman khusus 
f) Kegiatan kelompok yang di senangi 
g) Kegiatan mandiri yang di senangi 
h) Sikap anak terhadap sekolah dan guru 
i) Cita-cita masa depan
Anak akan merasa aman secara psikologis apabila:
a. Guru sebagai pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan bahwa pada dasarnya semua siswa baik dan mampu
b. Guru sabagai pendidik mengusahakan suasana yang menggondisikan anak tidak merasa dinilai. Sebab, memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sabagai suatu ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri
c. Pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan milihat dari sudut pandang atau pola pikir anak. Dalam suasana seperti ini, anak-anak merasa aman untuk mengungkapkan atau mengeksresikan bakatnya.
Dengan demikian, anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain itu, pendidikan hendaknya berfungsi sebagai media pengembangan dan pembinaan bakat anak, sehingga tidak hanya semata-mata menyajikan kumpulan pengetahuan yang bersifat abstrak dan skolastik. Pengenalan bakat dan upaya pengembangannya membantu remaja untuk menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk mencapai tujuan dan karier kehidupannya.
E. Perkembangan Hubungan Sosial Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Pengertian Hubungan Sosial
Menurut knapp (1984) hubungan sosial dapat menyebabkanseseorang menjadi dekat dan merasakan kebersamaan, tetapi dapat pula menyebabkan seseorang menjadi jauh dan tersisih dari suatu hubungan interpersonal.
Kehidupan anak pada dasarnya merupakan kemampuan berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosial budayanya. Pada proses interaksi sosial ini faktor intelektual dan emosional mengambil peran yang sangat penting. Proses sosial tersebut merupakan proses sosialisasi yang menempatkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi, internalisi, dan enkulturasi. Sabab, manusia tumbuh dan berkembang di dalam konteks lingkungan sosial budaya. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan sosial memberi banyak pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak, terutama kehidupan sosiopsikologis.
Kebutuhan bergaul dan berhubungan sosial orang lain ini mulai dirasakan sejak anak berumur enam bulan. Pada saat itu, anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu, ayah, dan anggota keluarganya. Anak mulai mengenal dan mampu membedakan perilaku sosial, seperti marah, seyum, dan kasih sayang. Ia akhirnya menyadari bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain dalam memenuhi dan mempertahankan kehidupan di masyarakat.

2. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, remaja mulai memerhatikan berbagai nilai dan norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku di keluarganya. Ia mulai memahami nilai dan norma pergaulan dalam kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi tidak mudah dilakukan. (Menurut Dacey dan Kenny, 1997) remaaja yang tetap tergantung secara emosional pada orang tuanya mungkin dirinya selalu merasa enak, mereka terlihat kurang kompeten, kurang percaya diri, kurang berhasil dalam belajar, dan bekerja dibandingkan remaja yang mencapai kebebasan emosional.
Erikson mengemukakan bahwa perkembangan remaja sampai jenjang usia dewasa melalui 8 tahapan. Perkembangan remaja berada pada tahap keenam dan ketujuh, yaitu masa menemukan jati diri dan memilih kawan akrab. Sering anak menemukan jati dirinya sesuai dengan ata berdasarkan situasi kehidupan yang mereka alami. Banya di antara mereka yang amat percaya pada kelompoknya dalam menemukan jati dirinya. Dalam hal ini, Erikson berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh pengaruh sosiokulktural. Berbeda dengan pandangan Sigmud Freud bahwa kehidupan sosial remaja (pergaulan dengan sesama remaja terutama dengan lawan jenis) didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksualnya.
Penyesuaian diri dalam kelomompok kecil yang terdiri dari pasangan remaja berbeda jenis tetap menjadi permasalahan yang cukup berat. Dalam proses penyesuaian diri, kemampuan intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian akan kekurangan dan kelebihan masing-masing dan upaya menahan sikap menonjolkan diri atau dominasi terhadap pasangannya, memerlukan tindakan intelektuak yang tepat dan kemampuan mengendalikan emosional. Dalam hal hubungan sosial yang lebih khusus, yang mengarah pada pemilihan pacar dan pasangan hidup, pertimbangan faktor agama dan suku bangsa menjadi masalah yang amat rumit. Perimbangan masalah agama dan suku bangsa ini bukan saja menjadi kepentingan masing-masing individu yang bersangkutan, tetapi juga menyangkut kepentingan keluarga dan kelompok masyarakat yang lebih beser (sesama agama atau sesama suku).

3. Faktor-faktor yang Memengaruhi perkembangan Sosial
Perkembangan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain keluarga, status sosial ekonomikeluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental, terutama emosi dan inteligensi.

1) Faktor keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangaan sosial anak. Keluarga merupakan media sosialisasi yang paling efektif bagi anak. Menurut Lamborn dan Steinderg (1993) hubungan orang tua dengan anak yang suportif memungkinkan untuk perasaan positif dan negative, yang membantu perkembangan kopetensi sosial dan otonomi yang bertanggung jawab. Sedangkan menurut Santrock (1995) remaja yang memiliki hubungan yang nyaman dan harmonis dengan orang tuanya memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik, sebaliknya, ketidakdekatan emosional dengan orang tua berhubungan dengan perasaan-perasaan akan penolakan oleh orang tua yang lebih besar serta perasaan lebih rendahnya daya tarik sosial dan romantic yang dimiliki diri sendiri. Dalam keluarga berlaku nilai dan norma kehidupanyang harus diikuti dan dipatuhi oleh anak. Sikap orang tua yang terlalu mengekang dan membatasi pergaulan akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial bagi anak-anaknya. Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu memberikan kebebasan bergaul menyebabkan perkembangan sosial anak-anaknya cenderung tidak terkendali.
2) Kematangan 
Proses sosialisasi tentu saja memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk memberi dan menerima pandangan atau pendapat orang lain diperlukan kematangan intelektual dan emosional. Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial. Menurut Davidoff (1988) kemantangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir timbul dan bersatu dengan pembawaanya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Sedangkan menurut Chaaplin (2002) mengartikan kematangan sebagai perkembangan proses mencapai kemasakan atau usia masak, proses perkembangan yang dianggap berasal dari keturunan, atau merupakan tingakah laku khusus spesies. Dan menurut Myers (1996), mengatakan bahwa kematangan adalah biological growth processes that enable ordely in behavior, relatively uninfluenced by experience. Kemudian menurut Zigler dan Stavenson (1993), kematangan adalah the ordely physiological changes that occur in all species over time and that appear to unfold according to a genetic blueprint. 
3) Status sosial ekonomi
Kehidupan sosial dipengaruha pula oleh kondisi atau sosial ekonomi kelurga. Masyarakat akan memandang seseorang anak dalam konteksnya yang utuh dengan keluarga anak itu. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan memlihatkan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya, ia akan menjaga status sosial dan ekonomikeluarganya. Hal itu mengangkibatkan anak akan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Kondisi demikian dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak-anak dari keluarga kaya akan membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.

4) Pendidikan 
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Sebagai proses pengoperan ilmu yang normatif, pendidikan akan memberi warna terhadap kehidupan sosial anak di masa yang akan datang. Pendidikan untuk membentuk kepribadian anak agar mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, siswa bukan saja dikenalkan dan ditanamkan nilai dan norma keluarga dan masyarakat, tetapi juga nilai dan norma kehidupan bangsa dan negara.
5) Kapasitas mental: emosi dan Inteligensi
Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir memengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa, dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan di masyarakat. Perkembangan emosi dan inteligensi berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi dan memiliki emosi stabil akan mampu memecahkan berbagai masalah hidupnya di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hak ini akan mudah di capai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulan dengan orang lain. Pemikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritisnya terhadap situasi dari orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkannya. Sikap kritis ini juga ditunjukkandalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya,sehingga ia merasa bahwa tata cara, adat istiadat yang berlakudi lingkungan keluarga bertentangan denga sikap kritis yang tampak pada pelakunya.
Pengaruh egosentri masih sering terlihat pada pikiranremaja, karena hal berikut:
a. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalumenitikberatkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan perseoalan.
b. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pandapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya dapat menimbulkan reaksi lain, yaitu melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri. Mereka merasa dirinya “ampuh” atau “hebat” sehingga berani menentang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas yang mengancan pikiran atau rencana. Aktivitas yang dilakukan pada umumnya tergolong aktivitas yang membahayakan.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya semakin berkurang. Pada akhirnya masa remaja, pengaruh egosentrisitas sudah sedemikian kecilnya, sehingga ia dapat berhubungan dengan orang lain tnpa harus meremehkan pendapat dan pandangan orang lain.
5. Mengambangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Sebagai makhul sosial, remaja dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu meampilkan diri sesuai untuk dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh kerena itu, ia dituntut untuk menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Keterampilan-keterampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Keterampilan tersebut arus mulai dikembangkan sejak anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup bagi anak-anak untuk bermai atau bercanda dengan teman-teman sebaya, memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai perkembangan anak, dan sebagainya. Dengan mengembangkan keterampilan tersebut sejak dini, anak akan mudah memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat.
Berdasarkan kondisi tersebut amatlah penting bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial (social skills), yaitu keluarga, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan\sekolah, persahabatan dan solidaritas kelompok, dan lapangan kerja.
a. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga aka sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home sehinga tidak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari:
 Kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding)
 Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua dan saudara
 Kurang mampu berkomunikasi secara sehat
 Kurang mampu mandiri
 Kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara
 Kurang mampu berkerja sama
 Kurang mampu mengadakan hubungan yang baik
Keharmonisan dalam hal ini tidaklah selalu identik dengan adanya orang tua utuh, ayah dan ibu sebab dalam banyak kasus, orang tua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan oleh orang tua adalah menciptakan suasana yang demokratis di dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua, segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya kounikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, hanya akan memunculkan berbagai konflik berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional.


b. Linkungan 
Sejak dini, anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah,pekarangan) dan lingkungan sosial (tetanga), lingkungan keluarga (keluarga primer & sekunder), lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakt luas. Dengan pengenalan lingkungan sejak dini, anak sudah mengetahui bahwa diamemiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
c. Kepribadian
Secara umum, penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, padahal sebenarnya tidak demikian kerena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan tidak menarik. Di sinilah pentingnya orang tua memberikan penanaman nilai-nilai yang memghargai harkat dan mertabat orang lain tanpa mendasrkan pada hal-hal fisik, seperti materi atau penampilan.
d. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebiliknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi, seseorang akan merasa mendapat kesegaran fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capek, bosan, menoton, serta mendapatkan semagat baru.
e. Pergaulan dengan lawan jenis
Untuk menjalankan peran menurut jenis kelamin, anak dan remaja seyogianya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga maupun berkeluarga.
f. Pendidikan
Pada dasarnya, sekolah mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak. Salah satu keterampilan tersebut adalah keterampilan sosial yang dikaitkandengan car-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hal ini peran orang tua adalah menjaga agar keterampilan-keterampilan tersebut tetap dimiliki oleh anak dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembanggannya. Menurut Deutsch (1993), pendidikan merupakan salah satu konteks yang memberikan peranan penting dalam pengembangan keterampilan sosial anak dan remaja. 
g. Persahabatan dan solidaritas kelompok
Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Sering remaja bahkan lebih memmentingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarga. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal ini orang tua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Mc.Devitt dan Ormrod (2002) mendenifisikan friendship sebagai: peer relation ship that is foluntary and reciprocal and includes sareth routines and customs, sedangkan menurut Santrock (1998) mengatakan bahwa persahabatan adalah keakraban dan kesamaan. 
h. Lapangan kerja 
Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran di sekolah, mereka telah mengenal berbagai lapangan perkerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SLTA, mereka mendapat bimbingan kariar untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan krjadan keterampilan-keterampilan sosial yang membutuhkan, remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi akan siap untuk berkerja.
i. Meningkatkan kemampuan penyesuaian diri
Untuk menumbuhkan kemampuan penyesuaian diri, sejak anak awal diajarkan untuk lebih memahami dirinya sendiri (kelebihan dan kekurangannya) agar ia mampu mengendalikan dirinya sehingga dapat bereaksi secara wajar dan noratif. Untuk itu, tugas orang tua\pendidik adalah membekalidiri anak dengan membiasakan untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dan sebagainya. Dengan cara ini, remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan balik dari orang lain\kelompok, mudah membaur dalam kelompok dan memiliki silidaritas yang tinggi sehingga mudah diterima oleh orang lain\kelompok. Menurut Mustafa Fahmi (1977) pengertian luas tentang proses penyesuaian diri terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, yang dituntut dari individu tidak hanya mengubah kelakuanya dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan diluarnya.
6. Implikasi Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan 
Masa remaja merupakan masa mencari jati diri sehingga ia memiliki sikap yang terlalu tinggi dalm menilai dirinya atau sebaliknya. Remaja umumnya belum memahami benar tentang nilai dan norma sosial yang berlaku dalm kehidupan mesyaraktnya. Hal itu menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi dengan sondisi yang terjadi dalam masyarakat.
Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial. Penciptaan kelompok sosial remaja ke arah perilaku yang bermanfaat and dapat diterima oleh masyarakat umum. Di sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, kelompok belajar, dan kegiatan-kegiatan lainya di bawah asuhan guru pembimbing.
Menurut Baskoro poedinoegroho E (2001), mengatakan reformasi pendidikan yang sedang diupayakan tidak akan berarti jika sikap kritis diri tidak termuat didalamnya. Tanpa landasan sikap kritis diri, reformasi pendidikan hanya sebatas retorika.
F. Perkembangan Bahasa Peserta Didik Usia Sekolah Menegah (Remaja)
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulan atau hubungan dengan orang lain. Bahasa merupakan alat pergaulan , pengunaan bahasa menjadi efektifsejak seseorang individu berkomunikasi denga orang lain. Pada bagia ini, perkembangan bahasa dimulai dengan meniru suara atau bunyi tanpa arti dan diikuti dengan ucapan satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya. Dengan menggunaka bahasa inilah, ia berhubungan sosial sesuai dengan tingkat perilaku sosialnya.
Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, saat ia mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatkan kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik dengan cara lisan, tertulis maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami and dipahami orang lain.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Pola bahasa yang dimiliki dan dikuasai anak adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga, yang disebut bahasa ibu.
Perkembangan bahasa ibu dilengkapi dan diperkaya oleh bahasa masyarakat tempat mereka tenggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bebbahasa. Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya menyebabkan bahasa remaja lebih diwarnai oleh pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok mesyarakat yang bentuknya amat khusus, seperti istilah “baceman” dikalanga pelajar yang dimaksut adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahsa prokem juga tercipta secara khusus di kalangan ramaja untuk mengunakan istilah-istilah yang lebih halus dan intelek.