MAKALAH URGENSI ILMU TAJWID DALAM AL-QUR’AN


Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna diantara semua ciptaan, merupakan makhluk yang selalu membutuhkan pertolongan dari sang penciptanya dimana dia adalah manusia biasa di hadapan Allah yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, sudah pasti Allah swt sebagai sang Pencipta, yang maha Bijaksana, Maha Adil dan Maha segala-galanya akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang taat dan patuh kepada-Nya.

Sebagai salah satu bukti pertolongan Allah swt kepada manusia adalah memberikan manusia filter berupa akal dan petunjuk (Al-Qur’an) sehingga segala perkataan dan perbuatan manusia dapat berjalan dengan baik sehingga tercapai kehidupan yang damai, tentram, sejahtera yang terbingkai dalam nuansa religius yang tunduk dan patuh kepada Allah swt.


Al-Quranul Karim adalah Mukjizat yang abadi, yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai hidayah bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam bahasa Arab yang sangat tinggi susunan bahasanya dan keindahan balagahnya.[1]
              Al-Qur’an disebut juga al-kitab karena ia tertulis. Menurut arti yang lazim dalam agama, ialah ayat firman Allah yang diturunkan atas Nabi Muhammad saw tertulis dalam beberapa halaman, sehingga menjadi sebuah buku yang besar dan tebal dari masa ke masa sampai kepada para hamba Allah (manusia) dengan berita yang khabar mutawatir, yang tidak akan dapat ditolak kebenarannya.[2] Sebagaiamana yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2 :
ذَالِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًىلِلْمُتَّقِيْنَ
Terjemahnya:
Al-kitab (Al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[3]
              Di samping itu, Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang berhubungan dengan totalitas kehidupan manusia yang mengandung pesan sosial dan spirit keberagamaan. Dalam kenyataan empirik tidak dapat dipungkiri bahwa ketika sumber ajaran itu hendak dipahami dan dikomunikasikan dalam kehidupan manusia yang pluralistik, maka diperlukan keterlibatan pemikiran yang merupakan kreativitas manusia. Dalam hal ini, manusia menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman karena Al-Qur’an merupakan kitab suci yang selalu terjaga dari pemalsuan.
              Al-Qur’an sebagai kitab suci yang tidak diragukan lagi kebenarannya oleh umat Islam di mana fungsi utamanya adalah dikaji dan diambil hikmah-hikmanya untuk dijadikan sebagai petunjuk, sebagaimana dalam firman Allah Swt dalam QS. Shaad (38): 29:
                                 كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوْاايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوااْلاَلْبَابِ
Terjemahnya :
“Inilah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu yang diberkati supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.”[4]
              Umat Islam berkewajiban menaruh perhatian terhadap Al-Qur’an baik dengan cara membacanya, menghafalnya, maupun menafsirkannya. Allah swt telah menjanjikan bagi para pelestari kitab-Nya yaitu berupa pahala, dinaikkan derajatnya dan diberi kemenangan di dunia dan di akhirat.
              Firman Allah swt dalam QS. Fathir (35) : 29-30 :
اِنَّ اَّلذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَ نْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرً لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ أِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Terjemahnya :
              Sesungguhnya orang-orang yang selalu, membaca kitab Allah, mendirikan shalatnya dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari                    karunia-Nya. sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha, mensyukuri.[5]
              Rasulullah Saw, bersabda :
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِيْ عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الَّحْمنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عِنْهُ عِنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْتَعَلَّمَ اْلقُرْءَانَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمنِ فِيْ إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ اْلحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذَيْ أَقْعَدَنِيْ هذَا. (رواه البخارى) .[6]
Artinya :        
              Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.
  Pada hadis lain Nabi bersabda :
حَدَّثَنِى اْلحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ اْلحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُوْ تَوْبَةَ وَهُوَالرَّبِيْعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِى ابْنَ سَلاَّمٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلاَّمٍ يَقُوْلُ إِقْرَؤُوا اْلقُرْءَانَ فَاِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ اْلقَِيامَةِ شَفِيْعًا لاَِ صْحَابِهِ (رواه المسلم).[7]
Artinya :        
              Bacalah olehmu Al-Qur’an karena pada hari kiamat nanti akan mendatangi orang yang membacanya sebagai pemberi Syafa’at.
              Mengingat pentingnya mempelajari Al-Qur’an, maka pengenalan Al-Qur’an itu bukan hanya diketahui dari segi fisik dan aspek sejarah semata, namun yang lebih penting adalah bagaimana mampu membaca sekaligus mampu memahami makna yang terkandung dalam ayat demi ayat dari Al-Qur’an.[8] Maka aspek kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan hal pokok yang semestinya yang harus diketahui lebih awal sebagai muslim.
            Berdasarkan ayat dan hadis di atas tentang pentingnya Al-Qur’an untuk dibaca, dipelajari, diajarkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, kalau dikaitkan dalam realita kehidupan masyarakat terhadap perhatiannya kepada Al-Qur’an, sungguh sangat menyedihkan. Dalam  realita bahwa, jangankan untuk memahami atau menghayati Al-Qur’an dengan baik, membacanya pun terkadang bagi sebagian besar umat Islam masih kesulitan.
Di samping itu, ada juga sebahagian saudara semuslim yang mampu membaca membaca Al-Qur’an akan tetapi kualitas bacaannya masih sangat minim di mana mereka melakukan kesalahan-kesalahna dalam membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu dianjurkan kepada mereka untuk belajar membaca Al-Qur’an yang biasa dikenal Ilmu Tajwid. Untuk lebih jelanya pembahasan tersebut akan diulas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
            Dari latar belakang masalah diatas maka penulis mengambil sub masalah sebagai berikut
1.      Pengertian Tajwid Al-Qur’an ?
2.      Bagaimana urgensi Tajwid dalam Al-Qur’an?

BAB  I
PEMBAHASAN
1.      Tajwid Al-Qur’an
Para ahli qiraat (qurra’) mengatakan bahwa tajwid merupakan hiasan atau seni dalam membaca Alquran (hilyah al-qira’ah). Tajwid adalah membaca huruf sesuai dengan hak-haknya, menertibkannya, serta mengembalikannya ketempat keluar (makhraj) dan asalnya, tanpa dikurangi dan dibuat-buat. Dalam kaitan ini, Rasulullah saw. Bersabda, “Barang siapa membaca Al-Qur’an persis sebagaimana ketika diturunkan (sesuai dengan aslinya), hendaklah membacanya menurut qiraat Ibn Ummi ‘Abd.”.[9]
Tajwid menurut bahasa adalah tahsin: Memperbaiki atau mendatangkan bacaan dengan baik. Sedangkan menurut istilah adalah ilmu yang mempelajari cara mengucapkan huruf-huruf Al-Quran tentang tebal dan tipisnya, panjang dan pendeknya, sifat-sifatnya dan hukum membaca huruf hijaiyyah bila bertemu dengan huruf yang lain. Sehingga menjadi suatu bacaan yang baik.[10]
Para ulama dahulu dan sekarang menaruh perhatian terhadap tilawah (cara membaca) Al-Qur’an, sehingga pengucapan lafadh-lafadh Al-Qur’an menjadi baik dan benar. Cara membaca ini dikalangan mereka dikenal dengan tajwidul Quran dan telah dibahas oleh segolongan ulama secara khusus dalam karya tersendiri, baik berupa nadzam maupun prosa.
Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya di samping harus pula diperhatikan hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan sesudahnya dalam cara pengucapannya. Oleh karena itu ia tidak dapat diperoleh hanya sekedar dipelajari namun juga harus melalui latihan, praktek, dan menirukan orang yang baik bacaannya. Sehubungan dengan hal ini Asy-Syaikh Ibnul Jazariy mengatakan :“ aku tidak mengetahui jalan yang paling efektif untuk mencapai puncak tajwid selain dari latihan lisan dan mengulang-ulang lafadh yang diterima dari mulut orang yang baik bacaannya”. Para ulama’ juga menganggap qiro’at (bacaan) Al-Qur’an tanpa tajwid sebagai suatu lahn (kerusakan atau kesalahan).[11]
Membaca Al-Qur’an dengan cara mentajwidkannya, telah dinyatakan dengan firman Allah Swt di dalam QS. Al Muzzammil (37): 4
اَوْزِدْعَلَيْهِ وَرَتِّلِ اْلقُرْءَانَ تَرْتِيْلاَ. المزمل – ايه :
Terjemahnya :
Dan bacalah olehmu akan Al-Qur’an Itu dengan tartil”.[12]
Kata Imam Mujahid : “Tartil itu ialah membaca dengan teratur dan perlahan-lahan”. Sedangkan menurut kata S. Ali r.a. : Tartil itu ialah membaguskan membaca dan mengenal wakafnya”. Singkatnya, yang dinamakan Tartil dalam membaca Al-Qur’an itu, ialah membaguskan bacaan hurufnya satu persatu dengan terang, teratur, dengan perlahan-lahan, tidak terburu-buru dan bercampur aduk.[13]
2.      Urgensi Tajwid dalam Al-Qur’an
            Al-Qur’an yang merupakan firman Allah swt, diberikan kepada Nabi Muhammad saw sebagai cahaya penerang bagi umatnya untuk dijadikan sebagai petunjuk mencapai kebenaran yang hakiki sehingga umat Islam dapat melaksanakan fitrahnya sebagai hamba yang selalu bersujud kepada Allah swt dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu, sebelum memahami isi yang terkandung di dalam Al-Qur’an maka terlebih dahulu orang-orang Islam harus fasih dan mengetahui cara membaca Al-Qur’an yang benar sehingga pada saat membaca al-Qur’an,  tidak terjadi kesalahan fatal maupun kecil (khofiy dan jaliy).
Perlu diketahui bahwa salah satu perbedaan bacaan antara seseorang dengan lainnya, sangat tergantung pada fasih dan tidaknya pengucapan huruf dari pembaca itu sendiri. Untuk itu perlu dipelajari dan diketahui bersama ilmu tajwid Al-Qur’an di mana tempat-tempat keluarnya dan sifat-sifat hurufnya, yang selanjutnya dipakai sebagai bahan latihan secara individu dengan terus-menerus (secara intensif), agar dapat tepat sesuai dengan yang dikehendakinya.
Dalam hal ini pula ditegaskan oleh As-Syams Al-Jazari di dalam muqoddimahnya yang artinya :
Suatu kewajiban bagi seorang dalam membaca Al-Qur’an yaitu lebih dahulu mengetahui ilmu atau seluk beluk jalan keluar suara huruf dan berbagai sifat-sifatnya agar mereka dapat membaca dengan baik dan fasih.[14]
Di samping itu penegasan lain yang diungkapkan oleh As-Syams Al-Jazari bahwa Mengurangi panjangnya mad thobi’i dari kadar satu alif hukumnya adalah haram syar’an (disiksa). Mengurangi panjangnya mad far’i dari ketentuan masing-masing adalah menjadi bacaan yang lahan dan salah yang buruk serta menyalahi dari ketetapan Nabi saw, yang sudah mutawatir. Dan menambah panjangnya mad dari kepastiannya masing-masing mad thobi’i dan mad far’i ini termasuk paling buruk-buruknya bid’ah. Apalagi kalau sampai diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang bodoh.[15]
            Berdasarkan keterangan di atas bahwa hukum mad merupakan suatu keharusan untuk dibaca panjang sesuai dengan ketentuannya masing-masing yang sudah menjadi suatu ketetapan, oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak mengikuti hal tersebut karena ketentuan-ketentuan itu bersumber dari Allah swt yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril.         
B. Kegunaan dan Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Kegunaan dari mempelajari ilmu tajwid adalah :
1. Agar tidak ada kesalahan dalam membaca ayat-ayat Allah ( Al-Qur’an ).
2.  Agar ayat-ayat yang kita baca sesuai dengan ketentuan-ketentuan bahasa arab, baik cara pengucapan huruf, sifat-sifat huruf dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama Ahli Qurro.
Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardlu kifayah sedangkan mengamalkannya adalah fardlu ‘Ain dan bagi orang yang membaca Al-Qur’an wajib hukumnya mentajwidkan bacaannya.
Berkata Imam Ibnul Jazariy Rohimahulloh :
Menggunakan tajwid itu hukumnya fardhu ‘Ain bagi setiap muslim mukallaf yang membaca Al-Qur’an. Maka berdosalah siapa (pembaca Al-Qur’an) yang tidak membuat shohih/mentajwidkan bacaan Qur’annya, karena Alloh ta’ala menurunkannya dengan disertai perintah memakai tajwid dalam membacanya. dan begitulah sampai pada kita.[16]
Sebagaimana firman Allah Swt QS. (37): 4
وَرَتِّلِ اْلقُرْءَانَ تَرْتِيْلاَ
Terjemahnya :
“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil ”.[17]
Sabda Rasulullah saw :
وعن الله بن العاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يقال لصاحب القرآن: لقرأوارتق ورتل كما كنت ترتل في الدنيا,فانه منزلتك عندآخرآية تقرأز (رواه أبوداودوالترميذى)
Artinya :
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Nanti akan diperintahkan kepada orang yang suka membaca Al-Qur’an: bacalah dengan baik dan tartil sebagaimana kamu membacanya dengan tartil di Dunia. Karena sesungguhnya tempatmu (derajatmu) tergantung pada akhir ayat yang kamu baca”. (H.R. Al-Tirmidzi)[18]
            Dalam hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh  Asy-Syeikh Ibnu Jazariy di dalam syairnya :
والأ خذ بالتجويد حتم لا زم    -     من لم يجود القرءان اثم
Artinya :
Menggunakan atau mengamalkan ilmu tajwid adalah merupakan suatu keharusan, maka barang siapa yang tidak memperbaiki bacaan Al-Qur’annya dia termasuk berdosa.[19]
            Berdasarkan dalil di atas tentang hukum membaca Al-Qur’an, bahwa kewajiban bagi orang Islam sebagai umat Nabi Muhammad saw, ketika membaca Al-Qur’an harus mentajwidkannya dan membacanya dengan tartil sama seperti ketika Al-Qur’an diturunkan kepada utusan Allah swt yaitu Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi orang Islam khususnya kepada pelajar/mahasiswa untuk tidak mempelajari Al-Qur’an, Karena Al-Qur’an merupakan kitab suci dan mukjizat terbesar yang diberikan kepada hamba Allah yang mulia yaitu Rasulullah Saw dan di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk yang sangat penting untuk diketahui dan diamalkan agar manusia tidak tersesat dalam memilih jalan demi tercapainya cita-cita yaitu mendapatkan ridha Allah swt.  
C. Fadhillah (Keutamaan) Ilmu Tajwid
            Ilmu tajwid adalah ilmu yang sangat mulia, hal ini karena keterkaitannya secara langsung dengan Al-Qur’an, bahkan dalam dunia ilmu hadits, seorang alim tidak akan mengajar hadits kepada muridnya sehingga ia sudah menguasai ilmu Al-Qur’an.
1.   Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan tolok ukur kualitas seorang muslim.
2.    Mempelajari Al-Qur’an adalah sebaik-baik kesibukan. Allah Swt berfirman dalam Hadits Qudsi :
مَنْ شَغَلَهُ اْلقثرْآنَ عَنْ ذِكْرِيْ وَمَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّئِلِيْنَ . وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَائِرِ اْلكَلاَمِكَ فَضْل اللهِ عَلَى خَلْقِهِ  (رواه الترمذي)
         Artinya :
Barang siapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an dalam rangka berzikir kepadaKu dan memohon niscaya aku  akan memberikan sesuatu yng lebih utama dari apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah dari pada seluruh kalam yang selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.
Di samping itu Persoalan-persoalan dalam tajwid sering juga ditemukan rincian-rinciannya dalam qira’at. Demikian pula dalam hal tilawah, pengetahuan tentang qira’at  dan tajwid akan sangan mempengaruhi kebagusan dan keindahan tilawah seorang. [20] oleh karena itu, di sini dapat diketahui secara jelas bahwa Ilmu tajwid sangat penting peranannya dalam Al-Qur’an di mana hal tersebut memiliki keterkaitan dan berhubungan yang saling mendukung dan melengkapi, secara singkatnya bahwa antara tajwid dan Al-Qur’an merupakan kesatuan yang terpisah yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam hal ini  seperti yang telah diungkapkan oleh imam Al-jazariy di atas bahwa suatu kewajiban bagi seorang dalam membaca Al-Qur’an yaitu lebih dahulu mengetahui ilmu atau seluk beluk jalan keluar suara huruf dan berbagai sifat-sifatnya agar mereka dapat membaca dengan fasih dan Mengurangi panjangnya mad thobi’i dari kadar satu alif hukumnya adalah haram syar’an (disiksa). Mengurangi panjangnya mad far’i dari ketentuan masing-masing adalah menjadi bacaan yang lahan dan salah yang buruk serta menyalahi dari ketetapan Nabi saw, yang sudah mutawatir.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Dari beberapa sumber yang menjadi rujukan makalah ini yang membahas tentang  “Tajwid Al-Qur’an dan urgensinya dalam Al-Qur’an” maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan sebagai berikut:
1.      Tajwid Al-Qur’an adalah merupakan cara membaca huruf sesuai dengan hak-haknya, menertibkannya, serta mengembalikannya ketempat keluar (makhraj) dan asalnya, tanpa dikurangi dan dibuat-buat.
2.      Urgensi tajwid dalam Al-Qur’an adalah Agar tidak ada kesalahan dalam membaca ayat-ayat Allah ( Al-Qur’an ), Agar ayat-ayat yang kita baca sesuai dengan ketentuan-ketentuan bahasa arab, baik cara pengucapan huruf, sifat-sifat huruf dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama Ahli Qurro sehingga dalam membaca Al-Qur’an persis sebagaimana ketika Al-Qur’an diturunkan (sesuai dengan aslinya).

DAFTAR PUSTAKA
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah, Al Jami’ul Shohih, Bab. 18, Juz 5, Cet. I; Bairut-Libanon: Darul Kitab ‘Ulumiyyah, 1987 M/1408 H
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahanya, Jakarta: CV. Kathoda, 2005
H. Sa’dulloh, Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an, Cet. I; Sumedang : Ponpes                     Al-Hikamussalafi Sukamantri, 2005
Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al Khusairi An Naisabury, Shohih Muslim, Bab. Fadhlu Al Qiraatil Quran wasuratul Baqarah kitabul Shalatul Musafirin wakasruha, Juz I, Hadits 252, Cet. I; Darul ’Alimil Kutubi: Riyadh, 1996 M/1417 H
Imam Abu ’Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mugiroh Barzabah Al-Bukhori Al-Ja’fary, Juz 5, Bab Fadhoil Quran, Shahih Bukhari (Bairut-Libanon: Darul Fikri, 855 H
Khalil Moenawar, Alquran dari Masa ke Masa  Cet. Keenam; Solo: C.V Ramadhani, 1985
Muh. Wahyudi, Hukum-hukum Bacaan Al-Qur’an  Surabaya:Indah Surabaya,1996
Maftuh bin Basthul birri, Tajwid Jazariyyah, Cet. Pertama;Kediri: Madrasah Murottilil Qur-anil Karim,2003
Muhammad Ahmad Ma’bad, al-Mulakhkhash al-Mufid fi ‘Ilmi Tajwid, (Cet. VI; Madinah: Maktabah Thayyibah, 1993), h. 10. Bandingkan dengan Husni Syaikh Usman, Haqq al-Tilawah, (Cet. X; Jeddah: Dar al-Minarah, 1994
Muhammad ibn ‘Alawi Al- Maliki, Samudra Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Cet. I; Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2003
Syakir Ridwan DKK, Panduan Ilmu Tajwid Versi Madrasatul Quran Tebuireng Cet.I;Jawa Timur:Unit Tahfidh madrasatul Qur an Tebuireng,2004
Zulfisun, Muharram, belajar mudah membaca Al-Qur’an dengan metode mandiri,  cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2003


[1] H. Sa’dulloh, Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an, (Cet. I; Sumedang : Ponpes                     Al-Hikamussalafi Sukamantri, 2005), h.  34.
                [2] Moenawar Khalil, Alquran dari Masa ke Masa  (Cet. Keenam; Solo: C.V Ramadhani, 1985), h. 1.
[3] Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahanya  (Jakarta: CV. Kathoda, 2005),  h. 2.
[4] Ibid., h. 651.   
                [5] Ibid.,  h. 620-621. 
[6] Imam Abu ’Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mugiroh Barzabah Al-Bukhori Al-Ja’fary, Juz 5, Bab Fadhoil Quran, Shahih Bukhari (Bairut-Libanon: Darul Fikri, 855 H), h. 131.
[7]Imam Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al Khusairi An Naisabury, Shohih Muslim, Bab. Fadhlu Al Qiraatil Quran wasuratul Baqarah kitabul Shalatul Musafirin wakasruha, Juz I, Hadits 252 (Cet. I; Darul ’Alimil Kutubi: Riyadh, 1996 M/1417 H), h. 553.
[8]  Lihat Zulfisun, Muharram, belajar mudah membaca Al-Qur’an dengan metode mandiri( cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 1.
[9] Yang dimaksud qiraat Ibn Ummi ‘Abd adalah bacaan ibnu Mas’ud Lihat Muhammad ibn ‘Alawi Al- Maliki, Samudra Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Cet. I; Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2003), h. 52 
                [10] Syakir Ridwan DKK, Panduan Ilmu Tajwid Versi Madrasatul Quran Tebuireng (Cet.I;Jawa Timur:Unit Tahfidh madrasatul Qur an Tebuireng,2004), h. 22
            [11] Muh. Wahyudi, Hukum-hukum Bacaan Al-Qur’an  (Surabaya:Indah Surabaya,1996),  h.16.
                [12] Depertemen Agama RI, op.cit., h. 846.
                [13] Lihat Moenawar Kholil,  op. cit.,  h. 123.
[14] Lihat Moh. Wahyudi, op. cit., h. 43.
[15] Maftuh bin Basthul birri, Tajwid Jazariyyah (Cet. Pertama;Kediri: Madrasah Murottilil Qur-anil Karim,2003), h. 108.
                [16] Ibid., h. 55.
                [17] Departemen Agama RI,  loc.cit., h. 846.
                [18] Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah, Al Jami’ul Shohih, Bab. 18, Juz 5 (Cat. I; Bairut-Libanon: Darul Kitab ‘Ulumiyyah, 1987 M/1408 H), h. 162
                [19] Maftuh bin Basthul Birri, op. cit,.55. 

[20] Kata tajwid menurut bahasa berasal dari kata جوّد yang berarti النحسين (membuat lebih bagus) sedangkan istilah berarti tata cara pengucapan lafadz dalam al-Qur’an dengan memberikan setiap huruf hak-haknya, baik dari segi makhraj, sifat, gunnah, mad, tarqiq, tafkhim dan hokum-hukum tajwid lainnya dandiupayakan pengucapan sebaik mungkin menurut pengucapan Rasulullah Saw. Lihat Muhammad Ahmad Ma’bad, al-Mulakhkhash al-Mufid fi ‘Ilmi Tajwid, (Cet. VI; Madinah: Maktabah Thayyibah, 1993), h. 10. Bandingkan dengan Husni Syaikh Usman, Haqq al-Tilawah, (Cet. X; Jeddah: Dar al-Minarah, 1994), h. 49-51. Sedangkan tilawah berasal dari akar kata تَلأَ  yang berarti membaca, jadi tilawah berarti bacaan. Namun seiring dengan perkembangan qira’at khususnya dalam hal seni baca al-Qur’an istilah tilawah lebih dipahami sebagai pembacaan al-Qur’an pembacaan al-Qur’an dengan lagu yang indah dan suara yang merdu.