Skripsi dan Tesis dengan Judul PENGARUH DAKWAH TAREKAT SAMMANIYAH DALAM PEMBINAAN AGAMA MASYARAKAT PEDESAAN GAYO LUES


Salah satu perbedaan yang mencolok antara agama Islam dengan agama Yahudi adalah konsep agama Islam yang ingin menyebarkan agama. Hal ini terjadi karena tidak ada konsep ummat terpilih seperti yang dianut oleh agama Yahudi, yang membiarkan ummat lain selain keturunan mereka tidak masuk dalam bimbingan agama mereka.[1] Artinya dakwah Islam merupakan salah satu kewajiban ummat muslim dalam mewujudkan kehidupan sosial yang lebih baik dalam semu segi kehidupan hingga tercapainya konsep khairul ummah.
          Dakwah merupakan salah satu usaha yang berupa ajakan dengan sadar dan terencana untuk mengajak seseorang ataupun agar lebih sadar dan mengamalkan ajaran Islam pada setiap aspek kehidupan, dengan murni dan konsekuen.[2] Dakwah juga bisa diartikan sebagai ajakan baik secara lisan maupun tulisan, tingkah laku dan lain sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana untuk mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun kelompok  agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai pesan yang disampaikan kepadanya dan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.[3]
          Dakwah dikonotasikan dengan pembinaan. Artinya, dakwah merupakan sebuah usaha untuk melestarikan dan mempertahankan ummat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah swt. dengan menjalankan syari’atNya. Dakwah ini merupakan kewajiban seluruh ummat Islam yang tergambar dalam suruhan amar ma’ruf nahi munkar.[4]
          Mereka yang berpraktek dalam dunia dakwah pada umumnya berpendapat bahwa keberhasilan dakwah itu sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk strategi dakwah yang diterapkan yang mencakup didalamnya metode dan sarana-sarana dakwah yang ada. Selain itu juga pendekatan dakwah yang digunakan oleh para praktisi dakwah sangatlah urgen dan siginifikan dalam mewujudkan keberhasilan dakwah.
          Keberhasilan dakwah ini dapat dilihat dari bagaimana para komunikan bisa memahami pesan-pesan yang disampaikan dalam dakwah tersebut. Tidak hanya sampai di situ, keberhasilan dakwah juga dilihat dari pengaruh dakwah tersebut dalam kehidupan para komunikan setelah dakwah disampaikan.
          Pengaruh dakwah yang sama pada masyarakat kota pada umumnya tidaklah sama dengan pengaruh yang akan terdapat pada masyarakat desa. Artinya dakwah yang sama akan menghasilkan persepsi berbeda dalam pandangan masyarakat kota dengan pandangan pada masyarakat desa.  Perbedaan pesan yang diterima ini terjadi karena beberapa hal, baik karena prinsip keagamaan yang berbeda di antara keduanya, sistem sosial yang berlaku dan tingkat pendidikan yang juga tentu berbeda.
          Pendekatan sosiologis terhadap masyarakat desa menyimpulkan bahwa masyarakat desa umumnya berkelompok atas dasar garis kekeluargaan. Sementara masyrakat kota lebih cenderung untuk bersifat individual karena berbagai kepentingan individual yang berbeda.[5]
          Dalam dimensi agama, masyarakat desa umumnya masih bersifat menganut kepercayaan sesuai yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Sifat taklid ini biasanya membawa pengaruh lain dalam kehidupan beragama yakni fanatisme yang berlebihan terhadap sebuah kepercayaan tanpa mengatahui kebenaran ataupun dasar kepercayaan tersebut.
          Dalam masyarakat desa, biasanya tokoh agama mempunyai tempat penting dan terhormat, karena tokoh agama inilah yang dijadikan tempat bertaklid dalam kehidupan beragama dan dalam beberapa dimensi kehidupan lainnya. Ajaran agama  yang sering bercampur aduk dengan budaya atau adat setempat inilah yang menjadikan maysarakat desa sering disebut sebagai penganut ajaran sinkretis atau ajaran agama yang bercampur dengan yang bukan agama.[6]
          Perbedaan mencolok lainnya yang akan terlihat pada masyarakat desa dalam perbandingannya dengan masyarakat kota adalah tingkat pendidikan yang relatif rendah. Hal ini juga tentu sangat berpengaruh dalam mewujudkan besar kecilnya peluang bagi dakwah untuk berhasil. Selain itu tingkat pendidikan ini juga akan bepengaruh besar dalam menentukan cara-cara yang tepat dipakai dalam menyampaikan dakwah.[7]
          Sifat dan corak masyrakat di atas terdapat juga pada masyrakat pedesaan Gayo. Seperti pada masyarakat pedesaan lainnya, masyarakat Gayo mempunyai ciri-ciri sinkretis, fanatis, tingkat pendidikan relatif rendah bila dibandingkan dengan masyrakat kota, bertaklid kepada tokoh agama yang dianggap sebagai panutan dalam kehidupan beragama.
          Dengan begitu kehidupan beragama pada masyrakat pedesaan Gayo adalah bersifat taklid atau dengan kata lain hanya mengikuti tradisi hidup yang berlangsung sejak lama dan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Selain itu ajaran Islam yang dianut oleh masyrakat ini juga terkesan bercampur dengan adat tanpa adanya pembatasan yang jelas.
          Adalah Tarekat Sammaniyah yang merupakan salah saru lembaga, meskipun dalam arti sederhana, yang sungguh dikenal oleh masyrakat Gayo pada umumnya. Dalam sejarah perkembangannya disebutkan bahwa Tarekat ini mengambil kesenenian daerah sebagai sarana untuk dakwah.

[1] Marshall Hodgson, The Venture Of Islam (Chicago: Chichago University Press,  1974) jil. I, hal 338.
[2] T. A. Latief Rousydy, Retotirak Komunikasi dan Informasi (Medan: Rainbow, 1985), h. 39.
[3] M. Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 19.
[4] Ali Mustafa Ya’qub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), h. 221.
[5] Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatau Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, tth.), h. 153.
[6] Abdul Munir Mulkan, Islam Murni Dalam Masyrakat Petani (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), h. 20.
[7] Anwar Masy’ari, Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiah (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), h. 68.

Read more at http://tesisiain.blogspot.com/2013/03/skripsi-dan-tesis-dengan-judul-pengaruh_7368.html#j4Ue2A1SYGHBqlY5.99