Anak Penebang Pohon Raksasa di Blangpidie Meninggal Dunia

Anak Penebang Pohon Raksasa di Blangpidie Meninggal Dunia

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Proses penebangan pohon raksasa berusia ratusan tahun di depan Asrama TNI Kodim 0110 Aceh Barat Daya (Abdya), Jalan Sentral Kota Blangpidie, yang lakoni Sarah Ali (49) sejak Kamis dihentikan sementara. 
Anak Penebang Pohon Raksasa di Blangpidie Meninggal DuniaHingga Selasa (22/11/2016) tidak ada aktivitas penebangan di lapangan. Setelah ditelusuri, ternyata penebang pohon itu, Sarah Ali, sedang dirundung musibah.  
Salah seorang anaknya, Juliandi (24) meninggal dunia. Anak keempat dari tujuh bersaudara meninggal dunia karena sakit ketika bekerja dengan salah seorang kakaknya yang menetap di di Desa Kualo Umu, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue.  
“Saya terpaksa berhenti sementara menebang pohon kayu tersebut, karena musibah. Salah seorang anak kandung saya yang tinggal bersama kakaknya di Sinabang, meninggal dunia,” kata Sarah Ali ketika dihubungi Serambinews.com, Selasa (22/11/2016).  
Juliandi yang masih lajang itu sebenarnya baru sekitar satu bulan terakhir bekerja bersama kakaknya yang menetap di Sinabang, Kabupaten Simeulue. Sebelumnya, armarhum tinggal bersama Sarah Ali di Kompleks Base Camp Desa Pulau Kayu/Padang Baru, Kecamatan Susoh, Abdya. 
Menerima kabar duka tersebut, Sarah Ali segera bertolak ke Sinabang, Kabupaten Simeulue, Sabtu malam lalu atau pada hari kedua ia melakukan pekerjaan menebang pohon besar di jantung Kota Blangpidie. 
Sarah Ali bertolak ke Sinabang memboyong sekitar 10 anggota keluarga, menumpang kapal feri dari Labuhan Haji-Sinabang.  
Apakah penyakit diderita Juliandi terkait kegiatan menebang pohon raksasa itu yang dipercayai oleh sebagian masyarakat memiliki ‘penunggu’, Sarah Ali menjawab, ya, ada sedikit.  
Dikatakan ada keterkaitan sedikit, karena setelah ia menerima order sanggup menebang pohon besar yang kadang dikaitkan dengan hal mistis itu, beberapa anak dari Sarah Ali jatuh sakit secara tiba-tiba, namun masih tertolong dengan bantuan Allah. Tetapi, Juliandi yang jatuh sakit akhirnya tidak tertolong jiwanya. 
Peristiwa yang menimpa tidak menyurut nyali Sarah Ali untuk melanjutkan menebang pohon yang disebutkan sebut-sebut oleh sebagai orang dihuni makluk halus, meskipun soal itu hanya klaim tanpa dasar.  
Sarah Ali mulai menebang pohon ukuran besar pada tanggal 17 November 2016 lalu. 
Target waktu kegiatan penebangan selama 12 hari dengan ongkos telah disepakati yang diikat kontrak dengan Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya Rp 20 Juta.  
Selama bekerja menebang pohon itu, Sarah Ali sudah didaftarkan sebagai peserta asuransi jiwa pada Bumi Putera, karena pekerjaan yang dilakoninya berisiko tinggi.