MAKALAH: HADITS DI MASA SAHABAT DAN TABI’IN

MAKALAH: HADITS DI MASA SAHABAT DAN TABI’IN

HADITS DI MASA SAHABAT DAN TABI’IN

 

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Nabi saw adalah teladan yang senantiasa dicontoh oleh para sahabat. Setiap perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw. menjadi referensi kehidupan sahabat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau hampir setiap gerak-gerik Nabi saw diketahui dan diriwayatkan oleh para sahabat. Dengan demikian, bagi mereka Nabi saw adalah sumber ilmu pengetahuan. Dan pada proses selanjutnya, setiap perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi saw disebut dengan hadits. Sebagaimana dalam pengertian hadits sebagai berikut; Hadis adalah segala sesuatu yang datang dari Rasul saw, baik yang berupa sabda, perbuatan, ataupun taqrir.[1] Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an.

Pada saat Rasullah masih berada disisi para sahabat, setiap permasalahan yang membutuhkan pemecahan senantiasa menjadi diskusi langsung antara para sahabat bersama Rasulullah. Rasulullah merupakan referensi langsung bagi para sahabat dalam segala urusan. Namun ketika Rasulullah telah wafat, ini adalah masa yang demikian berat bagi sahabat. Keberlangsungan pengibaran panji-panji Islam menjadi tanggung jawab para sahabat dan generasi setelahnya. Sebagai orang yang pernah hidup semasa dan bertemu Rasulullah, para sahabat mengemban amanah yang demikian berat untuk menjaga syari’at Islam. Dalam hal ini yang menjadi titik tolaknya adalah keterpeliharaan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Eksistensi Al-Qur’an pada masa itu, mungkin tidak demikian menjadi masalah karena telah dibukukan semasa hidup Rasulullah dan telah banyak sahabat yang menghafalnya. Berbeda dengan hadits, yang belum dibukukan dan masih dalam hafalan sahabat saja. Para sahabat tidak merasa urgen untuk mencatat hadits, karena pada masa sahabat hadits menjadi bahasa komunikasi dan para sahabat mempunyai catatan sendiri (yang tidak dikonsumsi umum).

1.2 Topik Bahasan

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai beberapa hal, diantaranya:

1.2.1 Kedudukan hadits di masa sahabat
1.2.2 Kehati-hatian para sahabat dan tabi’in menjaga sunnah
1.2.3 Semangat mencari ilmu hadits di zaman shabat dan tabi’in
1.2.4 Penyebaran atau perkembangan hadits di masa sahabat dan tabi’in

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini dimaksudkan untuk membahas beberapa hal mengenai pandangan para sahabat dan tabi’in sebagai generasi yang hidup setelah masa Nabi terhadap hadits.

2. Teks Utama

2.1 Kedudukan Hadits di Masa Sahabat

Selain Alquran sebagai sumber hukum Islam, sunnah Rasulullah Saw. menempati urutan kedua dalam hukum Islam. Hal ini terlihat dalam firman Allah;

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqß™§9$# ’Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqß™§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ
 
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S An-Nisaa: 59)

Sabda Rasulullah Saw. ketika menjelang wafat beliau;

حدثنا سعيد بن عثمان، قال: حدثنا أحمد بن دحيم، قال: حدثنا محمد بن إبراهيم الدؤلي، قال: حدثنا علي بن زيد الفرائضي، قال: حدثنا الحنيني، عن كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف، عن أبيه، عن جده، قال: قال رسول الله, صلى الله عليه وسلم: "تركت فيكم أمرين لن 
تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه, صلى الله عليه وسلم"[2]
 
“Aku meninggalkan kepada kalian dua hal, jika kamu berpegang kepadanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnah nabi-Nya.”

Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul Saw. tersebut. Yang dimaksud dengan berpegang kepada kitab Allah adalah menjadikan Alquran sebagai way of life. Ini berarti para sahabat mengamalkan perintah yang terdapat di dalamnya dan menjauhi larangannya. Berpegang pada sunnah Nabi Saw. berarti mengikuti petunjuk Nabi Saw. dan memelihara kemurniannya.

Setelah Rasul saw wafat, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya. Abu Bakar terpilih menjadi khalifah menggantikan kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin temporal (politik) umat Islam, sekaligus mengurus perjuangan spritual menegakkan syari’at Islam. Pada awalnya dua hal ini adalah satu seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Setelah Abu Bakar, estafet kepemimpinan dilanjutkan secara bergantian oleh Umar bin al-Khat-tab, Usman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sunnah di dalam pemerintahan khalifah ar-Rasyidun tersebut tetap menjadi pegangan utama sahabat setelah Al-Qur’an.

Para sahabat telah memahami bahwasanya hadits berkedudukan sebagai sumber hukum kedua setelah kitabullah Al-Qur’an. Sebagaimana perintah Allah SWT. untuk mengikutinya dan tidak menyimpang darinya. Siapa yang memutuskan setiap perkara tanpa berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah maka ia adalah orang yang mendapat hukum haram, sedangkan bagi orang yang menjaga setiap amalnya dengan Al-Qur’an dan Sunnah maka ia merupakan orang yang bersyukur dan berbahagia.[3]

2.2 Para Sahabat dan Tabi’in Menjaga Sunnah (kehati-hatian)

Selain sebagai seorang yang cinta kepada Nabi saw, para sahabat dan tabi’in juga sebagai pecinta hadits-hadits Nabi saw. Untuk itulah mereka demikian antusias dan merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan sumber ilmu dan hukum Islam kedua tersebut. Ada beberapa cara yang telah dilaksanakan para sahabat dan tabi’in untuk menjaga kelestarian hadits, diantaranya: [4]

a) Taqlil ar-riwayah

Para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits rasul saw, karena khawatir terjerumus pada kesalahan serta takut akan adanya kesalahan masuk ke dalam sunnah. Dari kehati-hatian tersebut, bahkan ada diantara sahabat memilih membatasi diri dari periwayatan hadits (Taqlil al-Riwayah) karena alasan menghormatinya, bukan karena enggan terhadapnya. Mereka tidak akan meriwayatkan hadits kecuali sangat mendesak. Seusai meriwayatkan hadis, mereka akan mengatakan نحو هذا, كما قال atau kata yang sejenisnya.[5]

Secara khusus, dalam pemerintahan Abu Bakar dan Umar, ditemukan kesan adanya upaya meminimalisasi riwayat Hadis. Upaya tersebut semakin kuat ketika Umar memegang tampuk kekhalifahan. Umar memberlakukan hukuman dera bagi siapa saja yang memperbanyak periwayatan hadis. Hal ini sebagaimana pengakuan Abu Hurairah ketika ditanya kenapa beliau tidak banyak meriwayatkan hadis pada era pemerintahan Umar. “Jika aku memberitakan hadis pada masa Umar sebagai yang aku beritakan kepada kamu (saat ini), niscaya ia akan memukulku.” Demikian jawaban Abu Hurairah. Dalam masa berikutnya, kendatipun tidak ada lagi tekanan dari Umar, Abu Hurairah tetap tidak mau memperbanyak periwayatan. Hal ini merupakan kesadaran sendiri dari diri beliau untuk mengikuti sunnah dua Khalifah al-Rasyidin, Abu Bakar dan Umar. Namun, dalam suatu saat sebagaimana yang dikemukakan al-Bukhari, beliau membaca dua ayat Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 159 dan 160. Sejak saat itu barulah beliau memperbanyak periwayatannya.

Sahabat-sahabat lain, juga terkesan menyedikitkan riwayat. Abu ‘Ubaidah, ‘Abbas bin ‘Abd al-muth-thalib, mereka tidak banyak meriwayatkan hadis, tidak seimbang jumlah hadis yang mereka riwayatkan dengan kedekatan keseharian mereka dengan Rasul saw. Demikian pula misalnya dengan Sa’id bin Zaid, salah seorang sahabat yang dijamin Rasul masuk surga, tidak meriwayatkan hadis kecuali hanya sekitar dua sampai tiga hadis.[6]

Jika diamati, mengapa sahabat membatasi periwayatan, maka ditemukan jawaban di sekitar hal ini yang bersifat kondisional dan bersifat kehati-hatian.[7]

Pertama, pada masa Abu Bakar, pusat perhatian tertuju pada pemecahan masalah politik, khususnya konsolidasi dan pemulihan kesadaran terhadap perlunya menjalankan roda khilafah Islam. Oleh sebab itu, gerakan periwayatan dengan sendirinya terbatas.

Kedua, sahabat masih dekat dengan era Nabi, dimana umumnya mereka mengetahui sunnah. Sehingga persoalan-persoalan hukum dan sosial telah mendapat jawaban dengan sendirinya pada diri mereka.

Ketiga, para sahabat lebih menfokuskan diri pada kegiatan penulisan dan kodifikasi Al-Qur’an. Kegiatan ini bukanlah pekerjaan mudah, sebab sahabat-sahabat mesti menyeleksi tulisan-tulisan dan hafalan di antara mereka untuk dibukukan dalam satu mushaf. Zaid bin Tsabit, pernah berkata ketika ditunjuk oleh khalifah memimpin penyusunan kembali tulisan Al-Qur’an bahwa ia lebih suka disuruh memindahkan gunung Uhud ketimbang melakukan pekerjaan ini.

Keempat, adanya kebijaksanaan yang dilakukan penguasa, khususnya ‘Umar, agar sahabat menyedikitkan riwayat. Ini disebabkan kecenderungannya yang sangat selektif, berhati-hati, dan diiringi sikap ketegasannya. Dalam kaitan ini kemungkinan Umar ingin melakukan penyebaran Al-Qur’an lebih diprioritaskan ketimbang Sunnah. Sebab, andaikata gerakan sunnah lebih diutamakan, maka kemungkinan masyarakat yang baru memeluk Islam akan melupakan Al-Qur’an dan lebih memprioritaskan Sunnah. Dengan demikian, regenerasi penghafal Al-Qur’an tentu tidak akan mencapai kesuksesan, karena perhatian kepada Sunnah. Padahal diketahui bahwa Umar merupakan pemarkasa penulisannya Al-Qur’an dengan alasan kekhawatirannya yang besar atas wafatnya sahabat-sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an dalam memerangi kaum murtad di masa Abu Bakar.

Kelima, sahabat khawatir terjadinya pemalsuan hadis yang dilakukan oleh mereka yang baru masuk Islam, sebab sunnah belum terlembaga pengumpulannya sebagaimana Al-Qur’an.
Keenam, sahabat takut terjerumus ke dalam dosa kalau-kalau mereka salah dalam meriwayatkan Sunnah.

b) Tatsabbut Fi Ar-Riwayah

Adanya gerakan pembatasan riwayat di kalangan sahabat tidaklah berarti bahwa mereka sama sekali tidak meriwayatkan Sunnah pada masanya. Maksud dari pembatasan tersebut hanyalah menyedikitkan periwayatan dan penyeleksiannya. Konsekuensi dari gerakan pembatasan tersebut, muncullah sikap berhati-hati menerima dan meriwayatkan Sunnah. Para sahabat melakukan penyeleksian riwayat yang mereka terima dan memeriksa sunnah yang mereka riwayatkan dengan cara mengkonfirmasikan dengan sahabat lainnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang memerintahkan untuk cermat dalam menerima berita, melarang dusta dan memerintah mengatakan yang benar, diantaranya:

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S Al-Hujuraat: 6)
 
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Q.S Al-Ahzab: 70-71)
 

Artinya: Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (Q.S Al-Hajj: 30)

Dengan demikian, para sahabat dan tabi’in serta generasi sesudahnya sangat teliti dan cermat terhadap hadits. Mereka berusaha menempuh segala cara yang memberikan jaminan bagi mereka akan keshahihan yang diriwayatkan dan kapasitas pembawanya, dengan cara mencari hadits dari perawi lain, memadukan jalur-jalurnya dan kadang-kadang merujuk pula kepada tokoh-tokoh yang kompeten dalam bidangnya.[8]

Selain hal tersebut Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat, disebabkan mereka khawatir terjadinya kekeliruan antara al-Qur’an dan Hadits, sehingga membuat sepekulasi pembentukan panitia dalam pengumpulan hadits. Sebagaimana riwayat yang menceritakan, bahwasanya “Ketika Abu Musa al-Asy’ari dia mengucapkan salam sampai tiga kali. Umar mendengar tapi tidak menjawabnya, karena beliau mengira Abu Musa akan masuk walau tidak dijawab, ternyata dugaan beliau salah. Karena setelah mengucapkan salam sampi tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban Abu Musa meninggalkan Rumah Umar. Melihat hal tersebut, Umar mengejar Abu Musa dan menanyakan mengapa dia berbuat demikian, Abu Musa menjelaskan Bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Apabila seseorang mengucapkan salam sampai tiga kali dan tidak mendapat jawaban, maka gendaklah dia pulang. Umar tidak puas mendengar jawaban itu. Bahkan Umar mengancam dengan hukuman apabila Abu Musa tidak mendatangkan saksi. Pada saat itu tampilah Ubay ibn Ka’ab memberikan penjelasan mengenai kebenaran periwayatan tersebut sehingga Umar menerimanya, seraya berkata, “Aku tidak bermaksud menuduhmu yang bukan-bukan, tetapi aku khawatir kalau orang-orang berbicara tentang Rasul dengan mengada-ada.”[9]

c) Man’u Ar-Ruwat Min At-Tahdits Bima Ya’lu ‘Ala Fahm Al ‘Ammah

Ditemukan pula adanya gerakan pelarangan riwayat karena dikhawatirkan terjadinya kesalahpahaman terhadap riwayat tersebut. Larangan ini khusus terhadap riwayat yang dapat mengundang kesalahpahaman dan meriwayatkannya kepada orang lain dengan pemahaman yang keliru tersebut. Misalnya, hadits yang menjelaskan tentang syahadat. Nabi bersabda, “ Tidak seorang pun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dengan kesungguhan di dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkannya dari api neraka.” Mu’az berkata, “Wahai utusan Allah, aku akan memberitahukannya kepada para manusia, maka niscaya mereka akan bergembira.” Umar bin al-Khattab melarang Abu Hurairah untuk menyebarkan hadis yang dikemukakan kepada Mu’az tersebut. Ia bergegas menemui Rasul saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan kepada Abu Hurairah begini dan begitu,“ Nabi saw menjawab,”Benar,” Umar berkata,”Jangan engkau lakukan itu, aku takut manusia akan berpegang padanya dan mencederai mereka dalam bertindak.” Nabi saw mengakuinya, dan berkata,”Mereka akan rusak.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam bab iman.

Pelarangan ini dipahami bukanlah sebagai perbuatan negatif untuk menyembunyikan ilmu, melainkan untuk menutupi pintu keburukan yang besar. Sebab, masyarakat umum tidak memiliki tingkat kecerdasan yang sama. Riwayat seperti ini dapat menjerumuskan mereka untuk meninggalkan syariat Allah. Oleh sebab itu, sangat bijak jika Ibn Abbas berkata,”Ceritakanlah hadis kepada manusia sesuai dengan kecerdasan mereka. Apakah kamu menghendaki mereka mendustakan Allah dan Rasul.” Disebabkan salah memahami satu hadis mereka mendustakan seluruh syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. Muslim meriwayatkan di dalam mukaddimahnya bahwa Ibn Mas’ud mengatakan, “Orang yang menyampaikan hadis di luar jangkauan kecerdasan mereka, maka akan menjadi fitnah bagi kaum tersebut.

2.3 Semangat Mencari Ilmu Hadits di Zaman Shabat Dan Tabi’in

Setelah wafatnya Rasulullah saw. para sahabat mendapat tugas berat untuk menjaga syari’at dan menerapkannya. Hal inilah yang menjadi motivasi mendasar dikalangan para sahabat selain setelah terjadinya peperangan melawan kemurtadan. Sehingga mereka bergegas mempertahankan sumber-sumber utamanya, dengan melakukan penghimpunan al-qur’an dalam satu mushaf pada masa Abu Bakar. Mereka juga mengkhawatirkan dampak silang pendapat dalam bacaan yang terjadi di beberapa daerah. Sehingga, satu mushaf yang telah ada tersebut disalin menjadi beberapa mushaf yang kemudian disebarkan ke berbagai kawasan Islam pada masa Utsman ra. Perhatian para sahabat tidak tertumpu kepada al-qur’an saja, tetapi mempunyai porsi yang sama terhadap sunnah sebagai sumber ilmu dan hukum dalam Islam. Sehingga pada masa Umar bin Abdul Aziz diadakan penghimpunan hadits.

Para sahabat menemukan situasi sangat mendesak untuk menjaga sunnah. Abu Bakar Ash-shiddiq, kemudian Umar berusaha menjaganya dalam bentuk tulisan, hal ini sebagai bentuk antusias mereka dalam memelihara dan menjaga Al-Qur’an dan Sunnah.

Kecintaan para sahabat terhadap hadits demikian menggebu, sehingga dalam setiap kesempatan mereka manfaatkan untuk mempelajari hadits. Fakta yang sangat jelas atas semangat ilmiah yang menggelora dikalangan sahabat seperti, saling bertukar hadits, saling mendengar dan saling meriwayatkan. Semua itu mereka tempuh dalam rangka mengetahui kebenaran dan menjaga sunnah yang suci. Dalam sebuah riwayat sebagaimana dikutib oleh Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb dalam kitab Ushul al-Hadits, diceritakan bahwasanya; Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin dengan Ka’b al-Ahbar saling menyampaikan hadits yang telah didapat. Saat itu Ka’b al-Ahbar meminta Ali bin Abi Thalib menyampaikan hadits Rasulullah saw tentang al-mubiqat (hal-hal yang membuat hancur) dan sebaliknya dia juga akan menyampaikan hadits tentang al-munjiyat (hal-hal yang membuat selamat) yang belum pernah sebelumnya sampai kepada Ali bin Abi Thalib.[10]

Selain dari itu, para sahabat saling berpesan untuk menghafal dan mempelajari berulang-ulang hadits Nabi saw. Mereka juga memerintahkan para murid untuk melakukan hal tersebut, dan menganjurkan mereka menyampaikan apa yang telah mereka dengar. Para tabi’in dan generasi sesudah mereka juga menempuh jalan yang sama. Mereka berpesan kepada anak-anak dan murid-murid mereka untuk menghafal dan mendatangi majlis-majlis yang mempelajari hadits Nabi saw. Dimana, para sahabat dan Tabi’in senantiasa mengajarkan hadits yang telah mereka peroleh dengan membentuk suatu kelompok-kelompok kajian hadits dan menerapkan metode yang telah diajarkan Rasulullah.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan para sahabat dan tabi’in dalam pengajaran hadits, antara lain:[11]

  1. Memperhatikan kondisi para penuntut hadits, disesuaikan dengan daya tangkap penerima hadits/siswa dalam suatu kelompok pengajaran di kalangan sahabat dan tabi’in.
  2. Menyampaikan hadits kepada yang pantas menerimanya, yaitu para murid penuntut/pencari hadits dalam suatu halaqah tertentu.
  3. Menuntut hadits setelah Al-Qur’anul Karim, dalam setiap pengajaran yang diterima menjadi murid dalam halaqah adalah mereka yang telah mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya.
  4. Menghindari hadits munkar
  5. Memberikan variasi untuk menghindari kejenuhan, dalam proses pengajaran tidak monoton mempelajari hadits tetapi dengan memberi mauidhah, membaca syair-syair dan kata mutiara.
  6. Menghormati dan mengagungkan hadits rasul SAW, dengan mengambil wudlu terlebih dahulu sebelum mempelajari hadits, duduk dan tidak berbaring.
  7. Mempelajari hadits secara berulang-ulang

2.4 Penyebaran atau Perkembangan Hadits di Masa Sahabat dan Tabi’in

Rasulullah wafat setelah Islam tersebar luas di seluruh kawasan Arab. Hal ini membawa dampak kepada tersebarnya pengetahuan Islam dan berbagai ilmu-ilmu keislaman termasuk tentang hadits. Tahap selanjutnya adalah menjadi tanggung jawab para sahabat untuk mengemban amanah melanjutkan perjalanan dakwah Rasulullah ke berbagai kawasan, demi perluasan syiar Islam. Di setiap memasuki suatu wilayah, para sahabat dan tabi’in membangun masjid yang dijadikan sebagai tempat tinggal dan sebagai tempat untuk mengurusi segala persoalan, menyebarkan islam dan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah rasulullah.

Pusat pengajaran hadis pertama adalah Madinah karena disinilah Rasulullah SAW menetap setelah hijrah. Di Madinah pula Rasulullah SAW membina masyarakat Islam yang terdiri dari Muahajirin dan Anshar dari berbagai suku atau kabilah, disamping umat non muslim, seperti yahudi yang dilindungi oleh beliau. Selanjutnya juga terdapat beberapa sahabat yang menetap di Madinah, diantaranya khula Ar-Rasyidin, Abu Hurairah, Siti Aisyah, Abdullah Bin Umar, dan Abu Said Al-khudzri serta para pembesar tabi’in.

Diantara para sahabat yang membina hadis di mekah tercatat nama-nama, seperti Muadz Bin Zabal, Atab Bin Asid, Haris Bin Hisyam, Usman Bin Thalhah, dan Uqbah bin Al-Haris. Diantara para tabi’in yang muncul dari sini tercatat Mujahid Bin Jabar, Ata’Bin Abi Rabah, Tawus Bin Kaisam dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas. Masih banyak para sahabat dan Tabi’in yang berperan dalam perkembangan hadis diberbagai kota. Ada catatan khusus pada zaman tabi’in ini yang telah membendung masuknya hadits palsu. Kodifikasi hadits atau tadwiin al-Hadits yang dimaksudkan atau proses pembukuan hadits secara resmi yang dilakukan atas instruksi Khalifah, dalam hal ini adalah Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (memerintah tahun 99-101 H).[12]

Pada masa tabi’in tidak lagi disibukkan oleh beban yang dipikul sahabat. Sebab, Al-Qur’an telah dikodifikasikan dan disebarluaskan ke seluruh negeri Islam. Oleh sebab itu, maka tabiin dapat memfokuskan diri untuk mempelajari hadits dari para sahabat. Kemudahan lain yang diperoleh tabiin karena sahabat-sahabat Nabi saw telah menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Sehingga, mereka mudah mendapatkan informasi tentang hadits. Adapun kawasan-kawasan yang telah menjadi wilayah pengajaran hadits antara lain ; Madinah Al-Munawwaroh, Makkah Al-mukarromah, kufah, Bashrah, Syam (syria), Mesir, Maghrib (afrika utara) dan Andalusia (spanyol), Jurjan, Yaman, Quzwain, Khurasan.

3. Kesimpulan

Sahabat mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan hukum Islam beserta sumber-sumber hukumnya, baik al-qur’an ataupun as-sunnah. Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul Saw. tersebut. Yang dimaksud dengan berpegang kepada kitab Allah adalah menjadikan Alquran sebagai way of life.

Selain sebagai seorang yang cinta kepada Nabi saw, para sahabat dan tabi’in juga sebagai pecinta hadits-hadits Nabi saw. Untuk itulah mereka demikian antusias dan merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan sumber ilmu dan hukum Islam kedua tersebut. Diantaranya dengan cara : taqlil ar-riwayah, tsubutu ar-riwayah dan Man’u Ar-Ruwat Min At-Tahdits Bima Ya’lu ‘Ala Fahm Al ‘Ammah (pelarangan riwayat karena dikhawatirkan terjadinya kesalahpahaman)

Kecintaan para sahabat terhadap hadits demikian menggebu, sehingga dalam setiap kesempatan mereka manfaatkan untuk mempelajari hadits. Fakta yang sangat jelas atas semangat ilmiah yang menggelora dikalangan sahabat seperti, saling bertukar hadits, saling mendengar dan saling meriwayatkan, meghafal setiap hadits yang diperoleh dan mendasari setiap amal dengan hukum-hukumnya. Semua itu mereka tempuh dalam rangka mengetahui kebenaran dan menjaga sunnah yang suci. Sehingga, tersebarlah hadits keseluruh penjuru/ kawasan Islam dengan jerih payah sahabat dan tabi’in utamanya yang berada di Makkah dan Madinah sebagai perjuangan pertama.

Daftar Rujukan

Abu Zahw, M. Muhammad. tt. Al-Hadits Wa Al-Muhadditsun Aw ‘Inayah Al-‘Ummah Al-Islamiyah Bi Al-Sunnah Al-Nabawiyah. Mesir: Dâr al-Fikr al-‘Arabî.
Al-Khathîb, Muhammad ‘Ajjaj. Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Terjemahan oleh H.M Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq. 1998. Jakarta : Gaya Media Pratama
Al-Khathîb, Muhammad ‘Ajjaj. 1981. Al-Sunnah Qabl al-Tadwin. Beirut: Darl Fikr
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. 1983. Sejarah dan Ilmu Hadits. Bulan Bintang
Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Penerbit J-Art

[1] Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Terjemahan oleh H.M Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), 7
[2] Malik bin Anas, al-Muwaththa’, (Istambul, Turki: Dar al-Sahnun, 1990), 899 dikutib oleh Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb dalam bukunya Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits,72
[3] M. Muhammad Abû Zahw, Al-Hadits Wa Al-Muhadditsun Aw ‘Inayah Al ‘Ummah Al-Islamiyah Bi Al-Sunnah Al-Nabawiyah (Mesir: Dâr al-Fikr al-‘Arabî, tt), 48.

[4] Ibid, 67-77
[5] Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Terjemahan oleh H.M Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), 77
[6] Ibid, 67
[7] Artikel uin-malang.ac.id/.../hadits-pada-masa-sahabat-dan-tabiin diakses 20 Maret 2011
[8] Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Terjemahan oleh H.M Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), 81
[9] Muhammad, Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabl al-Tadwin,(Beirut: Darl Fikr, 1981), 112-114
[10] Muhammad ‘Ajjâj Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts: Pokok-pokok Ilmu Hadits. Terjemahan oleh H.M Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), 92
[11] Ibid, 97
[12] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Ilmu Hadits,, (Bulan Bintang, 1983), 75.