MAKALAH KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU


MAKALAH KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi sekarang ini yang ditandai dengan persaingan kualitas atau mutu, menuntut semua pihak dalam berbagai bidang untuk senantiasa meningkatkan kompetensi. Hal tersebut mendudukan upaya peningkatan kualitas pendidikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang harus dilakukan terus menerus, sehingga pendidikan dapat digunakan sebagai wahana dalam membangun watak bangsa. Sehingga guru sebagai main person harus memiliki kompetensi yang tinggi dan mengembangkan kompetensi yang di miliki, terutama kompetensi kepribadian.

Guru yang merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur guru akan senantiasa menjadi sorotan ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal disekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dalam mendidik guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang tinggi, karena pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didiknya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka kami mengambil rumusan sebagai berikut:

  1. Apa pengertian dari Kompetensi Kepribadian Guru ?
  2. Bagaimana pentingnya Kompetensi Kepribadian Guru ?
  3. Bagaimana sosok pribadi yang unik dari seorang guru ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas kami memiliki tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Kompetensi Kepribadian Guru.
  2. Untuk mengetahui bagaimana pentingnya Kompetensi Kepribadian Guru
  3. Untuk mengetahui bagaimana sosok pribadi yang unik dari seorang guru.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Kompetensi Kepribadian Guru

Menurut Irsyad (2008: 7) “Guru senantiasa harus menjadi contoh bagi peserta didiknya, perilaku guru harus mencerminkan ucapannya dan tidak diperkenankan bersikap “jarkoni” alias biso ngajar ora iso nglakoni (bias ngajar tidak bias melaksanakan)”

Apakah kompetensi itu? kompetensi dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa inggris, competence yang berarti kecakapan dan kemampuan. (Echols dan Shadily, 2002: 132). Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang harus di miliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatka sumber belajar.

pengertian kompetensi dengan kepribadian menurut Mulyasa (2003: 38) adalah, “semua keterampilan yang ada, pengetahuan dan kemampun yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melaksanakan perbuatan-perbuatan yang bersifat kognitif, memiliki sifat efektif dan psikomotorik dengan baik” Senada dengan hal tersebut lebih lanjut Finch dan Crunkilton (1979, dalam Mulyasa 2003: 81) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik. Ini dapat dimaklumi karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya. Semua itu menunjukkan bahwa kompetensi personal atau kepribadian guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembentukan pribadinya. Oleh karena itu, wajar ketika orang tua mendaftarkan anaknya kesekolah akan mencari tahu dulu siapa guru-guru yang akan membimbing anaknya.

Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan Negara, dan bangsa pada umumnya.

Sehubungan dengan uraian tersebut, maka guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian yang memadai, bahkan kompetensi ini akan melandasi atau menjadi landasan bagi kompetensi-kompetensi lainnya. Dalam hal ini, guru tidak hanya dituntut untuk mampu memaknai pembelajaran, tetapi dan yang paling penting adalah bagaimana guru menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.

2.2 Pentingnya Kompetensi Kepribadian Guru

Pada tahun 80-an terdapat sebuah lagu dimana syair dalam lagu tersebut menggambarkan tentang kepribadian seorang guru. Syair-syair dalam lagu tersebut menandakan betapa para peserta didik mendambakan kepribadian guru,sampai-sampai mereka tidak memperhatikan kea rah papan tulis karena terpesona oleh penampilan gurunya. Oleh karena itu, guru harus berani tampil beda, harus berbeda dari penampilan-penampilan orang lain yang bukan guru. Sebab penampilan guru bisa membuat murid senang belajar, membuat murid betah dikelas, tetapi bisa juga membuat murid malas belajar bahkan malas masuk kelas seandainya penampilan gurunya acak-acakan. Disinilah guru harus tampil beda agar bisa ditiru dan diteladani oleh peserta didiknya.

Guru diharapkan dapat menjadi teladan bagi peserta didik baik dalam pergaulan disekolah maupun dimasyarakat. Namun, ada juga sikap guru yang kurang disukai seperti : guru yang sombong (tidak suka menegur atau ditegur saat bertemu diluar sekolah ), guru yang suka merokok, memakai baju tidak rapi, sering datang kesiangan, dll. Oleh krena itu, guru haruslah berusaha untuk tampil menyenangkan peserta didik, agar dapat mendorong mereka untuk belajar. Guru harus berani tampil beda, karena dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta didiknya. Mengemban fungsi ini guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur.

Ungkapan klasik mengatakan bahwa “segala sesuatunya bergantung pada pribadi masing-masing”. Dalam konteks tugas guru, kompetensi pedagogik, profesional dan sosial yang dimiliki seorang guru pada dasarnya akan bersumber dan bergantung pada pribadi guru itu sendiri. Dalam melaksanakan proses pembelajaran dan berinteraksi dengan siswa akan banyak ditentukan oleh karakteristik kepribadian guru yang bersangkutan. Memiliki kepribadian yang sehat dan utuh, dengan kerakteristik sebagaimana diisyaratkan dalam rumusan kompetensi kepribadian di atas dapat dipandang sebagai titik tolak bagi seseorang untuk menjadi guru yang sukses.

Guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengembangkan kepribadian siswa atau sekarang lebih dikenal dengan karakter siswa. Penguasaan kompetensi kepribadian yang memadai dari seorang guru akan sangat membantu upaya pengembangan karakter siswa. Dengan menampilkan sebagai sosok yang bisa di-gugu (dipercaya) dan ditiru, secara psikologis anak cenderung akan merasa yakin dengan apa yang sedang dibelajarkan gurunya. Misalkan, ketika guru hendak membelajarkan tentang kasih sayang kepada siswanya, tetapi di sisi lain secara disadari atau biasanya tanpa disadari, gurunya sendiri malah cenderung bersikap tidak senonoh, mudah marah dan sering bertindak kasar, maka yang akan melekat pada siswanya bukanlah sikap kasih sayang, melainkan sikap tidak senonoh itulah yang lebih berkesan dan tertanam dalam sistem pikiran dan keyakinan siswanya.

Di masyarakat, kepribadian guru masih dianggap hal sensitif dibandingkan dengan kompetensi pedagogik atau profesional. Apabila ada seorang guru melakukan tindakan tercela, atau pelanggaran norma-norma yang berlaku di masyarakat, pada umumnya masyarakat cenderung akan cepat mereaksi. Hal ini tentu dapat berakibat terhadap merosotnya wibawa guru yang bersangkutan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi sekolah, tempat dia bekerja.

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru berpengaruh terhadap perkembangan belajar dan kepribadian siswa. Studi kuantitatif yang dilakukan Pangky Irawan (2010) membuktikan bahwa kompetensi kepribadian guru memiliki hubungan erat dan signifikan dengan motivasi berprestasi siswa. Sementara studi kualitatif yang dilakukan Sri Rahayu (2008) menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru memiliki kontribusi terhadap kondisi moral siswa. Hasil studi lain membuktikan tampilan kepribadian guru akan lebih banyak mempengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (Iis Holidah, 2010)

Dari uraian singkat di atas, tampak terang bahwa begitu pentingnya penguasaan kompetensi kepribadian bagi seorang guru. Kendati demikian dalam tataran realita upaya pengembangan profesi guru yang berkaitan dengan penguatan kompetensi kepribadian tampaknya masih relatif terbatas dan cenderung lebih mengedepankan pengembangan kompetensi pedagogik dan akademik (profesional). Lihat saja, dalam berbagai pelatihan guru, materi yang banyak dikupas cenderung lebih bersifat penguatan kompetensi pedagogik dan akademik. Begitu juga, kebijakan pemerintah dalam Uji Kompetensi Guru dan Penilaian Kinerja Guru yang lebih menekankan pada penguasaan kompetensi pedagogik dan akademik. Sedangkan untuk pengembangan dan penguatan kompetensi kepribadian seolah-olah dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing dan menjadi urusan pribadi masing-masing

2.3 Sosok Pribadi yang Unik dari Seorang Guru

Seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta, dan berakhlak mulia.

a. Kepribadian Yang Mantap, Stabil, Dan Dewasa

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, professional dan dapat dipertanggungjawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa. Hal ini penting, karena banyak masalah pendidikan yang desebabakan oleh faktor kepribadian guru yang kurang yang mantap, stabil, dan dewasa. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat guru melakukan tindakan-tindakan yang tidak professional, tidak terpuji, bahkan tindakan yang tidak senonoh yang merusak citra dan martabat guru. Banyak kasus yang terjadi akibat kepribadian guru yang kurang mantap, stabil, dan dewasa. Misalnya : adanya olnum guru yang menghamili peserta didiknya, adanya oknum guru yang terlibat pencurian, penipuan, dan kasus-kasus lain yang tidak pantas dilakukan oleh guru. Karena itulah pentingnya guru memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa.

Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan yang sering memnacing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan, dan tentu bahwa tiap orang mempunyai tempramen yang berbeda. Karena itulah upaya dalam bentuk latihan mental akan sangat berguna. Guru yang mudah marah akan membuat peserta didik takut, dan ketakutan mengakibatkan kurangnya minat untuk mengikuti pembelajaran serta rendahnya konsentrasi, karena ketakutan menimbulkan kekuatiran untuk dimarah dan hal ini membelokkan konsentrasi peserta didik.

Kemarahan guru ini terungkap dalam bentuk kata-kata yang diucapka, dalam raut muka, dan mungkin dengan gerakan tertentu, bahkan ada dalam bentuk memberikan hukuman fisik. Sebagian kemarahan tersebut bernilai negative, dan sebgaian lagi bernilai positif. Kemarahan yang berlebihan seharusnya tidak ditampakkan, karena menunjukkan kurang stabilnya emosi guru. Dilihat dari penyebabnya, sering Nampak bahwa kemarahan adalah disebabkan oleh peserta didik yan tidak mampu memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan, padahal dia telah belajar dengan sunggh-sungguh. Stabil dan kematangan emosi guru akan berkembang sejalan dengan pengalamannya, selama sang guru mau memanfaatkan pengalamannya.

b. Disipil, Arif, dan Berwibawa

Banyak dari peserta didik yang berlaku kurang senonoh, seperti terlibat dengan video porno, narkoba dan pelanggaran lainnya yang berangkat dari pribadi yang kurang disiplin. Oleh karena itu peserta didik harus belajar disiplin, dan gurulah yang harus memulainya. Seorang guru haruslah memiliki pribadi yang disiplin, arif, dan berwibawa. Hal ini penting karena masih sering kita menyaksikan dan mendengar peserta didik yang perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sikap moral yang baik. Misalnya : merokok, rambut gondrong, membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, membuat keributan dikelas, melawan guru, berkelahi, bahkan tindakan yang menjurus pada hal yang bersifat criminal. Dengan kata lain masih banyak peserta didik yang tidak disiplin dan menghambat jalannya pembelajaran. Kondisi tersebut menuntut guru untuk bersikap disiplin, arif, dan berwibawa dalam segala tindakan dan perilakunya, serta senantiasa mendisiplinkan peserta didik agar dapat mndongkrak kualitas pembelajaran.

Dalam pendidikan, mendisiplinkan peserta didik harus dimulai dengan pribadi guru yang disiplin, arif, dan berwibawa, kita tidak bisa berharap banyak akan terbentuknya peserta didik yang disiplin dari pribadi guru yang kurang disiplin, kurang arif, dan kurang berwibawa. Oleh sebab itu, pentingnya membina disiplin peserta didik melalui pribadi guru yang disiplin, arif, dan berwibawa. Dalam hal ini disiplin harus ditunjukkan untuk membantu peserta didik menemukan diri, mengatasi, mencegah timbulnya masalah displin, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga peserta didik mau menaati segala peraturan yang telah ditetapkan.

Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggungjawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh, sabar dan penuh pengertian. Guru harus mampu mendisiplinkan peserta didik dengan penuh kasih sayang, terutama disiplin diri. Membina kedisiplinan peserta didik dapat dilakukan dengan kasih sayang yang dilakukan secara demokratis, yakni dari oleh dan untuk peserta didik, sedangkan guru tut wuri handayani.

c. Menjadi teladan bagi peserta didik

Guru professional harus memiliki semua sisi kehidupan yang patut di teladani (Ing ngarso sung tulodo), yaitu teladan bagi peserta didik, orang tua murid, keluarga dan masyarakat sekeliling. Terdapat kecenderungan yang sangat besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk di tentang, apabila ditolak. Menjadi teladan merupakan sifat dasar kegiatan pembelajaran, dan ketika seorang guru tidak mau menerima ataupun menggunakannya secara kontruktif maka telah mengurangi keefektifan pembelajaran. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yan dilakukan guru akam mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru.

d. Berakhlak Mulia

Guru harus Berakhlak Mulia, karena ia adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan yang harus berakhlak mulia, kegiatan pembelajaranpun meletakkannya di posisi tersebut. Peserta didik senantiasa berhdapan dengan kebtuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada girinya. Peserta didik akan menemukan sendiri dan secara mengherankan, bahkan mungkin menyalahkan apa yang di temukannya, serta akan mengadu kepada guru sebagai orang kepercayaannya. Makin efektif guru menangani setiap permasalah, makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasehat dan kepercayaan diri. Dengan berakhlak mulia, guru dalam keadaan bagaimanapun harus memiliki kepercayaan diri yang tidak tergoyahkan.

e. Menarik

Penampilan memainkan peranan penting dalam membentuk keribadian guru, guru perlu menampilkan diri dengan cirri-ciri yang dapat diteladani seperti: pemilihan pakaian, hendaknya memilih warna yang menarik dan tidak menyolok, make up yang sederhana bagi wanita, kebersihan tubuh, perhiasan, kerapian, penggunaan minyak wangi, dan gaya rambut, semua itu menjadi conroh model bagi para pelajar.

Cara berpakaian guru dalam penampilan menunjukkan sikap dan kepribadiannya. Setiap guru mengajarkan tentang cara berpakaian, di saat itulah guru harus berpenampilan sebagaimana layaknya seorang guru. Mulai dari ujung rambut dan ujung kaki siswa selalu memperhatikan penampilan guru. Apakah rambutnya tersisir rapi atau berantakan, baju dan celan kusut, dan sepatu kusam semua ini menjadi perhatian murid.

Cara duduk guru pun menjadi perhatian siswa. Duduk dalam keadaan tegak maupun condong sedikit kehadapan murid menunjukkan guru yang berminat terhadap muridnya. Guru yang duduknya terlalu menyandar di kursi menunjukkan guru kurang berminat dalam mengajar. Sebaiknya guru dalam keadaan posisi berdiri dalam mengajar karena dapat melihat semua perilaku murid di dalam kelas.


BAB III
SIMPULAN


3.1 Simpulan

Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang harus di miliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. kompetensi diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatka sumber belajar. Pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia.

Kompetensi kepribadian guru sangatlah penting karena guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengembangkan kepribadian siswa atau sekarang lebih dikenal dengan karakter siswa. Penguasaan kompetensi kepribadian yang memadai dari seorang guru akan sangat membantu upaya pengembangan karakter siswa.

Sosok pribadi yang unik dari seorang guru dapat dikatakan pribadi yang yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta, berakhlak mulia, serta menarik. Guru haruslah memiliki kepribadian tersebut karena seorang guru adalah panutan serta teadan bagi para peserta didiknya.

3.2 Saran

Guru adalah salah satu sosok yang menjadi panutan bagi peserta didik yang tentunya segala sikap yang ditunjukkan pada peserta didik nantinya akan di contoh karena itu, kita sebagai calon guru harus melatih dan mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang berkompeten sebagai seorang guru yang nantinya dapat membimbing peserta didik agar memiliki kepribadian yang baik pula.

DAFTAR PUSTAKA

Denim, Sudarwan. 2012. Pengembangan Profesi Guru. Kencana Prenada Media Group : Jakarta.

Musfah, Jejen. 2011. Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik. Kencana Prenada Media Group : Jakarta.

Uno, Hamzah. 2007. Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. PT Bumi Aksara : Jakarta.

Mulyasa. 2009. Standart Kompetensi dan Sertifikasi Guru. PT Remaja Rosdakarya : Bandung.

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/10/22/kompetensi- kepribadian-guru/

http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jvip/article/view/2066/07