Rohingya dalam Kontemplasi Keindonesiaan

Rohingya dalam Kontemplasi Keindonesiaan


Rohingya dalam Kontemplasi KeindonesiaanPERNAHKAH membayangkan hidup di negeri sendiri namun eksistensi selalu dalam ancaman pihak dominan? Adakah terlintas di pikiran berada di tengah-tengah mayoritas beda keyakinan namun penuh dengan ketegangan keimanan? 
Bagaimanakah rasanya bila kemudian pemerintah seakan bungkam ketika melihat berbagai bentuk penindasan dilakukan? Atau bisakah akal sehat menerima adanya penganugerahan Nobel Peace Award kepada presiden ya 
ng jelas-jelas membiarkan rakyatnya mati menjadi korban kebrutalan?
Jika semua itu sudah dalam bayangan, maka kita sedang memikirkan rangkaian penderitaan yang dialami etnis yang bermukim di negara tetangga Myanmar: Rohingya.
Di negeri-negeri para bedebah, menjadi kaum minoritas adalah suatu konsekuensi dari kebersediaan menerima segala bentuk tekanan dan penindasan. 
Sudah menjadi keniscayaan bahwa yang namanya kelompok dominan akan cenderung mempertahankan kekuasaan atau paling tidak menjaga keutuhan eksistensi serta pengakuan. 
Mereka tidak akan membiarkan siapa saja yang mengancam atau pun mengacaukan kelangsungan status tersebut. Bahkan, secara brutal berani menyerempet ke aksi-aksi terlarang, baik secara perundang-undangan maupun kemanusiaan. 
Baru-baru ini mata hati kita kembali mengalirkan darah duka. Sebagai muslim, kita merasa ada bagian tubuh yang tersayat, menyuarakan rintihan-rintihan luka. 
Sebagai manusia, sisi paling mulia dan paling sempurna dari penciptaan, yaitu kemanusiaan itu sendiri, telah diinjak-injak oleh para pengkhianat jati diri. Kita pun berteriak, Oh Rohingya, betapa lukamu kini derita kami juga! 
Rohingya kembali bergejolak. Pada 13 November lalu, gambar-gambar satelit nun jauh di angkasa menyajikan pemandangan menakutkan di Distrik Maungdaw, Rakhine. 
Rumah-rumah yang tersebar di tiga desa berdampingan dibakar dan dihancurkan. Tidak kurang dari 25 orang tergeletak tak bernyawa. Dan gambar-gambar pun berbicara, perempuan dan anak-anak turut ikut serta. Tidak jelas apa alasan di balik penyerangan tersebut.