Makalah Kode Etik Guru Dalam Islam

BAB I
PENDAHULUAN 

A. PENDAHULUAN

Dalam sejarah pendidikan Islam, guru merupakan orang yang mempunyai status yang terhormat dalam masyarakat, mempunyai wibawa sangat tinggi dan dianggap sebagai orang yang serba tahu.[1] Peranan guru saat itu tidak hanya sebatas pada mendidik anak didik di dalam kelas, tetapi juga mendidik masyarakat. Namun status dan kewibawaan guru kini mulai memudar sejalan dengan kemajuan zaman, perkembangan ilmu dan teknologi. Ironisnya memudarnya status dan kewibawaan guru tersebut kurang lebihnya banyak ditimbulkan oleh pribadi guru sendiri, seperti buruknya perilaku, etika dan kualitas kepribadian dan juga kurangnya kemampuan guru dalam hal kompetensi yang dimilikinya. 
Untuk menanggulangi agar tidak terjadi permasalahan yang kurang baik terhadap guru dan profesi keguruan, maka untuk menjamin mutu dan kualitas guru dalam melaksanakan profesinya harus terdapat kode etik. karena kode etik suatu profesi merupakan norma‑norma yang harus diindahkan dan dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya dimasyarakat. 

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat ditarik permasalahan sebagai berikut:
  1. Apa Pengertian Kode Etik Guru ?
  2. Bagaimana Kode Etik Guru dalam Perspektif Islam?

C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Kode Etik Guru

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui sebelum membahas mengenai kode etik atau biasa disebut juga etika, yaitu:
  1. Etika adalah aturan-aturan yang disepakati bersama oleh ahli-ahli yang mengamalkan kerjanya seperti keguruan, pengobatan dan sebagainya.
  2. Nilai-nilai adalah yang menyertai setiap kerjanya itu seperti memberi pengkhitmatan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan dan sebagainya.
  3. Pengamalan semua kerjanya mementingkan amalan tetapi sebelum sampai kepada amalan, nilai-nilai kerjanya itu harus di hayati (intemalized).
  4. Penghayatan yaitu penghayatan nilai-nilai maka nilai-nilai seperti ke ikhlasan, kejujuran, dedikasi dan lain-lain itu di hayati.[2]

Sedangkan Etika menurut para ahli sebagai berikut: [3]

  • Ahmad Amin berpendapat, bahwa etika merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
  • Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga pengatahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
  • Ki Hajar Dewantara mengartikan etika merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semaunya, teristimewa yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.
Sedangkan dalam Kode Etik Guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru‑guru Indonesia. Sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota masyarakat dan warga negara.[4] 
Dari pengertian diatas penulis dapat simpulkan bahwa Kode etik guru atau pendidik adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan (hubungan relationship) antara pendidik dan peserta didik, orang tua peserta didik, serta dengan atasannya. 
Suatu jabatan yang melayani orang lain selalu memerlukan kode etik. Demikian pula jabatan pendidik mempunyai kode etik tertentu yang harus dikenal dan dilaksanakan oleh setiap pendidik. 
Faktor terpenting bagi seorang guru adalah etikanya. itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah). 
Perasaan dan emosi guru yang mempunyai kepribadian terpadu tampak stabil, optimis dan menyenangkan. Dia dapat memikat hati anak didiknya, karena setiap anak merasa diterima dan disayangi oleh guru, betapapun sikap dan tingkah lakunya. 
Tingkah laku atau moral guru pada umumnya, merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang pertama sesudah orang tua, yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Kalaulah tingkah laku atau akhlak guru yang tidak baik, pada umumnya akhlak anak didik akan rusak olehnya, karena anak mudah terpengaruh oleh orang yang dikaguminya. 

2. Kode Etik Guru dalam Perspektif Islam

Kode etik guru dalam perspektif islam, penulis mengambil referensi dari para ulama’ yang mengemukakan pendapatnya, diantaranya adalah: [5] 
  1. Kode etik guru menurut Al‑Ghazali. Beberapa batasan kode etik yang harus dimiliki dan dilakukan seorang guru atau pendidik menurut beliau. Hal ini juga sebagai landasan dasar etika‑moral bagi para guru atau pendidik.[6] Gagasan‑gagasan tersebut antara lain sebagai berikut:
  • Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka         dan tabah
  • Bersikap penyantun dan penyayang
  • Menjaga kewibawaan dan kehormatan
  • Menghindari dan menghilangkan sikap angkuh terhadap sesama
  • Bersifat rendah hati ketika berada di sekelompok masyarakat
  • Menghilangkan aktivitas yang tidak berguna dan sia-sia
  • Bersifat lemah lembut dalaam menghadapi peserta didiknya yang tingkat IQ-nya rendah, serta membinanya sampai pada tingkat maksimal
  • Meninggalkan sifat marah dalam menghadapi problem peserta didiknya
  • Memperbaiki sikap peserta didiknya, dan bersikap lemah lembut terhadap peserta didik yang kurang lancar bicaranya
  • Meninggalkan sifat yang menakutkan bagi peserta didiknya, terutama kepada peserta didik yang belum mengerti dan mengetahui
  • Berusaha memerhatikan pertanyaan-pertanyaan peserta didiknya, walaupun pertanyaan itu tidak bermutu dan tidak sesuai dengan masalah yang diajarkan
  • Menerima kebenaran yang diajukan oleh peserta didiknya
  • Menjadikan kebenaran sebagai acuan dalam proses pendidikan, walaupun kebenaran itu datangnya dari peserta didik
  • Mencegah dan mengontrol peserta didik mempelajari ilmu yang membahayakan
  • Menanamkan sifat ikhas pada peserta didiknya.
Menurut Ibnu Al-Jama’ah, yang dikutip oleh Abd al-Amir Syams al-Din, etika pendidik terbagi atas tiga macam, yaitu : [7] 

1. Etika yang terkait dengan dirinya sendiri.

Pendidik dalam bagian ini paling tidak memiliki dua etika, yaitu (1) memiliki sifat-sifat keagamaan (dinayyah) yang baik, meliputi patuh dan tunduk terhadap syari’at Allah dalam bentuk ucapan dan tindakan, baik wajib maupun yang sunnah; senantiasa membaca Al-Qur’an, zikir kepada-Nya baik dengan hati maupun lisan memelihara wibawa Nabi Muhammad; dan menjaga perilaku lahir bathin; (2) memiliki sifat-sifat akhlak yang mulia (akhlaqiyyah), seperti menghias diri (tahalli) dengan memelihara diri, khusyu’, rendah hati, menerima apa adanya, zuhud, dan memiliki daya dan hasrat yang kuat.

2. Etika terhadap peserta didiknya.

Pendidik dalam bagian ini paling tidak memiliki dua etika, yaitu : (1) sifat-sifat sopan santun (adabiyyah, yang terkait dengan akhlak yang mulia seperti diatas; (2) sifat-sifat memudahkan, menyenangkan, dan menyelamatkan (muhniyyah).

3. Etika dalam proses belajar-mengajar.

Pendidik dalam bagian ini paling tidak memiliki dua etika, yaitu: (1) sifat-sifat memudahkan, menyenangkan, dan menyelamatkan (muhniyyah); (2) sifat-sifat seni, yaitu seni mengajar yang menyenangkan, sehingga peserta didik tidak merasa bosan.
Disamping ketiga etika pendidik diatas, Konsep Guru/Ulama Menurut Ibnu Jama’ah bahwa ulama sebagai mikrokosmos manusia dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi makhluk terbaik (khair al-bariyah). Atas dasar ini, maka derajat seorang alim berada setingkat dibawah derajat Nabi. Hal ini didasarkan pada alasan karena para ulama adalah orang yang paling takwa dan takut kepada Allah SWT. Dari konsep tentang seorang alim tersebut, Ibnu Jama’ah membawa konsep tentang guru. Untuk itu Ibnu Jama’ah menawarkan lagi sejumlah etika yang harus dipenuhi oleh seorang guru. Etika pendidik tersebut meliputi 6 hal yaitu:[8]
  1. Menjaga akhlak selama melaksanakan tugas pendidikan.
  2. Tidak menjadikan profesi guru sebagai usaha untuk menutupi kebutuhan ekonominya.
  3. Mengetahui situasi social kemasyarakatan.
  4. Kasih sayang dan sabar.
  5. Adil dalam memperlakukan peserta didik.
  6. Menolong dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dari keenam etika tersebut, yang menarik adalah etika tentang tidak bolehnya profesi guru dijadikan sebagai usaha mendapatkan keuntungan materil, suatu konsep yang di masa sekarang tampak kurang relevan, karena salah satu ciri kerja professional adalah pekerjaan dimana orang yang melakukannya menggantungkan kehidupan di atas profesinya itu. Namun Ibnu Jama’ah berpendapat demikian sebagai konsekuensi logis dari konsepnya tentang pengetahuan. Bagi Ibnu Jama’ah pengetahuan (ilmu) sangat agung lagi luhur, bahkan bagi pendidik menjadi kewajiban tersendiri untuk mengagungkan pengetahuan tersebut, sehingga pendidik tidak menjadikan pengetahuannya itu sebagai lahan komoditasnya, dan jika hal itu dilakukan berarti telah merendahkan keagungan pengetahuan. Secara umum etika-etika tersebut diatas menampakkan kesempurnaan sifat-sifat dan keadaan pendidik dengan memiliki persyaratan-persyaratan tertentu sehingga layak menjadi pendidik sebagaimana mestinya.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa:
· Kode etik guru adalah norma-norma yang mengatur hubungan kemanusiaan (hubungan relationship) antara pendidik dan peserta didik, orang tua peserta didik, serta dengan atasannya. 
· Kode etik guru menurut perspektif islam diantaranya menurut Al-Ghozali dan Ibnu Al-Jama’ah bahwa guru harus sungguh-sungguh, amanah, tanggung jawab, sabar, hati-hati dan penuh keikhlasan, juga menyadari mempunyai kewajiban kepada Allah S.W.T, dan masyarakat serta lingkungan. Kalau mereka melaksanakannya dengan penuh tanggungjawab, amanah, dan professionalisme maka umat Islam akan mencapai cita-citanya dalam kehidupan dengan penuh kemuliaan, kekuatan, ketenteraman dan kebahagiaan didunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib, et al., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Suryoubroo B., Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, Jakarta : Bina Aksara, 1983.
Soetjipto, et.al., Profesi keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007
Uno, Hamzah, B. Profesi Kependidakan. PT Bumi Aksara: Jakarta. 2007.
Zakiah, Daradjat. Kepribadian Guru. PT. Bulan Bintang: Jakarta. 2005.
http://sopwanhadi.wordpress.com/2010/05/08/etika-guru/


[1] ZakiaH, Daradjat. Kepribadian Guru. PT Bulan Bintang: Jakarta. 2005.hlm 21.
[2] Suryoubroo B., Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, Jakarta : Bina Aksara, 1983.hlm 73.
[3] http://sopwanhadi.wordpress.com/2010/05/08/etika-guru/
[4] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h.74-75
[5] Abdul Mujib, et al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 97.
[6] Zakiah, Daradjat. Kepribadian Guru. PT. Bulan Bintang: Jakarta. 2005. Hlm 52.
7 Soetjipto, et.al., Profesi keguruan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 30.
[8] Uno, Hamzah, B. Profesi Kependidakan. PT Bumi Aksara: Jakarta. 2007. Hlm 75.