MAKALAH PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA DI SEKOLAH DASAR



PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA DI SEKOLAH DASAR

MAKALAH PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA DI SEKOLAH DASAR


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk mewujudkan pembangunan nasional di negara Indonesia. Tanpa adanya pendidikan tentu negara akan lemah dan hancur. Agar negara tetap berdiri dengan kokoh dan kuat, maka seluruh rakyat Indonesia bersatu padu dan berilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia diantaranya mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan memegang peranan penting. Masalah pendidikan di Indonesia telah dijabarkan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional No. 20 tahun 2003.

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Anonim, 2003: 3)

Berkaitan dengan itu, maka seluruh rangkaian tujuan pendidikan yang berada dibawahnya, yakni institusionil dan tujuan kurikuler harus berorientasi kepada tujuan umum pendidikan nasional, yaitu terbentuknya manusia Indonesia yang berkualitas, tidak hanya mengandalkan kepiawaian ilmu pengetahun ilmu pengetahuan saja, juga mengutamakan sikap dan tingkah laku serta bertanggung jawab.

Dalam garis-garis besar program pengajaran (GBPP) pendidikan Agama Islam baik untuk tingkat SD, SLTP maupun SMU/K selalu dicantumkan tujuan pendidikan Agama Islam yaitu meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang Agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk lebih jelas dapat diketahui uraian berikut ini:

“Untuk mencapai tujuan tersebut, maka materi pendidikan AgamaIslam dikelompokkan dalam tujuh unsur pokok yaitu: keimanan, ibadah, Al-Qur’an, akhlak, syari’ah, muamalah dan tarikh. Selanjutnya materi-materi tersebut dikembangkan dalam proses belajar mengajar yang menitik beratkan pada pengembangan tiga aspek dalam diri peserta didik yaitu aspek afektif, aspek kognitif (pengetahuan) aspek psikomotorik (keterampilan)”. (Djaelani, 1997: 4)

Sikap dan tingkah laku siswa dalam pendidikan AgamaIslam termasuk materi akhlak. Masalah pembinaan sikap dan tingkah laku anak, sangat diusahakan sedini mungkin, karena pada usia tersebut merupakan usia yang sangat baik untuk mendidik dan membentuk sikap, moral serta pribadi anak, hal ini sebagaimana pendapat ahli berikut ini: 

“Pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil, pendidik / pembinaan pertama adalah orang tua kemudian guru, semua pengalaman yang dilalui oleh anak aktu kecilnya merupakan unsur penting dalam pribadinya”. (Darajat, 1976: 78)

Dari uraian diatas, jelaslah bahwa masalah pembinaan sikap dan tingkah laku siswa sangatlah penting, orang tua dan guru merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sikap, pembinaan moral dan kepribadian siswa.

Banyak upaya yang bisa dilakukan dalam rangka membina moral: membentuk sikap dan lepribadian siswa, baik oleh orang tua dirumah maupun oleh guru di sekolah. Khusus dalam pembinaan di sekolah guru bisa melakukannya dengan menerapkan disiplin pribadi, artinya menerapkan di dalam pribadi mereka sikap-sikap yang baik dan normatif. Di samping itu juga yang paling dominan dalam pembinaan moral, pembentukan sikap dan tingkah laku adalah melalui bidang studi. Secara teoritis bidang studi Agamasangat efektif untuk itu, karena materi yang diajarkan dalam bidang studi ini cukup mengarah kepada pembinaan moral, pembentukan sikap dan tingkah laku siswa. 

Pendek kata masalah pembentukan kepribadian serta pembinaan moral siswa bukanlah merupakan tugas guru secara mutlak, akan tetapi ini merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua. Namun peranan guru, terutama sekali guru Agama sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan kepribadian, serta pembentukan moral siswa, karena guru Agamamerupakan pendidik yang berada dilingkungan sekolah fungsinya sebagai pembawa amanat orang tua dalam mendidik anak mereka.

Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren merupakan salah satu lembaga pendidikan negeri yang ada di Kabupaten Muaro Jambi, sekolah ini juga mengajarkan mata pelajaran pendidikan Agama Islam. Di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren, siswa-siswinya mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda. Dari perbedaan kehidupan tersebut, maka akan muncul sikap dan tingkah laku serta moral yang berbeda pula, mereka sedang mengalami masa panca roba. Mengingat masalah tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lapangan di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren Kec. JALUKO Kab. Muaro Jambi berjudul “Peranan Pendidikan Agama Islam Terhadap Tingkah Laku Siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren”.

B. Pokok Permasalahan 

Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan disini adalah: Bagaimana peranan pendidikan AgamaIslam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren. Dari pokok permasalahan tersebut, dapat dirinci menjadi beberapa sub permasalahan yaitu sebagai berikut: 
  1. Bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  2. Apa faktor penunjang dan penghambat dalam membina tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  3. Bagaimana peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 

1. Tujuan Penelitian 

  1. Ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  2. Ingin mengetahui apa faktor penunjang dan penghambat dalam membina tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  3. Ingin mengetahui bagaimana peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren 

2. Kegunaan Penelitian 

  1. Untuk memberikan deskripsi tentang peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren 
  2. Untuk menambah pengetahuan penulis secara teoritis dalam penelitian lapangan 
  3. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Strata Satu (S1) dalam ilmu Pendidikan Agama Islam 

D. Kerangka Teori 

Sebagaimana landasan dalam peneltian ini diperlukan suatu kajian yang bersifat teoritis dan ada relefansinya dengan permasalahan yang akan diteliti, sehingga dapat terlihat dengan jelas hubungan antara realitas di lapangan dengan kerangka teori yang penulis gunakan. Penulis memfokuskan peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa, pendapat ataupun defenisi yang dikemukakan adalah: 

1. Peranan 

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, peranan adalah:
  • Tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa 
  • Bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan (Anonim, 1990:667)
Dari pengertian diatas, peranan yang dimaksud adalah suatu tugas yang harus dilaksanakan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

2. Pendidikan Agama

“Pendidikan Agama adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam”. (Zuhairini dkk, 1983: 27)

Peranan pendidikan Agama Islam dari pengertian di atas adalah suatu tugas yang dapat dilaksanakan dalam membimbing dan mengasuh terhadap pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak untuk mencapai tingkat kedewasaan yang sesuai dengan ajaran Islam. 

Pengukuran peranan pendidikan Agama Islam pada pendidikan ini adalah merupakan tugas yang dilaksanakan oleh pendidik dalam membina tingkah laku siswa. Pembinaan tingkah laku ini dapat dikatakan berhasil atau tidak, diukur dengan melihat kehidupan di lingkungan sekolah, apakah mereka hormat kepada guru, bisa membaca AL-Qur’an, mentaati peraturan sekolha, disiplin, memiliki sifat yang terpuji dan lain-lain. 

Pendidikan Agama Islam adalah merupakan bagian dari pendidikan nasional yang meyangkut dengan aspek sikap dan nilai antara lain membina sikap dan tingkah laku serta membina kepribadian. Salah satu tujuan pendidikan nasional adalah: “….. agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu…..” (Anonim, 2003: 7)

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, posisi pendidikan Agama sangat strategis dengan pengertian sangat penting dan perlu diberikan kepada peserta didik disetiap jenjang pendidikan, sebab pendidikan Agama merupakan suatu alat untuk mengendalikan diri. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 dijelaskan pada pasal 37 ayat 1 yang berbunyi: “Pendidikan Agamadimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia”. (Anonim, 1993: 63). 

Dengan demikian arah pendidikan Agama dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya adalah terciptanya manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta mempunyai dedikasi yang tinggi. Oleh karena itu pendidikan Agama Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan nasional. 

Agar pendidikan Agama dapat berhasil sesuai yang diharapkan tentu setiap guru dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan kepadanya, memahami betul perkembangan jiwa anak didik yang dihadapinya itu, disamping kemampuan ilmiah yang dimilikinya, serta penguasaan terhadap metode dan keterampilan mengajar. 

Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Zakiah Darajat, mengenai perkembangan jiwa Agama pada anak: 

“Bagi seorang guru Agamadiperlukan syarat lain disamping syarat-syarat yang biasanya bagi seorang guru yang bukan mengjara agama. Guru Agama hendaknya mengetahui sekedarnya ciri perkembangan jiwa Agama pada anak dalam tiap umur serta mengetahui pula latar belakang dan pengaruh pendidikan serta lingkungan di mana si anak dilahirkan dan dibesarkan. Agar ia dapat melaksanakan tugasnya, dengan cara yang berhasil guna dan berdaya guna untuk mencapai tujuan pendidikan Agama yang telah ditentukan”. (Darajat, 1970: 127)

Dengan demikian penulis berpendapat seorang guru Agama mengetahui perkembangan jiwa anak didiknya dimana ia tinggal dan dibesarkan disamping ia akan benar-benar dapat melakukan tugas pembinaan terhadap anak didiknya.

Pendidikan Agama bukanlah sekadar mengajarkan pengetahuan Agama dan melatih keterampilan siswa dalam melaksanakan ibadah. Akan tetapi pendidikan Agama jauh lebih luas daripada itu pendidikan Agama pertama bertujuan bertujuan untuk membentuk kepribadian anak sesuai dengan ajaran Agama, pembinaan sikap, mental dan akhlak jauh lebih penting daripada pandai menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum Agama, yang tidak diterapkan dan dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari. 

Pendidikan Agama yang baik tidak saja memberikan manfaat bagi siswa yang bersangkutan akan tetapi membawa manfaat yang besar terhadap masyarakat lingkungannya.

3. Tingkah Laku 

Tingkah adalah ulah atau perbuatan yang aneh-aneh atau yang tidak sewajarnya (Anonim, 1999: 1060), sedangkan laku adalah perangai atau berkelakuan.

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa membina tingkah laku adalah membangun atau merubah perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan kurang wajar menjadi perbuatan yang baik dan wajar yang mana perbuatan tersebut sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. 

Pengukuran pembinaan tingkah laku di sini adalah dengan mengamati perbuatan-perbuatan siswa di lingkungan sekolah. Hal ini merupakan sebagian cerminan mental siswa yang bersangkutan, pengamatan tingkah laku ini dilaksanakan pada saat penelitian Agama Islam seperti percaya kepada Allah, malaikat, rasul, berakhlak mulia, dapat membaca Al-Qur’an dan lain-lain. 

4. Siswa 

Siswa adalah murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah). (Anonim, 1999: 951). Dalam penelitian ini siswa yang penulis maksudkan adalah: pelajar Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu (Anonim, 2003: 3)

Peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa berarti suatu tugas yang dilaksanakan oleh pendidikan Agama dalam membina pelajar Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren mengenai tingkah laku yang kurang baik menjadi baik menurut ajaran Islam. 

5. Faktor-Faktor Pendidikan Agama

Di dalam ilmu pendidikan dikenal beberapa macam faktor pendidikan. Sementara para ahli pendidik seperti Prof. Dr. Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa ada lima faktor pendidikan yaitu: 

a. Faktor tujuan pendidikan 

b. Faktor pendidik 

c. Faktor anak didik 

d. Faktor alat-alat 

e. Faktor alam sekitar (Millieu)

(Barnadib, 1995: 35)

Dari keterangan di atas bahwa pendidikan itu ada lima faktor dan dapat dilihat penjelasannya sebagai berikut: 

a. Faktor tujuan pendidikan 

Faktor ini merupakan faktor yang sangat penting karena tujuan merupakan arah kemana pendidikan akan dibawa oleh pendidik dalam mendidik siswa-siswinya begitu juga pendidikan Agama. Adapun tujuan dari pendidikan Agama adalah: 

1. Menyempurnakan pendidikan Agama yang sudah diberikan sebelum sekolah SD seperti TK atau lainnya

2. Memberikan pendidikan dan pengetahuan Agama Islam serta berusaha agar mereka mengamalkan ajaran Islam yang telah diterimanya. (Zuhairini dkk, 1983: 47)

Dalam pendidikan Agamadi Sekolah Dasar yakni menyempurnakan pendidikan Agama yang sudah ada dari pendidikan Agama Islam di tingkat TK seperti pengetahuan tentang Agama, berakhlak saleh dan berakhlak mulia. Dari pendidikan Agamayang ada ini disempurnakan lalu diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

b. Faktor pendidik 

Pendidik atau guru Agama adalah merupakan faktor pendidikan yang sangat penting karena pendidik atau guru Agama itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak didiknya. Terutama pendidikan Agama Islam ia mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan pendidik pada umumnya karena selain bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Islam, ia juga bertanggung jawab terhadap Allah SWT. 

Dalam mengajar guru Agama mempunyai syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh direktur direktorat pendidikan Agama sebagai berikut: 

1. Memiliki pribadi mukmin, muslim dan muhsin

2. Taat untuk menjalankan Agama (menjalankan syari’at Islam, dapat memberi contoh teladan yang baik kepada anak didiknya)

3. Memiliki jiwa pendidik dan rasa kasih sayang kepada anak didiknya dan ikhlas jiwanya

4. Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan, terutama didaktik dan methodik 

5. Menguasai ilmu pengetahuan Agama

6. Tidak mempunyai cacat rohaniyah dan jasmaniah dalam dirinya (Zuhairini dkk, 1983: 36)

Apabila seorang guru sudah memenuhi persyaratan seperti diatas, pendidikan Agama akan berjalan sesuai yang diharapkan sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan muda

c. Faktor anak didik 

Anak didik merupakan faktor pendidikan yang sangat penting sebab tanpa adanya anak didik, maka pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat berjalan. 

Teori konvergensi yang dikemukakan oleh William Stern mengatakan bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan akan tetapi perkembangan seorang anak ditentukan oleh kerjasama antara kedua faktor tersebut. Satu hal yang perlu ditambahkan dalam faktor tersebut dalam pandangan bahwa anak tidak boleh dipandang bersifat atau tidak ada peranannya di dalam proses interaksi antara pendidikan dan pembawaan.

Apabila anak dipandang sebagai subyek yang bersifat pasif, maka tidak mungkin anak dapat memiliki atau diberikan rasa tanggung jawab. (Suryosubroto, 1982: 16). 

Akan tetapi yang paling dominan orang tuanyalah yang sering bersamanya, sesuai dengan Hadist Nabi: 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tetapi ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majausi”. (Al-Abrasyi, 1970: 116). 

Pada dasarnya anak telah membawa fitrah beragama dan kemudian tergantung kepada pendidikan selanjutnya kalau mereka mendapatkan pendidikan Agama yang baik, maka mereka akan menjadi manusia yang taat menjalankan ajaran agama. Tetapi bila sebaliknya, bila benih Agama tidak dipupuk dan dibina dengan baik, maka anak menjadi manusia yang tidak taat menjalankan perintah Agama dan bahkan mungkin ia akan menjadi orang jauh dari Agama. 

d. Faktor alat pendidikan 

Adapun yang dimaksud dengan alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha untuk mencapai tujuan dari pendidikan. 

Alat-alat pendidikan Agama yang dipergunakan dalam proses pendidikan Agamadapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu: 
  1. Alat pengajaran Agama
  2. Alat pendidikan Agama yang langsung 
  3. Alat pendidikan Agama yang tidak langsung 

(Zuhairini dkk, 1983: 50)

Dari ketiga kelompok diatas, dapat dijelaskan dari masing-masing kelompok sebagai berikut:
  1. Alat pengajaran Agama
  2. Alat pendidikan Agama yang langsung
  3. Alat pendidikan Agama yang tidak langsung

(Zuhairini dkk, 1983:50)

Dari ketiga kelompok diatas dapat dijelaskan dari masing-masing kelompok sebagai berikut:
  1. Alat pengajaran Agama, merupakan alat untuk mencapai tujuan dari pendidikan Agama, yang berfungsi untuk merealisasi pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal. Alat pengajaran Agama dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
  2. Alat pengajaran klasikan, yaitu alat-alat pengajaran yang dipergunakan oleh guru bersama-sama dengan siswa seperti: papan tulis, kapus dan lain-lain.
  3. Alat pengajaran individual yaitu alat-alat yang dimiliki oleh masing-masing siswa maupun seperti, alat-alat, buku pelajaran buku persiapan guru dan lain-lain.
  4. Alat peraga yaitu alat-alat pengajaran yang bersifat untuk memperjelas ataupun memberikan gambaran yang konkrit tentang hal-hal yang diajarkan.
  5. Alat pendidikan Agama yang langsung yaitu denngan menanamkan pengaruh yang positif kepada siswa, dengan memberikan contoh tauladan, memberikan nasehat-nasehat, perintah-perintah, berbuat amal saleh dan lain-lain.
  6. Alat pendidikan Agama yang tidak langsung, yaitu alat-alat pendidikan yang bersifat kuratif, agar siswa-siswi menyadari perbuatannya yang salah dan berusaha untuk memperbaikinya.

e. Faktor alat sekitar (Millieu)

Alam sekitar atau lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil tidaknya pendidikan Agama. Hal ini disebabkan perkembangan jiwa anak dipengaruhi oleh lingkungannya. 

Beberapa ahli pendidik membagi millieu ini menjadi tiga bagian diantaranya: 

  1. Lingkungan keluarga 
  2. Lingkungan sekolah 
  3. Lingkungan masyarakat 

Ketiga lingkungan ini satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan dan harus merupakan mata rantai yang tidak bisa diputuskan. 

Jadi jelaslah kelima faktor-faktor tersebut merupakan komponen-komponen yang harus ada didalam pendidikan, sebab: 
  1. Tidak mungkin orang mendidik tanpa anak didik 
  2. Tidak mungkin orang mendidik tanpa tujuan 
  3. Tidak mungkin anak dididik tanpa lingkungan
  4. Tidak mungkin pendidikan diberikan tanpa seorang pendidik 
  5. Tidak mungkin mendidik tanpa alat-alat pendidikan (Barnadib, 1995: 41)

Jadi kelima faktor tersebut saling mempengaruhi atau saling bekerjasama satu sama lain. Apabila faktor tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan anak, maka insya Allah pendidikan Agama akan dapat berperan dalam membina sikap dan tingkah laku siswa.

6. Metode Pendidikan Agama 

Metode merupakan salah satu sarana penting dalam proses pendidikan Agama Islam yang harus dikaji dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan jiwa anak didik agar mampu memukimkan dirinya dalam area kompetisi kehidupan modern di mana di dalamnya penuh dengan tantangan. 

Pada prinsipnya, metode mengajar Agama sama dengan metode mengajar ilmu pengetahuan umum, di samping diakui adanya beberapa ciri-ciri khusus tersendiri. 

Menurut Zuhairibi, metode pendidikan Agama adalah “segala usaha yang sistematis dan pragmatis untuk mencapai tujuan pendidikan Agama dengan melalui berbagai aktifitas, baik di dalam maupun di luar kelas dalam lingkungan sekolah”. (Zuhairini dkk, 1983: 80). 

Dari pengertian metode yang dikemukakan di atas dapat di pahami bahwa di dalam proses pendidikan Agama Islam metode sangat diperlukan, karena metode merupakan suatu cara dan siasat dalam penyampaian bahan pelajaran dan menguasai bahan pelajaran tersebut sehingga tujuan pendidikan Agama Islam dapat tercapai. 

Dalam pelaksanaan pendidikan Agama diperlukan suatu metodologi. Pendidikan Agama dengan tujuan agar setiap pendidik Agama dapat memperoleh pengertian dan kemampuan mendidik Agama yang dilengkapi dengan pengetahuan dan kecakapan profesionil. 

Menurut Dr. Winarn Surachmad dalam bukunta “Intraksi mengajar dan belajar” yang dikutip oleh Zuhairini, mengemukaka berbagai metode mengajar di dalam kelas yaitu: 

  1. Metode ceramah 
  2. Metode tanya jawab 
  3. Metode diskusi 
  4. Metode pemberian tugas belajar/resitasi 
  5. Metode demostrasi dan eksperimen 
  6. Metode belajar kelompok 
  7. Metode sosiodarma dan bermain peranan 
  8. Metode karya wisata 
  9. Metode drill (latihan siap)
  10. Metode sistem regu (Zuhairini dkk, 1983: 82)

Untuk lebih jelas dan mudah dipahami berikut ini akan diuraikan satu persatu macam-macam metode diatas.

a. Metode ceramah 

Metode ceramah ialah suatu metode di mana guru menjelaskan ilmu pengetahuan dan inti persoalan yang ingin disampaikan sedang murid mendengarkannya dan mereka tidak ambil bagian (tidak ikut aktif) dalam penjelasan itu (Muhammad, 1981: 83). 

Mengajar dengan metode ini hanya berguna bagi siswa yang sudah besar dan menyulitkan bagi murid-murid yang masih kecil.

b. Metode tanya jawab 

Metode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab (Zuhairini dkk, 1983: 86). 

Metode tanya jawab ini dimaksudkan untuk mengenalkan pengetahuan, fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan dan untuk meransang perhatian murid dengan berbagai cara (sebagai appersepsi, selingan dan evaluasi). 

Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan anak-anak yang masih kecil karena metode ini membiasakan murid untuk mengungkapkan apa-apa yang terlintas dalam pikirannya dengan ungkapan yang teratur dan sistematis dan berani mengungkapkan pendapatnya tanpa ada rasa takut dan mendorong mereka untuk mendalami pelajaran. 

c. Metode diskusi 

Metode diskusi adalah suatu metode dalam mempelajari bahan atau menyampaikan dengan jalan mendiskusikannya hingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid (Zuhairini dkk, 1983: 89). 

Metode ini dimaksudkan untuk merangsang siswa berfikir dan mengeluarkan pendapat sendiri, serta ikut menyumbangkan pikiran dalam suatu masalah bersama yang terkandung banyak kemungkinan-kemungkinan jawaban. 

d. Metode demostrasi dan eksperimen 

Metode demostrasi adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses kaifiyah melakukan sesuatu. 

“Metode eksperimen adalah metode pengajaran di mana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui”. (Zuhairini dkk, 1983: 94). 

e. Metode pemberian tugas belajar 

Metode pemberian tugas belajar adalah sering disebut metode pekerjaan rumah dimana siswa diberi tugas khusus di luar jam pelajaran (Zuhairini dkk, 1983: 97).

f. Metode sosiodrama dan bermain peranan

Metode sosiodrama adalah bentuk metode mengajar dengan mendramakan/memerankan cara tingkah laku dalam hubungan sosial (Zuhairini dkk, 1983: 102).

Metode ini dapat digunakan dalam pendekatan agama terutama mengenai akhlak dan sejarah Islam. 


g. Metode karya wisata 


Metode karya wisata adalah suatu metode pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan mengajar anak-anak keluar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungan dengan bahan pelajaran (Zuhairini dkk, 1983: 104). 

h. Metode drill/latihan siap

Metode drill/latihan siap suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan (Zuhairini dkk, 1983: 106). 

Dalam pendidikan Agama metode ini sering digunakan untuk melatih ulangan pelajaranAl-Qur’an dan praktek ibadah.

i. Metode kerja kelompok 

“Metode kerja kelompok dalam rangka pendidikan dan pengajaran ialah kelompok kerja dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang didalamnya terdapat adanya hubungan timbal balik (kerja sama) antara individu serta saling percaya mempercayai” (Zuhairini dkk, 1983: 99)


j. Metode sistem regu 

Metode sistem regu adalah metode mengajar di mana dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sekelompok murid (Zuhairini dkk, 1983: 108)

E. Hipotesa 

Sebagai dugaan sementara yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah: Jika guru berperan sesuai dengan statusnya, kreatif, mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam menyampaikan materi pendidikan Agama Islam pada siswa, maka pendidikan Agama dapat berperan dalam membina tingkah laku siswa.

BAB II 
PROSEDUR PENELITIAN

A. Lingkup Penelitian 

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif yang menggunakan sudut pandang pendidikan yang khusus mengenai peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji bagaimana peranan pendidikan Agama Islam dalam membina tingkah laku siswa, sehingga dalam pencapaian tujuan pendidikan di masa mendatang akan lebih berhasil.

B. Jenis dan Sumber Data 

1. Jenis Data 

Untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian ini, adapun jenis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Data primer 

Data primer adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh secara langsung selama proses penelitian dari pertanyaan-pertanyaan yang diperoleh dari lapangan. Data yang dikumpulkan berupa informasi tentang bagaimana peranan pendidikan Agama Islam dalam membina tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

b. Data sekunder 

Data sekunder adalah data yang berfungsi sebagai pendukung yang berkaitan dalam rangka memperkuat jawaban serta melengkapi data primer, data sekunder antara lain:
  1. Sejarah berdirinya Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  2. Struktur organisasi Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  3. Keadaan guru dan siswa Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren
  4. Sarana dan prasarana Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren

2. Sumber Data 

Sumber data yang mungkin dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah orang meliputi guru, siswa-siswi, staf tata usaha dan orang yang dirasa dapat membantu memberikan sumber yang dapat dipercaya ditujukan untuk mengetahui bagaimana peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

Dalam membahas penelitian ini, penulis berusaha mencari bahan yang ada relevansinya dengan permasalahan yang akan dibahas, sehingga dapat mendukung demi terwujudnya suatu tulisan yang berbentuk ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan.

C. Populasi dan Sampel 

1. Populasi 

Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti baik berupa orang, benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi (Arifin, 1993: 134)

Adapun yang menjadi populasi dalam peneltian ini keseluruhan objek yang asa dalam lingkungan penelitian yang terdiri dari dari guru pendidikan Agama Islam, Kepala Sekolah, Tata Usaha, guru lainnya dan siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren. 

Jumlah keseluruhan populasi adalah 457 terdiri 439 siswa yaitu kelas I, kelas II, kelas III, kelas IV, kelas V, kelas VI dan 15 guru, 1 orang tenaga usaha (TU), 1 pelayan sekolah dan 1 satpam sekolah.

2. Sampel 

Sampel adalah bagian dari populasi, sebagai contoh (master) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Margono, 1996: 121).

Adapun tekhnik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Stratified Random Sampling adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengambil sampel dari populasi yang menunjukkan adanya strata (Arifin, 1993: 139).

Dari teknik pengambilan sampel di atas maka dapat diambil jumlah sampel sebanyak 15 % dari jumlah siswa yaitu 165 x 15 % = 24, 75 (25 orang), serta ditambah Kepala Sekolah, 15 orang guru dan 1 orang Tata Usaha yang berlaku sebagai informan sekaligus sebagai responden. Pengambilan sampel ini dengan sistem random (acak). 

Tekhnik ini penulis gunakan mula-mula melalui wawancara/interview dengan para siswa dan guru selaku responden serta kepala sekolah selaku informan yang tahu persis tentang keberadaan siswa dan guru di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

D. Metode Pengumpulan Data 

Untuk memperoleh data yang konkrit dan akurat serta sesuai dengan permasalahan yang diteliti penulis menggunkana beberapa metode diantaranya: 

1. Metode observasi 

Observasi sebagai alat pengumpul data harus sistematis artinya observasi serta pencatatannya dilakukan menurut prosedur dan aturan-aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti lain. (Nasution, 2002: 106)

Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Dengan observasi dapat kita peroleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan sosial yang sukar diperoleh dengan metode lain. 

Melalui observasi tersebut, maka penulis mengadakan suatu pengamatan langsung dan penglihatan di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

2. Wawancara 

Wawancara disini dimaksudkan penulis mengadakan Tanya jawab kepada siswa-siswi, kepala sekolah, guru bidang studi Agama. Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, terutama mengenai peranan pendidikan Agama Islam terhadapa tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. (Nasution, 2002: 113)

3. Dokumentasi 

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 1997: 236)

Dokumentasi yang dimaksud disini adalah penulis melakukan suatu pencatatan berdasarkan data-data berapa jumlah siswa-siswi, jumlah guru, keadaan sarana dan prasarana serta struktur organisasi di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

E. Analisis Data 

Data yang diperoleh dari lapangan adalah bersifat data kualitatif dianalisis melalui: 

1. Analisis domain 

“Analisis domain biasanya dilakukan untuk memperoleh gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu pokok permasalahan yang telah diteliti. Hasilnya masih berupa pengetahuan tentang tingkat permukaan tentang berbagai domain atau kategori konseptual (kategori-kategori simbolis yang mencakup mewadahi sejumlah kategori atau simbolis lain secara tertentu). Domain kategori simbolis tersebut memiliki makna yang lebih luas dari kategori atau simbol yang dirangkumnya”. (Faisal, 1990: 91).

Analisis domain ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan penelitian secara garis besar yakni tentang peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

2. Analisis taksonomi 

“Analisis taksonomi adalah analisis yang lebih rinci dan mendalam, fokus penelitian ditetapkan terbatas pada domain tertentu yang sangat berguna dalam upaya mendeskripsikan atau menjelaskan fenomena atau fokus yang menjadi sasaran semula penelitian”. (Faisal, 1990: 98)

Analisis ini diperlukan dalam menganalisis data dengan rincian terutama mengenai peranan pendidikan Agama Islam dalam membina tingkah laku siswa. Dengan melihat kenyataan di lapangan di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.

3. Analisis komponensial 

“Analisis komponensial dilakukan setelah peneliti mempunyai cukup banyak fakta/informasi hasil wawancara atau observasi yang melacak kontras-kontras di antara warga suatu domain. Kontras-kontras tersebut oleh peneliti dipikirkan atau dicarikan dimensi-dimensi yang bisa mewadahinya”. (Faisal, 1990: 103)

Analisis ini diperlukan setelah adanya analisis domain dan analisis taksonomi yang merupakan jawaban paling domain. Yakni alternatif terakhir yang dijadikan sandaran untuk menjawab pemasalahan yang dibahas yaitu mengenai bagaimana peranan pendidikan Agama Islam terhadap tingkah laku siswa di Sekolah Dasar Negeri No. 73/IX Simp. Sei. Duren.