Pertanian Mengatasi Walang sangit pada tanaman Padi

Pertanian Mengatasi Walang sangit pada tanaman Padi

 
Walang Sangit adalah salah satu binatang yang suka terhadap tanaman padi, terutama ketika padi sudah mulai meratak dan berisi cairan seperti susu, karena pada waktu itulah walang sangit menghisap cairan tersebut.
Dari pengalaman selama ini saya sudah 2 kali musim tanaman padi ku hasilnya berkurang bahkan ada yang tidak bisa di panensama sekali karena ulah walang sangit ini, saya mencoba membiarkannya saja sama sekali ketika walangsangit ini berdatangan ke tanaman padiku ketika malai sudah berisi cairan seperti susu itu. 
Dampaknya penghasilan padiku berkurang dari lahan uji coba yang saya lakukan seluas 100 m2 yang sebelumnya, saya dapat 4 karung seakarang hanya dapat 2 karung, sayang bukan. atau sekitar 90 kg berkurang. 
Dari pengalaman tersebut saya menghimbau kepada para petani padi di indonesia umumnya hendaknya mewaspadai tanman padi ketika malai sudah mulai meratak dan mulai berisi, karena pada waktu itulah walang sangit mulai datang tanpa di undang. 
Sebenarnya kalau saya mau sih mudah saja. dengan insektisida walang sangit langsung hilang atau pada mati. namun karena saya ingin menghasilkan tanaman padi yang sehat dan menghasilkan beras yang sehat pula maka saya berupaya untuk tidak menggunakan insektisida kimia.terus terang saya sendiri belum mempraktekkan penggunaan secara alami untuk mengusir walang sangit ini pada tanaman padi ku.  karena saya kurang persiapan dan waktuku berbarengan dengan beberapa waktu panen pada lahan sawah yang  lain . 
Namun tidak ada salahnya kalau saya mau berbagai dari pengalaman  petani yang lain. beluam lama ini ada tips untuk mengsusir walang sangit secara alami pada tanaman padi. 
Penggunaan pestisida organik harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama(Sudarsono. 2006). Tanaman Annona muricata (sirsak) mengandung zat toksik bagi serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuhan serangga terhambat, mengurangi produksi telur dan sebagai repellen (penolak) (Gruber dan Karganilla, 1989). 
Kematian larva yang diakibatkan oleh ekstrak daun sirsak memperlihatkan indikasi tidak sempurnanya proses ekdisis terbukti dengan adanya sejumlah larva yang gagal melepaskan kutikula lamanya. Larva yang mengalami gejala ini lama-kelamaan akan mati dengan memperlihatkan gejala kematian akibat pengaruh simultan dari toksisitas ekstrak, kelaparan dan gagal melepaskan proses ganti kulit, terlihat adanya larva menjadi mengecil dan berwarna gelap (Gionar, 2004). 
Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetoginin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Hartati, Z. 2002). Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 30–32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai furanone dalam gugus hydrofuranone pada C23 memiliki aktifitas sitotoksik, dan derivat acetogenin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin, bulatacin, dan squamocin (Kardinan, A. 2000). 
Walang sangit (Leptocorisa acuta) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm (Harahap dan Tjahyono, 1997). Telur. Telur berbentuk seperti cakram berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur umumnya dilakukan pada saat padi berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan. Perkembangan dari telur sampai imago adalah 25 hari dan satu generasi mencapai 46 hari (Baehaki, 1992).

Bahan: Daun Sirsak (Annona muricata) dan Daun Tembakau (Nicotiana batacum)
Cara Pembuatan:
  1. Ambil 50 lembar daun sirsak dan 1 ons tembakau.
  2. Dilumatkan bersama-sama
  3. Rendam dengan satu liter air selama 24 jam
  4. Air rendaman diperas dan disaring, kemudian dilarutkan hingga volumenya kurang lebih 30 liter.
  5. Semprotkan ke lahan. 
Selamat Mencoba........!!!