Artikel Bercerai akibat Lapar Saat Ramadan

Bercerai akibat Lapar Saat Ramadan

Umumnya pemerintah suatu negara akan lebih banyak berfokus untuk mengurusi soal ekonomi, politik, pendidikan atau kesehatan. Tetapi berbeda dengan pemerintah Palestina yang ikut mengurusi soal perceraian warga di wilayah tersebut. Perceraian adalah salah satu fokus dari pemerintah setempat. 

Bercerai akibat Lapar Saat RamadanPemerintah Palestina melalui Kepala Pengadilan Agama mengeluarkan aturan yang melarang para hakim untuk mengabulkan permintaan pasangan yang ingin bercerai selama bulan suci Ramadan. Hal itu didasarkan pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan adanya peningkatan angka perceraian. 

Apa yang menjadi pemicu perceraian pun cukup beragam. Pengangguran dan kemiskinan yang mewabah di Palestina menjadi faktor utama yang melatarbelakangi angka perceraian. Akan tetapi, saat bulan Ramadan, pemerintah setempat mengungkapkan bahwa lapar dan haus selama bulan puasa memicu pertengkaran antara suami-istri yang berujung pada perceraian. 

“Beberapa kasus perceraian selama Ramadan dipicu oleh mereka yang lebih mudah marah karena tidak makan dan tidak merokok,” kata Hakim Mahmud Habash dalam sebuah pernyataan. “Akibatnya, pasangan yang sudah menikah menjadi lebih mudah mengambil keputusan bercerai yang terburu-buru.” 

Otoritas Palestina mengungkapkan bahwa selama tahun 2015 sekitar 50 ribu pernikahan dilaksanakan di Tepi Barat dan di Jalur Gaza. Namun, di tahun yang sama, lebih dari 8 ribu perceraian terjadi di wilayah tersebut. Hampir 20 persen dari jumlah mereka yang menikah mengambil jalan berpisah. 

Aturan serupa juga pernah dikeluarkan Pemerintah Palestina pada 2013. Alasannya pun sama karena adanya peningkatan perceraian di tahun 2012 dan perceraian yang terjadi dipicu oleh rasa lapar, haus, dan tak merokok selama bulan Ramadan. 

Jika dilihat lagi ke belakang, pada 2012 ada 6 ribu pendaftaran untuk bercerai di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Peningkatan angka perceraian menurut laporan Palestinian Central Bureau of Statistics terjadi setiap tahun. Misalnya pada 1997, sebanyak 3 ribu orang mengajukan pendaftaran untuk bercerai. Jumlah itu terus meningkat. 

Pada 2008, jumlahnya menginjak angka 5 ribu, sedangkan pada 2015 jumlahnya menembus 8 ribu permohonan perceraian. Tak ada pernikahan atau perceraian sipil di teritori Palestina, hanya ada pernikahan lewat pengadilan agama. 

Menurut riset dari Relate yang dikutip oleh The Independent, pada umumnya orang bercerai karena persoalan uang. Masalah bisa muncul jika berhubungan dengan uang. Apalagi jika suami dan istri mendapat gaji yang jauh berbeda atau pola pengelolaan uang yang berbeda. Misalnya salah satu ada yang lebih suka berhemat, yang lainnya lebih suka menghambur-hamburkan uang. 

Uang menjadi pemicu utama dibanding selingkuh yang berada di posisi kedua sebagai pemicu perceraian. Kehadiran masa lalu dalam hubungan juga dianggap sebagai salah satu yang banyak mempengaruhi hubungan suami-istri. 

Meski lapar dan haus bukanlah penyebab terbesar orang bercerai, pemerintah Palestina tetap mencoba mencegah perceraian karena lapar dan haus tetap berpotensi dalam menambah deretan keluarga yang mendaftar untuk bercerai di wilayah tersebut dengan mengeluarkan larangan bercerai selama bulan Ramadan. 

Amanda Salis, dalam tulisannya "Health Check: the Science of 'Hangry', or Why Some People Get Grumpy When They're Hungry" menjabarkan hubungan antara lapar dan marah. Menurutnya, hal itu terletak pada proses yang terjadi dalam tubuh manusia. 

Karbohidrat, protein dan lemak yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi akan dicerna tubuh menjadi gula sederhana atau glukosa, asam amino dan asam lemak bebas. Nutrisi itu akan mengalir ke aliran darah dan didistribusikan ke organ dan jaringan tubuh untuk digunakan sebagai energi. 

Seiring berjalannya waktu, setelah makanan terakhir, jumlah nutrisi yang mengalir dalam darah mulai menurun. Jika kadar glukosa dalam darah turun, otak akan merespons dengan menganggap sebagai situasi yang mengancam jiwa. 

Otak manusia sangat bergantung pada glukosa untuk dapat berfungsi. Sehingga ketika tak tak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh, glukosa dalam darah juga turun sehingga mengganggu kerja otak.

Otak yang fungsi kerjanya terganggu dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi atau sulit berkonsentrasi. Hal lainnya yang akan terjadi adalah kesulitan mengendalikan diri, termasuk emosi. Maka, hal sepele pun dapat memicu amarah. 

Selain itu, saat kadar gula dalam darah turun atau berada di ambang batas, otak akan mengirim instruksi ke beberapa organ tubuh untuk mensintesis dan melepaskan empat hormon untuk meningkatkan jumlah glukosa dalam darah. 

Hormon-hormon tersebut adalah hormon pertumbuhan dari kelenjar pituiari yang terletak di dalam otak, glukagon dari pankreas, adrenalin yang kadang disebut epinefrin, dan kortisol yang berasal dari kelenjar adrenal. Namun, adrenalin yang dilepaskan itu adalah salah satu hormon yang memiliki respons “fight or flight” terhadap suatu situasi. 

Kita bahkan dapat berteriak atau melawan jika kita merasa berada dalam situasi berbahaya atau tertekan. Dalam keadaan tersebut, termasuk saat sedang bertengkar dengan pasangan, kita akan kesulitan membuat keputusan jernih. Maka, tak jarang, keputusan yang diambil dalam keadaan seperti ini terkadang akan disesali di kemudian hari, seperti keputusan untuk berpisah. 

Brad Bushman dalam tulisannya "Low Glucose Relates to Greater Aggression in Married Couples" yang dipublikasi Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan hal senada bahwa lapar dapat menyebabkan kemarahan ekstrem pada seseorang. Mereka pun tak segan untuk meninggikan intonasi suaranya jauh lebih keras saat berbicara dengan pasangannya. 

Tak ada obat untuk mengobati atau meredakan amarah. Maka, cara terbaik menurut pemerintah Palestina adalah melarang adanya perceraian selama Ramadan.