AS Akui Tak Menang Perang Lawan Taliban di Afghanistan

AS Akui Tak Menang Perang Lawan Taliban di Afghanistan

Amerika Serikat (AS) tidak memenangkan perang melawan gerilyawan Taliban di Afghanistan. Pengakuan ini disampaikan Menteri Pertahanan AS James Norman Mattis kepada Senat.

AS Akui Tak Menang Perang Lawan Taliban di AfghanistanMattis berjanji akan memberi tahu anggota parlemen mengenai strategi perang yang baru pada pertengahan Juli nanti. Strategi ini diperkirakan akan melibatkan ribuan pasukan AS lagi untuk beperang.

Militer AS yang mendukung pasukan pemerintah Afghanistan secara tidak langsung terlibat perang Taliban. Perang tersebut sudah berlangsung selama 16 tahun terakhir dan belum ada titik penyelesaian atau mengalami jalan buntu.

”Kami tidak menang di Afghanistan saat ini dan kami akan memperbaikinya sesegera mungkin,” kata Mattis dalam kesaksian kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.

Beberapa pejabat AS mempertanyakan manfaat pengiriman lebih banyak tentara ke Afghanistan karena jumlah yang sesuai secara politis tidak akan cukup untuk mengubah situasi, terlebih menciptakan stabilitas dan keamanan di negara itu. Sampai saat ini, lebih dari 2.300 orang Amerika telah terbunuh dan lebih dari 17.000 terluka sejak perang dimulai pada tahun 2001.

Menurut militer AS, pemerintah Afghanistan mengendalikan hanya 59,7 persen dari 407 distrik di negara tersebut pada 20 Februari 2017, atau turun hampir 11 persen dari waktu yang sama pada tahun 2016. Data ini oleh Inspektur Jenderal Khusus AS Untuk Rekonstruksi Afghanistan.

Sebuah ledakan bom truk di Kabul bulan lalu yang menewaskan lebih dari 150 orang tercatat sebagai serangan paling mematikan di Ibu Kota Afghanistan sejak Taliban digulingkan pada 2001. Taliban digulingkan oleh pasukan koalisi pimpinan NATO setelah memerintah negara tersebut selama lima tahun.

Pada hari Sabtu lalu, tiga tentara AS terbunuh akibat ditembaki tentara Afghanistan di wilayah timur negara tersebut.

Senator AS, John McCain, menekan Mattis dalam situasi yang memburuk. Dia mengatakan bahwa AS memiliki kebutuhan yang mendesak untuk sebuah perubahan dalam strategi. 

”Serta peningkatan sumber daya jika kita ingin mengubah situasi,” katanya. ”Kami menyadari kebutuhan akan urgensi,” ujar Mattis, seperti dikutip Reuters, Rabu (14/6/2017).