Berita Serangan London dan Pergerakan Sel Tidur ISIS Saat Ramadan

Serangan London dan Pergerakan Sel Tidur ISIS Saat Ramadan

Saat Ramadan, ISIS terus intens melancarkan teror. Teror itu biasanya dilakukan oleh sel-sel tidur mereka yang sukar terdeteksi.

tirto.id - ISIS menyandang status sebagai kelompok teror paling berbahaya di dekade ini. Reputasi itu didapat berkat kehadiran para pejuang asing mereka. ISIS adalah kelompok teror yang sukses memancing ribuan pejuang asing untuk bergabung dan datang ke Irak dan Suriah, kemudian angkat senjata dan rela mati demi mereka.

Serangan London dan Pergerakan Sel Tidur ISIS Saat RamadanEstimasi Soyfan Group mencatat ada sekitar 27 ribu pejuang asing yang bertarung demi ISIS. Mereka yang datang itu bukan semata berasal dari negara-negara muslim macam Arab Saudi, Pakistan, Afghanistan atau Turki, tetapi juga berasal dari negara Barat seperti Jerman, Inggris, Perancis, Belgia, dan Amerika Serikat.

Kehadiran para jihadis asing ini membuat propaganda ISIS bisa mengalir deras dalam multi-bahasa. Kantor berita Amaq seringkali membuat rilisan propaganda dalam bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol. Para jihadis asing ini pun kerap membentuk jejaring baru di negara asalnya. Alhasil, sel-sel tidur ISIS tumbuh subur tidak hanya di Timur Tengah, namun juga di Eropa.

Serangan di London kemarin semakin menegaskan hal itu. Enam orang tewas dalam serangan terorisme di pusat kota London Sabtu (3/6/2017) malam. Sebuah mobil van menabraki orang-orang di London Bridge. Tak lama, di Borough Market terjadi penusukan oleh orang-orang yang tak dikenal. 

Serangan ini ditengarai dilakukan oleh para simpatisan ISIS. Pola serangan ini sama seperti saat kejadian serangan mematikan Bastile Day di Prancis dan pasar malam di Berlin pada 2016 silam. Sama seperti di London, kala itu pelaku teror menabrakkan truk ke kerumunan massa.

Beberapa jam sebelum kejadian, akun telegram yang terafiliasi dengan ISIS yakni Yaqeen Media menyebut aksi serangan baru akan dilakukan di London. Serangan ini merupakan rangkaian serangan masif di bulan Ramadan. 

"Hari ini kami melawanmu di negeri kami, serta besok di negerimu, dengan izin Allah. Tidak lama lagi, serangan dengan kendaraan bakal berlangsung di jalan-jalan kalian, dengan izin Allah. "

Dalam rilisian ini, mereka memunculkan gambar dengan kalimat ajakan: "Habisi mereka ditempat Anda temukan mereka, segera!".

Kota London adalah salah satu basis pengirim jihadis Inggris ke Irak dan Suriah. Data BBC mencatat dari 600-an jihadis Inggris yang "hijrah", 100 di antaranya berasal dari London. Analisis orang dalam intelijen Inggris kepada Telegraph memperkirakan hampir separuhnya Jihadis Inggris itu kini sudah pulang kembali. 

Direktur Intelijen Nasional AS James Clapper sudah memperingatkan bahwa sel-sel teror ISIS akan semakin masif beroperasi di Inggris. Perkiraan itu dipicu oleh makin tertutupnya celah di Eropa daratan seperti Jerman, Perancis dan Belgia yang semakin memperketat penjagaan.

Clapper menyebut ISIS sukses memanfaatkan celah "konflik mendasar" terkait pro-kontra pergerakan bebas orang di seluruh Uni Eropa. "Mereka memiliki sepuluh keuntungan pada tingkat tertentu dari krisis migran di Eropa, dan Inggris harus mewaspadai ini," ucap Clapper kepada Fox akhir April lalu. 

Mohamed Abrini, tersangka utama dalam serangan Paris dan Brussels, diyakini telah melakukan perjalanan dan melakukan kontak dengan sel tidur di Inggris pada musim panas lalu. Clapper mengatakan perlu adanya koordinasi lebih baik antara negara-negara Eropa untuk menangani serangan teror yang dilakukan oleh sel tidur ini. 

Pada bulan April lalu, SITE Inteligence Group menemukan bahwa ISIS telah menerbitkan buku panduan langkah demi langkah aksi teror bagi para simpatisan mereka di Inggris. Buku ditulis oleh sejumlah penulis berbeda. Isi buku ini mencakup instruksi dasar tentang cara menghapus jejak digital agar tidak terdeteksi.

Isi buku ini juga memberi petunjuk langkah demi langkah tentang cara mengirim pesan terenkripsi dan cara mengakses "darknet" yang difungsikan untuk meneliti dan merencanakan serangan. 

Bagi ISIS, Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan intensitas serangan teror. Pada 26 Mei lalu, dalam majalah resmi Rumayah, ISIS melansir edisi khusus yang mengajak simpatisannya lebih beringas pada bulan Ramadan kali ini. 

Segmen ini ditampilkan dalam artikel yang lebih panjang oleh juru bicara Abul-Hasan al-Mujahir. Namun, Muhajir tidak memaparkan secara rinci peningkatan serangan itu mesti dilakukan di mana. 

Serangan pada Ramadan ini lagi-lagi membuktikan bahwa ISIS tidak peduli dengan kesucian Ramadan. 

Sekadar informasi, tahun lalu Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa akan ada banyak serangan saat Ramadan. Hal itu terbukti betul. Pada Ramadan tahun lalu, ISIS melancarkan 14 serangan teror di AS, Asia, Afrika dan Timur Tengah yang menewaskan lebih dari 400 orang.